Indonesia Kita Tahun 2015,"Datuk Bagindo Presiden"

Indonesia Kita Tahun 2015,"Datuk Bagindo Presiden"

Tanggal : 28 Agustus 2015 s/d
29 Agustus 2015

Lokasi : Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Program pementasan Indonesia Kita, yang didukung Djarum Apresiasi Budaya, kembali akan hadir dengan lakon Datuk Bagindo Presiden yang akan dilaksanakan pada 28-29 Agustus 2015 mendatang di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Laskar Dagelan, Beta Maluku, Kartolo Mbalelo, Mak Jogi, Kutukan Kudungga, Kadal Nguntal Negoro, Jogja Broadway “Apel I’m in love”, Kabayan Jadi Presiden, Maling Kondang, Nyonya-nyonya Istana, Orde Omdo, Matinya Sang Maestro, Roman Made In Bali, Semar Mendem, Tabib Dari Timur dan Sinden Republik, adalah sederet pementasan yang telah terlebih dahulu dipertunjukan dalam program Indonesia Kita.

Program Indonesia Kita edisi ke-17, kali ini bertandang ke ranah Minang. Melalui jalan kebudayaan, kita mengenang dan meminang Minang untuk Indonesia hari ini. Mengenang Minang tak bisa dilepaskan dari ingatan kita pada para tokoh Nasional di zaman perjuangan kemerdekaan, bahkan hingga sekarang. Dari Minang muncul tokoh-tokoh yang sangat Nasionalis, seperti Bung Hatta, Sjahrir, Agus Salim, Buya Hamka, dan di masa sekarang adalah Buya Syafiie Maarif. Mereka adalah sosok Nasionalis, yang memiliki sikap kebangsaan kuat, meski pun juga dikenal sebagai tokoh yang kuat secara religi.

Ada akar kultural yang kuat dalam tokoh-tokoh itu, yang tumbuh dalam tradisi pendidikan agama, tetapi justru tumbuh menjadi para pemimpin yang menghargai sikap kebangsaan dalam konteks pluralisme di Indonesia. Inilah tema dasar yang ingin diingatkan kembali: kita ingin meminang kembali para cendikiawan dan budayawan Minang, agar kembali berada dibarisan terdepan membangun wawasan kebangsaan, ketika puritanisme dan radikalisme saat ini terasa semakin menjadi gejala yang kuat.

Aktor dan aktris senior, serta beberapa musisi yang berdarah Minang ikut terlibat dalam karya ini, mereka mempunyai semangat yang kuat untuk ikut menyampaikan pesan dan harapan dari pementasan dalam lakon Datuk Bagindo Presiden. Jajang C. Noer, Lukman Sardi, Nirina Zubir. M. Fadhli Wayoik, Buset, rapper Tomy Bollin, pedendang Melayu Titis Silvia, Rancak Voice dan Sa’andiko akan berkolaborasi dan beradu akting dengan komedian Cak Lontong, Akbar serta Trio GAM. Tidak kalah pula Ian Antono sebagai gitaris rock yang legendaris akan berkolaborasi dengan komposer Yaser Arafat. Sebagai koreografer tari berdarah Minang Alfiyanto akan berdialog dan mengungkapkan perasaan, maksud serta pikirannya melalui gerak tubuh. Kolaborasi semua elemen pertunjukan akan memperkuat dan mempertegas pementasan ini.

Tentang Datuk Bagindo Presiden

Harapan baru muncul ketika seorang Presiden dari Minang muncul. Ia memenangkan pemilihan, karena dicintai rakyat. Ia memang dikenal jujur dan sederhana. Tapi persoalan dalam politik rupanya tidak sesederhana yang ia sangka, karena ia dikelilingi bermacam kepentingan. Para staf kabinet, para menteri, dan birokrat yang ada disekitarnya, ternyata membawa kepentingannya masing-masing.

Pada suatu kesempatan, Presiden ini pulang kampung. Karena ingin bertemu ibunya. Ia disambut meriah, semua bangga, tetapi ibunya menyambut dengan biasa dan sederhana. “Saya sudah jadi Presiden, mak” katanya. Ah, jadi sekarang gelarmu Presiden? Mestinya kalau gelar itu ya mesti panjang, jangan cuma Presiden. Apa hebatnya kalau cuman bergelar Presiden, mestinya kau bergelar Datuk Bagindo Presiden. Sejak itulah ia dikenal dengan gelarnya itu.

