Indonesia Kaya App

Aplikasi untuk penikmat
budaya Indonesia

Unduh Gratis
"Celeng Oleng", Program Indonesia Kita Tahun 2019

"Celeng Oleng", Program Indonesia Kita Tahun 2019

Tanggal : 5 Juli 2019 s/d
6 Juli 2019

Lokasi : Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Program Indonesia Kita 2019 yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation hadir dengan mengangkat lakon berjudul "Celeng Oleng", yang akan digelar pada tanggal 5 – 6 Juli 2019, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Lakon Celeng Oleng
Celeng, sebutan untuk seekor babi hutan yang liar, besar dan bertaring. Dalam banyak kisah, Celeng sering digambarkan sebagai hewan yang menakutkan dan mistis.

Dalam lakon ini, Celeng menjadi pembicaraan dan kecemasan orang-orang kampung. Sebutannya, ‘Celeng Oleng’. Dengus nafasnya membuat udara menjadi panas dan mengundang hawa tegang. Orang-orang saling curiga dan mudah terpancing permusuhan.

Di suatu wilayah ada dua kampung dengan latar tradisi, sejarah dan karakter yang berbeda. Satu kampung dihuni orang Batak dan kampung lainnya dihuni orang Jawa. Warga kedua kampung ini bersikap salling bermusuhan dan ketakutan dengan adanya Celeng Oleng.

Konon kabarnya, Celeng Oleng mampu menghisap darah dan nyawa manusia. Bisa mencuri tanpa tertangkap karena uang dan bermacam-macam barang bisa tiba-tiba lenyap. Banyak kejadian aneh di wilayah dua kampung itu. Warganya saling curiga, "Jangan-jangan ada yang sengaja melepas celeng untuk menakuti penduduk dan membuat kacau?"

Ketika ada yang bermaksud baik mau menangkap Celeng Oleng, malah dituduh sebagai pemilik mahluk yang mengerikan itu. Ketika ada yang bermaksud mendamaikan kedua kampung yang bermusuhan itu, malah dianggap pencitraan karena ingin berkuasa.

Situasi kampung bertambah genting dengan adanya rencana penggusuran. Tawuran antar kampung sudah siap meledak, terutama karena dua peremuan dari dua kampung itu mendadak hilang. Apa sebenarnya yang terjadi?

Benarkah dua perempuan itu hilang karena digondol Celeng Oleng? Dengan sosok yang misterius dan menegangkan, apakah warga kampung memang sudah pernah benar-benar melihat wujud Celeng Oleng? Saksikan lakon Celeng Oleng  yang merupakan pentas ke 32 dari Panggung Indonesia Kita.

Program Indonesia Kita 2019
Jalan Kebudayaan Jalan Kemanusiaan

Pentas ke                  : 32
Judul Pentas              : Celeng Oleng
Jadwal                     : 2 kali pentas
                               Jumat, 5 Juli 2019 - Pukul 20.00 WIB
                               Sabtu, 6 Juli 2019 - Pukul 20.00 WIB
Venue                      : Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya 73, Jakarta.
Tim Kreatif                : Butet Kartaredjasa, Agus Noor, Djaduk Ferianto, Paulus Simangunsong,
Naskah & Sutradara      : Agus Noor
Penata Tari                : Josh Marcy
Penari                      : I-Move Project
Penata Musik             : Arie Pekar
Pemusik                   : Jakarta Street Music
Pemain                    : Cak Lontong, Akbar, Marwoto, Boris Bokir Manullang, Wisben, Joned, Meri Sinaga, OBAMA [Orang Batak Marlawak], Sri Krishna Encik, Sruti Respati, Christina Panjaitan, Febriati Nadira, Flora Simatupang & Andy Eswe.

HTM:
PLATINUM Rp. 750.000  | VVIP Rp. 500.00 | VIP Rp. 300.000  | BALKON Rp. 150.000

Reservasi Tiket:
www.kayan.co.id | www.blibli.com

Informasi:
Kayan Production & Communications
0895 3720 14902 | 0813 1163 0001

Tentang Program Indonesia Kita

Indonesia Kita mulai menggelar pertunjukan sejak tahun 2011, dan sejak itulah pentas-pentas yang diadakan menjadi "laboratorium kreatif" bagi berbagai seniman, baik lintas bidang, lintas kultural dan lintas generasi. Dari satu pentas ke pentas lainnya, pada akhirnya mengkristal menjadi sebuah ikhtiar untuk semakin memahami bagaimana proses "menjadi Indonesia".
Sebagai sebuah bangsa, Indonesia adalah sebuah "proses menjadi", yakni sebuah proses yang terus menerus diupayakan, proses yang tak pernah selesai, untuk mencapai apa yang menjadi cita-cita bersama, yaitu menjadi 'sebuah bangsa yang berkebudayaan’.

Indonesia Kita telah menjadi sebuah forum seni budaya yang bersifat terbuka, yang mempercayai jalan seni dan kebudayaan sebagai jalan yang sangat penting untuk mendukung 'proses menjadi Indonesia" itu. Terlebih-lebih ketika Indonesia hari ini seperti rentan dan penuh berbagai persoalan, maka merawat semangat ke-Indonesia-an menjadi sesuatu yang harus secara terus-menerus diupayakan.

Indonesia Kita yang secara berkala dan rutin diselenggarkan, pada akhirnya telah mampu meyakinkan penonton untuk melakukan apa yang seringkali disebut oleh Butet Kartaredjasa, sebagai "ibadah kebudayaan" yakni semangat untuk bersama-sama mendukung dan mengapresiasi karya seni budaya. Pentas-pentas Indonesia Kita mendapat apresiasi yang baik, tanggapan positif, dan mampu menjadi ruang interaksi tidak hanya antara seniman dan masyarakat penonton, melainkan juga antara penonton dan penonton. Sebuah komunitas kultural terbentuk, di mana penonton kemudian menghadiri pentas-pentas Indonesia Kita, sebagai wujud dari "ibadah kebudayaan".