FORUM APRESIASI SASTRA DAN BUDAYA KUDUS (FASBuK) edisi Januari 2014 "GUYON"

FORUM APRESIASI SASTRA DAN BUDAYA KUDUS (FASBuK) edisi Januari 2014 "GUYON"

Tanggal : 29 Januari 2014 s/d
30 November -0001

Lokasi : Auditorium Universitas Muria Kudus

Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK) yang di dukung Bakti Budaya Djarum Foundation dan bekerja sama dengan Seni Kampus (SEKAM) Universitas Muria Kudus kembali menggelar lawatan rutin sastra dan budaya, dan untuk kali ini menampilkan Pagelaran Musik dan Sastra Jawa yang bertajuk “GUYON (Geguritan lan Uyon-uyon )” di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis PO. BOX 53 Bae Kudus hari Rabu, 29 Januari 2014, mulai pukul 19.00 WIB.

GUYON “Geguritan lan Uyon-uyon”

Perjalanan kehidupan manusia menuju titik yang menyebabkan dirinya disebut sebagai ‘makhluk berbudaya’ melewati beberapa fase yang kemudian terus bergerak dan berkembang seiring dengan perjalanan semesta itu sendiri. Pemahaman manusia terhadap kenyataan alam semesta yang indah, memunculkan rasa untuk mewujudkan atau mencipta bentuk keindahan dalam ruang yang lain. Proses perwujudan keindahan ini, dilakukan dengan jalan kontemplasi dan cara-cara penghayatan yang dimiliki. ‘Kontemplasi’ adalah suatu proses perenungan mendalam atau berfikir penuh untuk mencari nilai-nilai, makna, manfaat dan tujuan suatu hasil penciptaan. Pengertian tersebut bersumber pada berbagai kenyataan dalam kehidupan sehari-hari yang hakikatnya selalu menghendaki perubahan. Manusia memahami kebutuhan keindahan ini tidak hanya semata – mata bagi dirinya sendiri, namun juga diperuntukkan bagi ‘kekuatan lain’ diluar dirinya. Agar terdapat keselarasan antara ‘alam’ sebagai penyedia bahan kebutuhan dengan manusia yang memanfaatkannya, maka ‘alam’ juga dipandang layak untuk diberikan persembahan akan hal-hal yang bersifat keindahan sebagai rasa timbal balik. Dalam tindakannya, berwujud pada hasil karya atau cipta seni yang diperolehnya melalui persepsi terhadap fenomena kebudayaan. Hasil karya atau cipta seni tersebut berkembang menjadi cabang – cabang kesenian sesuai dengan bentuk yang diciptakan dan media yang dipergunakan.

Kesenian rakyat (tradisi) tumbuh pada tingkatan bawah (grass-root) sebagai perwujudan eksistensi dengan akses yang terbatas dan dicirikan dengan kesederhanaan. Fenomena yang dapat ditangkap dari perkembangan kesenian rakyat (tradisional) dapat dikatakan sangat memprihatinkan ketika harus berhadapan dengan semakin merasuknya kebudayaan populer yang bersifat instan, pragmatis dan hedonis. Hal ini menjadi persoalan tersendiri jika dikaitkan dengan nilai-nilai moral masyarakat setempat dan membuat situasi semakin runyam tatkala masyarakatnya sendiri justru tidak memiliki sikap untuk turut menjaga dan melestarikan (nguri-uri) kesenian yang memang kelahirannya berasal dari tanah sendiri. Kekuatan “budaya asing” yang memberikan iming-iming berupa kenikmatan, glamouritas dan bertendensi pada propaganda modernitas sangat kuat mencengkeram masyarakat untuk merelakan dirinya terseret arus.

