"Doea Tanda Tjinta", Program Indonesia Kita Tahun 2016

"Doea Tanda Tjinta", Program Indonesia Kita Tahun 2016

Tanggal : 29 Juli 2016 s/d
30 Juli 2016

Lokasi : Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki

Kreativitas Butet Kartaredjasa, Agus Noor, dan Djaduk Ferianto di atas panggung sudah tidak perlu diragukan lagi. Ketiga pemrakarsa forum seni dan budaya yang dikenal dengan Indonesia Kita ini kembali mengangkat warisan Indonesia ke atas panggung dalam pementasan Doea Tanda Tjinta yang akan dipentaskan pada 29 dan 30 Juli 2016 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pentas Indonesia Kita ke-20 yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation ini mengambil warisan musikal keroncong dan menampilkan lagu-lagu keroncong yang diaransemen dengan gaya terbaru untuk dipersembahkan kepada masyarakat. Pentas yang menampilkan kolaborasi seniman ini akan memperkaya musikal keroncong dengan unsur-unsur perpaduan genre musik lainnya, seperti blues, rock sampai musik etnik.

Lakon Doea Tanda Tjinta merupakan cerita berlatar zaman pergerakan kemerdekaan, ketika gagasan tentang Indonesia merdeka menjadi ancaman bagi pemerintahan Hindia Belanda. Bagaimana para pemuda-pelajar pada saat itu mulai menyemai benih pemikiran tentang kemerdekaan, dan bagaimana persoalan-persoalan yang mereka hadapi, akan menjadi tema cerita dalam lakon ini.

Lakon ini adalah kisah seorang pemuda keturunan Belanda yang menjadi mata-mata dan mencoba mempengaruhi para pemuda, membujuk mereka agar terus mendukung pemerintahan Hindia Belanda. Lakon ini juga bercerita tentang kisah cinta seorang anak Nyai, yang berusaha mempertahankan keyakinan dan prinsipnya untuk lebih mendukung pergerakan Indonesia merdeka daripada ia harus menerima warisan papanya yang menetapkan syarat  memilih menjadi warga Hindia Belanda.

Antara cinta dan pergolakan pemikiran serta gagasan tentang kemerdekaan itu, menjadi dua alur yang paralel, saling berkaitan, dan akan menjadi sebuah kejutan di akhir kisah, ketika sebuah jam yang merupakan warisan anak Nyai itu mengungkap kisah sebenarnya.

Jalan cerita Doea Tanda Tjinta diiringi dengan lagu-lagu keroncong yang telah menjadi bagian penting dalam mengiringi proses pembentukan sejarah perjuangan bangsa, lagu-lagu yang legendaris tersebut dibawakan dengan sangat apik oleh para seniman keroncong dan Sinten Remen yang berkolaborasi dan menghasilkan pertunjukan yang menarik. Koreografer B. Kristiono Soewardjo yang sering terlibat dalam berbagai event baik di dalam maupun luar negeri ini juga terlibat secara langsung dalam mengarahkan tarian para pemain.

Pementasan ini juga didukung oleh Endah Laras, Heny Janawati, Olga Lydia, Merlyn Sopjan, Subardjo HS, Cak Lontong, Akbar, Marwoto, Susilo Nugroho, Trio GAM (Gareng, Joned, Wisben) dimana artistiknya ditangani oleh Ong Hari Wahyu dan Retno Ratih Damayanti.