Saat pulang kampung itulah, Datuk Bagindo Presiden mulai melihat banyak kenyataan pahit, kampungnya yang masih terbelakang, kemiskinan dan banyak persoalan sosial. Ternyata, selama ini, program yang dijalankan tidak pernah berhasil karena selalu diselewengkan oleh bawahannya. Maka Presiden pun tak sekedar blususkan, tapi menyamar seperti dulu yang dilakukan Khalifah Umar Bin Khatab: datang langsung ke rakyatnya, menanyakan persoalan hidup mereka, lalu menyelesaikannya. Semua itu dilakukan dengan menyamar.

Apa yang dilakukan Datuk Bagindo Presiden mencemaskan orang-orang disekelilingnya yang korup. Mereka pun berusaha menghentikan kegiatan menyamar itu, melakukan banyak intrik, agar kegiatan menyamar itu tidak berhasil membantu rakyat. Mampukah seorang yang jujur dan punya niat tulus seperti Datuk Bagindo Presiden berada di tengah-tengah lingkungan yang korup? itulah pertanyaan dasar dari pertunjukan ini, yang mencoba memotret perjuangan moral di tengah sistem dan lingkungan yang telah sedemikian korup.

Pementasan “Datuk Bagindo Presiden” akan digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Jumat s/d Sabtu, 28-29 Agustus 2015, mulai pukul. 20.00 WIB.

Untuk informasi lebih lanjut dan pemesanan tiket dapat dilakukan melalui:

Tiket :
PLATINUM Rp. 500.000, VVIP Rp. 300.000, VIP Rp. 200.000
BALKON Rp. 100.000

Reservasi:
Kayan Production & Communication:
0838 9971 5725 / 0856 9342 7788
www.kayan.co.id
@infoKAYAN

Sekilas tentang Indonesia Kita
Sejak tahun 2011, Indonesia Kita tercatat rutin mengadakan pertunjukan antara lain Laskar Dagelan, Beta Maluku, Kartolo Mbalelo, Mak Jogi, Kutukan Kudungga, Kadal Nguntal Negara, Kabayan Jadi Presiden, Maling Kondang, Nyonya-Nyonya Stana, Orde Omde, dan masih banyak lagi. Dalam pentas-pentas tersebut ikut mendukung Glenn Fredly, Sujiwo Tejo, Kill The DJ, Didi Petet (alm), Hanung Bramantyo, Oppie Andariesta, Nirina Zubir, dan masih banyak lagi. Di tahun 2014 lalu, Indonesia Kita menggelar tiga pementasan, Matinya Sang Maestro, Roman Made In Bali dan Semar Mendem yang menampilkan para seniman tradisi hingga kontemporer, seperti Cak Kartolo, Didik Nini Thowok, Balawan, I Made Sidia, Ayu Laksmi dan Jogja Hip-hop Foundation.

Pentas-pentas Indonesia Kita selalu menjadi sebuah upaya menyampaikan gagasan perihal keberagaman dan kebersamaan tentang Indonesia. Pentas menjadi sebuah jalan artistik dan kebudayaan, untuk menumbuhkan sikap toleran dan menghargai keberagaman, hingga Indonesia bisa menjadi “rumah bersama”. Terlebih-lebih ketika Indonesia hari ini seperti rentan dan penuh berbagai persoalan. Pelbagai kerusuhan dan ketimpangan sosial, gejala-gejala intoleransi kehidupan yang kian rentan dan gampang meledak, ketidakadilan dan persolan hukum dan merosotnya etika politik, menjadi campur aduk: menimbulkan banyak persoalan yang pada tingkat tertentu membuat banyak orang mempertanyakan kembali perihal ke-Indonesia-an yang pernah dan ingin dicita-citakan bersama.

Melalui pentas-pentas itulah Indonesia Kita yang meengangkat kekayaan dan kekuatan etnis, sekaligus modernitas yang berlangsung dalam masyarakat,  Indonesia Kita mendorong tumbuhnya sikap saling memahami, sikap membuka diri sebagai dialog dan keberagaman. Melalui pentas-pentas itulah, ke-Indonesia-an coba didialogkan kembali, diekspresikan kembali, agar semangat berbangsa dan bernegara selalu aktual dan semakin menumbuhkan keberagaman.