Dengan demikian, kebudayaan tradisional yang merupakan identitas yang kita miliki dan warisan para leluhur makin memudar, bahkan menghilang. Akibatnya generasi yang terlahir adalah generasi rapuh moralitas, minim nalar dan selalu tergiur dengan keglamouran hidup serta sikap instan. Sebuah krisis jatidiri bangsa ini akan selalu tumbuh dan berkembang seiring dengan pesatnya arus modernisasi dan globalisasi yang menerjang negeri ini, sehingga faham-faham konsumerisme, pragmatisisme, liberalisme, materialisme, kapitalisme dan hedonisme yang berasal dari dunia barat akan selalu meracuni masyarakat negeri ini. Keadaan ini disebabkan oleh kenyataan bahwa tidak dimaknainya secara benar tentang sistem nilai, wawasan hidup dan sikap yang berlaku di masyarakat selama ini dan tidak ditumbuhkembangkan di dalam batin, pilar-pilar kebudayaan itu dalam diri setiap anggota masyarakat negeri ini.

Menyikapi hal tersebut, sebagai upaya perenungan, sikap dan kelanjutan atas tindakan adalah : sebagai anak zaman yang selalu tumbuh dan berkembang memang tak dapat serta merta menolak arus kebudayaan yang masuk sebagai konsekuensi global, tetapi sebagai anak bangsa sudah semestinya melakukan filter agar tak tercerabut dari akar kebudayaan sendiri sebagai identitas diri. Salah satunya adalah Sebuah Pagelaran Musik dan Sastra Jawa ini, yang kami beri tajuk “GUYON (Geguritan lan Uyon – uyon)”.

Geguritan adalah puisi berbahasa jawa, sementara Uyon – uyon adalah pagelaran musik (tetabuhan) dengan irama gendhing - gending Jawa. Sebuah pagelaran yang dikemas secara entertaint untuk lebih mengena apresian namun tidak meninggalkan sisi - sisi (ruh kebudayaan) tradisinya. Geguritan akan dibacakan oleh anak usia Sekolah Dasar yaitu : Chasya Dinda Sabraina dan Ika Aprilia Sari, Sementara Seniman tradisi Senior yang sekaligus Kepala Seksi Seni, Budaya, Tradisi dan Bahasa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus akan melantunkan tembang – tembang Jawa (macapat) nan indah dan tidak kalah menariknya musisi – musisi muda karawitan alumnus ISI Solo berasal dari Kudus yang menamakan kelompoknya SASONGKO ini, akan memberikan tetabuhan gending jawa dengan irama musik tradional yang dinamis dan kontemporer menjadikan pagelaran ini semakin komplit dan menarik.

Sekilas tentang Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FASBuK)

FASBuK yang di deklarasikan sejak tahun 2010 adalah sekumpulan masyarakat yang mengedepankan aktifitas sosialnya pada nilai-nilai estetika dengan melakukan berbagai kegiatan kesusastraan dan kesenian yang darinya diharapkan tumbuh nilai-nilai kesadaran manusia sehingga tercipta keseimbangan fisik dan mental dalam menjalani kehidupan berkebudayaan.

FASBuK adalah ruang kerja fisik dan pemikiran secara continue untuk mencipta inovasi serta varian-varian sebuah paket kemasan kegiatan dalam bidang kesusasteraan dan kesenian lokal yang nantinya mampu menjadi asset atas keberagaman kebudayaan nasional dan dekat masyarakatnya sehingga tercapai ruang bersama untuk saling berbagi, bertukar pikiran, demi sebuah cita-cita luhur tumbuhnya nilai-nilai kesadaran manusia yang berbudaya.

Secara rutin tiap bulannya FASBuK menggelar acara Sastra dan Seni Budaya yang meliputi Apresiasi sastra, Sarasehan Budaya, Pertunjukan Musik, Tari dan Pementasan Drama/Teater dsb. Acara tersebut di gelar di berbagai tempat kantong-kantong Budaya di Kudus.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kegiatan ini, silahkan menghubungi :

Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (FasBuk)
Ketua Badan Pekerja FASBuK : Ahmad Safrudin
No. Hp : +62 857 1821 8632
Email : fasbuk2@gmail.com, mophet_sk@ymail.com