Bakdan Ning Sala Nonton Opera Ramayana "Gua Kiskenda"

Bakdan Ning Sala Nonton Opera Ramayana "Gua Kiskenda"

Tanggal : 18 Juni 2018 s/d
20 Juni 2018

Lokasi : Benteng Vastenburg, Solo

Opera Bakdan Ning Sala dengan lakon “Gua Kiskenda” merupakan adopsi dari cerita Ramayana melibatkan 100 seniman. Berbeda dengan pementasan wayang atau pertunjukan tari kolosal lainnya, pertunjukan Opera Bakdan Ning Sala dengan lakon “Gua Kiskenda”, akan menyuguhkan garap tari menggunakan dialog dan tembang. Gagasan konsep opera ini menitikberatkan pada garap gerak tari yang kekinian tanpa meninggalkan tradisi yang ada. Demikian juga dengan garap musik yang diracik dengan sedemikian rupa sehingga nuansa opera yang megah dan agung dapat dirasakan oleh penonton. Setting panggung akan digarap serealistis mungkin dengan bentuk kemegahan dengan menyesuaikan alur cerita yang dibutuhkan, sehingga penonton dapat merasakan ikut masuk dalam dunia garap opera. Selain itu kostum juga digarap serealis mungkin, sesuai dengan peran masing-masing tanpa meninggalkan tradisi yang ada.

Bakdan Ning Sala telah terselanggara sebanyak 3 kali dalam 3 tahun terakhir, dan momentumnya bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Event ini merupakan agenda tahunan Kota Surakarta dan selalu menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan domestik maupun mancanegara. Berikut adalah judul atau lakon yang pernah dipentaskan Anoman Obong (2015), Sang Anoman (2016), Rama Tambak - Kumbokarno Gugur (2017). Kegiatan yang juga didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation ini akan diselenggarakan pada tanggal 18 – 20 Juni 2018, di Benteng Vastenburg, Solo. Selain pertunjukan, juga akan diadakan bazzar kuliner dan merchandise yang dibuka mulai pukul 18.00 WIB.

Gua Kiskendo

Epos Ramayana adalah kisah yang luar biasa, di mana dalam cerita tersebut menempatkan manusia di alam semesta. Di dalam epos Ramayana secara hitam putih hubungan antara manusia dan semesta raya dibumbui dengan hadirnya makhluk raksasa dan makhluk kera. Makhluk raksasa menggambarkan kerakusan makhluk bumi untuk mengeksploitasi alam semesta dengan semena-mena. Sedangkan para kera atau wanara adalah makhluk yang selalu berusaha mencari kesempurnaan diri dengan menyatu pada alam semesta agar ia menjadi sempurna dan menjadi makhluk seperti manusia. Sebenarnya semesta raya ini sudah memberikan banyak hal yang cukup melimpah bagi semua makhluk yang mendiaminya. Manusialah sebagai makhluk sentral yang bertugas mengendalikan semuanya. Apakah ia akan terjatuh karena keserakahannya, ataukah akan bersatu dengan para kera dan menciptakan kedamaian di alam semesta? Sebagai contoh, karena Subali yang awalnya adalah manusia dan berubah menjadi kera, ketika bertapa ia menumpahkan seluruh cintanya kepada alam semesta raya, dan semesta raya membalasnya dengan memberikan berkah berupa Aji Pancasona.

Info lebih lanjut mengenai kegiatan ini, silahkan menghubungi panitia :

GITA : 0813 5338 8968