Pementasan Doea Tanda Tjinta ini akan digelar pada Jumat dan Sabtu, 29 dan 30 Juli 2016 pukul 20.00 WIB di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Informasi dan reservasi tiket dapat menghubungi Kayan Production & Communication di 0838 9971 5725 / 0856 9342 7788 / 0813 1163 0001

HTM Doea Tanda Tjinta:
PLATINUM Rp 500.000
VVIP     Rp 300.000
VIP     Rp 200.000
BALKON     Rp 100.000

                                                                     ***
Sekilas Tentang “Heritage of Indonesia: Dari Warisan Menjadi Wawasan”
Indonesia Kita pada tahun 2016 akan mengolah tema “Heritage of Indonesia: Dari Warisan Menjadi Wawasan”. Tidak bisa dipungkiri, Indonesia dilimpahi banyak warisan karya budaya. Sudah pasti, apa yang disebut “warisan” itu tidak hanya sebatas artefak, benda-benda, peninggalan lama, situs, atau hal-hal yang hanya bersifat “fisik”. Apa yang disebut “warisan” itu juga sebuah semangat dan nilai-nilai, yang terus diolah dan dikembangkan oleh para pelaku kesenian dan kebudayaan.

Kekayaan warisan seperti candi-candi, lontar, karya-karya yang telah menjadi adiluhung, sampai keragaman corat kerajinan, tarian dan bentuk ekspresi kesenian lainnya, adalah sebuah anugerah tak ternilai. Anugerah itu sekaligus juga menjadi tantangan, karena bila ia hanya diterima sebagai warisan yang statis, maka warisan itu bisa kehilangan kemampuannya merefleksikan persoalan kemanusiaan, dan berhenti sebagai klangenan atau sesuatu yang bersifat romantis. Karena itu “warisan mesti bisa menjadi wawasan”; menjadi sesuatu yang terus menerus membuka horison imajinasi dan peluang-peluang penciptaan.

Kebudayaan akan menjadi inspirasi bila ia membuka wawasan bagi masyarakat pendukungnya. Dan sebuah wawasan yang baik, selalu tumbuh dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, itulah kontinuitas kebudayaan. Dalam konteks itulah, “warisan dan wawasan” menjadi sesuatu yang menyatu, dua keping dari satu mata uang, tak terpisahkan.

Sekilas Tentang Indonesia Kita
Indonesia Kita mulai menggelar pertunjukan sejak tahun 2011, dan sejak itulah pentas-pentas yang diadakan menjadi “laboratorium kreatif” bagi berbagai seniman, baik lintas bidang, lintas kultural dan lintas generasi. Dari satu pentas ke pentas lainnya, pada akhirnya mengkristal menjadi sebuah ikhtiar untuk semakin memahami bagaimana proses “menjadi Indonesia”.

Sebagai sebuah bangsa, Indonesia adalah sebuah “proses menjadi”, yakni sebuah proses yang terus menerus diupayakan, proses yang tak pernah selesai, untuk mencapai apa yang menjadi cita-cita bersama, yaitu menjadi 'sebuah bangsa yang berkebudayaan’.

Indonesia Kita telah menjadi sebuah forum seni budaya yang bersifat terbuka, yang mempercayai jalan seni dan kebudayaan sebagai jalan yang sangat penting untuk mendukung 'proses menjadi Indonesia” itu. Terlebih-lebih ketika Indonesia hari ini seperti rentan dan penuh berbagai persoalan, maka merawat semangat ke-Indonesia-an menjadi sesuatu yang harus secara terus-menerus diupayakan.

Indonesia Kita yang secara berkala dan rutin diselenggarkan, pada akhirnya telah mampu meyakinkan penonton untuk melakukan apa yang seringkali disebut oleh Butet Kartaredjasa, sebagai “ibadah kebudayaan” yakni semangat untuk bersama-sama mendukung dan mengapresiasi karya seni budaya. Pentas-pentas Indonesia Kita mendapat apresiasi yang baik, tanggapan positif, dan mampu menjadi ruang interaksi tidak hanya antara seniman dan masyarakat penonton, melainkan juga antara penonton dan penonton. Sebuah komunitas kultural terbentuk, di mana penonton kemudian menghadiri pentas-pentas Indonesia Kita, sebagai wujud dari “ibadah kebudayaan”.

Jangan Kapok Menjadi Indonesia.