Sosok Rahwana dalam Tari Topeng Kelana Baksarai Ngedok - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

Tari_Topeng_Kelana_1200.jpg

Sosok Rahwana dalam Tari Topeng Kelana Baksarai Ngedok

Gerakan dalam tari ini cenderung energik dan bersemangat, tapi tetap memerlukan keluwesan untuk bisa mementaskannya.

Kesenian

Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali menciptakan tari topeng kelana. Dalam berbagai referensi, jejak tari bertopeng di Jawa kerap dikaitkan dengan masa Majapahit, terutama kisah Raja Hayam Wuruk yang disebut menari dengan topeng emas di lingkungan istana. Karena itu, Tari Topeng Cirebon sering dipahami sebagai tradisi yang memiliki akar panjang dalam budaya istana Jawa, sebelum kemudian berkembang kuat di wilayah Cirebon dan masyarakat pesisir.

Jejak tari bertopeng di Jawa kerap dikaitkan dengan masa Majapahit, terutama kisah Raja Hayam Wuruk yang disebut menari dengan topeng emas di lingkungan istana.

Dalam tradisi Topeng Cirebon, Klana merupakan salah satu karakter atau wanda penting, bersama Panji, Pamindo, Rumyang, dan Tumenggung. Karakter Klana dikenal gagah, kuat, atraktif, dan berenergi besar. Wataknya kerap dimaknai sebagai gambaran manusia yang dikuasai amarah, keserakahan, hawa nafsu, dan keangkuhan. Karena itu, sosok Klana sering dibandingkan dengan figur seperti Rahwana dalam pewayangan, bukan semata sebagai tokoh cerita, tetapi sebagai lambang watak manusia yang perlu dikenali dan dikendalikan.

Sosok Klana sering dibandingkan dengan figur seperti Rahwana dalam pewayangan

Berdasarkan sumber tersebut, dahulu tari topeng kelana diyakini sebagai tari yang hanya dipentaskan di dalam lingkungan kerajaan. Tari ini dibawakan oleh raja dan hanya dipertontonkan kepada perempuan dalam lingkungan kerajaan, seperti para istri raja, mertua, hingga ipar perempuan raja. Karenanya, dahulu tari topeng kelana dinilai lebih bersifat spiritual daripada sebagai hiburan. Secara umum, tari topeng kelana terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian baksarai dan ngedok. Baksarai merupakan pementasan tari ketika belum mengenakan topeng, sedangkan ngedok merupakan bagian saat para penari sudah mengenakan topeng. Tari topeng kelana biasanya dipentaskan oleh laki-laki, tapi pakem tersebut telah berubah.

Sejalan dengan perkembangannya, kini perempuan juga banyak yang mementaskan tarian topeng kelana. Tari topeng kelana biasa dipentaskan oleh 4-6 orang penari. Gerakan dalam tari ini cenderung energik dan bersemangat, tapi tetap memerlukan keluwesan untuk bisa mementaskannya. Dilihat dari gerakan dan topeng yang dikenakan, tari ini merupakan penggambaran seseorang yang berperilaku buruk, serakah, arogan layaknya tokoh Rahwana dalam pewayangan.

Tari Topeng Cirebon telah tercatat di basis data Warisan Budaya Takbenda Kemendikbud.

Untuk diketahui, saat ini Tari Topeng Cirebon telah tercatat di basis data Warisan Budaya Takbenda Kemendikbud dengan SK No. 270/P/2014, domain Seni Pertunjukan, wilayah Kota Cirebon, Jawa Barat. Di Cirebon sendiri, tari ini hidup sebagai seni pertunjukan masyarakat, hadir dalam acara adat, hajatan, kegiatan pemerintahan, panggung budaya, hingga ruang pendidikan seni. Pementasannya dapat dilakukan secara tunggal maupun berkelompok, oleh penari laki-laki maupun perempuan, tergantung gaya, konteks, dan kebutuhan pertunjukan. Dengan iringan musik gojing yang meriah dan bersemangat, tari topeng kelana menjadi pementasan yang ciamik untuk ditonton.

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya