Jejak Asa Sang Dewi

Jejak Asa Sang Dewi

Tanggal : 28 Juni 2013 s/d
30 November -0001

Lokasi : Gedung Kesenian Jakarta

Swargaloka bekerjasama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation mempersembahkan sebuah penyajian pertunjukan yang merupakan representasi seni klasik, seni rakyat dengan sentuhan populis tentang perjuangan kesenimanan seorang seniman Indonesia bersuara emas dari desa menjadi penari di istana negara hingga keliling dunia. Pertunjukan ini merupakan perjalanan berkesenian dan menjadi media ungkap dimana semua kegelisahan kreatif tertumpah dalam berjuang untuk hidup dan menghidupi seni tradisi.

Baginya seni tradisi adalah nafas yang harus berhembus seiring dengan berjalannya waktu dan dinamika kehidupan. Baginya seni tradisi adalah sumber inspirasi untuk selalu berkarya meneruskan kelestariannya. Lestari bukan sesuatu yang berhenti, tetapi bernafas bahkan bergolak namun tak tercabut dari akarnya. Kelebat selendang dan alunan suara lantang harus tetap didengar oleh generasi. Setidaknya asa itu masih terjaga !!!.

Pertunjukan kali ini merupakan penampilan Swargaloka yang tidak saja menyajikan The Indonesian Opera Drama Wayang Swargaloka, namun lebih dari itu. Karya ini didukung oleh 150 seniman tari & music dari ISI Yogyakarta dan ISI Surakarta. Menampilkan Slamet Gundono, Mugiono Kasido & Aylawati dengan komposer maestro gamelan Dedek Wahyudi dan 5 (lima) orang koreografer muda yang kreatif ; Rury Afianti, Hendro Yulianto, Trian Heri Pitoyo, Yani Wulandari dan Bathara Saverigadi Dewandoro ( penerima REKOR DUNIA Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai penata tari tradisional jawa termuda) dengan pimpinan artistic Tri Irianto, di sutradarai Irwan Riyadi dan penataan panggung yang eksentrik oleh Agus Linduaji.

Kurangnya apresiasi masyarakat terhadap seni tradisi menjadi latar belakang dari munculnya gagasan membuat konser “JEJAK ASA SANG DEWI”. Sebuah konser yang menggambarkan  perjalanan karier seorang gadis desa dari tengah hutan belantara yang mempunyai cita-cita dan harapan agar bangsa Indonesia menghargai budayanya.

Saksikan : Jumat 28 Juni 2013 pukul 19.30 wib, di  Gedung Kesenian Jakarta.

Informasi Tiket :

Sdr. Nindya Ratri : 021 9825 2722 atau HP.  0852 1342 8145

www.swargaloka1706.blogspot.com | www.dramawayang.wordpress.com

Facebook : Swargaloka   Twitter : @swargalokers


PERJALANAN SENI DEWI SULASTRI


Berawal dari mengenal seni suara Tembang Jawa dari Ki Sutrisno pada umur 10 tahun ketika masih duduk di bangku kelas IV SD tahun 1976 di sebuah desa yang berada di tengah-tengah hutan Jati dan perkebunan Karet yakni desa Bumiharjo kecamatan Keling Kabupaten Jepara. Dewi cucu dalang terkenal Ki Mustajab  mengawali karir menjadi pesinden  ketika duduk dibangku kelas VI Sekolah Dasar. Pesinden kecil itu sering pentas keliling mengikuti dalang-dalang laris di Kabupeten Jepara hingga lulus SMP. 

Dewi  bertekat meningkatkan bakat seni yang dimiliki dengan melanjutkan Sekolah Seni di SMKI Surakarta. Di Sekolah tersebut Dewi menetapkan jurusan tari sebagai pilihan studinya meskipun seni suara tidak ia tinggalkan. Perpaduan kemampuan antara seni suara dan seni tari  inilah yang menjadikan Dewi Sulastri mempunyai kemampuan yang berbeda dari siswa yang lain hingga selalu terpilih untuk mewakili sekolah pada berbagai acara. Tidak hanya dibangku sekolah Dewi belajar kesenian tetapi ia juga tekun mengikuti berbagai aktivitas pelatihan seni diantaranya belajar Wayang Orang  dari dalang terkenal Ki Anom Suroto yang sering mementaskan Wayang Orang yang diprogamkan oleh Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). 

Selepas dari SMKI Dewi melanjutkan studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengambil progam studi Komposisi Tari. Dibangku kuliah ini Dewi dituntut tidak hanya sebagai penari namun harus dapat menciptakan tari dan memproduksi pertunjukan. Bebarapa karya tari lahir dari proses studi bahkan beberapa karya diabadikan oleh perusahaan rekaman PT. Ira Record untuk disebar luaskan.  Di Yogyakarta Dewi mulai mengenal beragam seni dan berbagai tokoh seniman dari seni tari, musik, teater dan film. Dewi terlibat dalam beberapa produksi sinetron TVRI dan Film antara lain ; Trah, “Tayub” bersama Gito Rolies dan Teledrama Angkring TVRI Yogyakarta. Dewi terlibat dalam bebarapa karya Didik Nini Thowok dan yang sangat mengesankan pernah diajak ngamen di sepanjang Malioboro untuk menentramkan masyarakat di kawasan Malioboro yang saat itu dalam situasi memanas.  

Di Yogyakarta Dewi giat menghidupkan karya-karya seni yang memadukan unsur tari dan tembang. Dewi terlibat dalam beberapa produksi sinetron dan Teledarama TVRI Yogyakarta anatara lain ; “Tayub” bersama Gito Rolis, “Trah” dan “Angkringan”. Melalui Yayasan Puspo Warno pimpinan Hersapandi Projo Pandito, Dewi membantu manghidupkan kembali kesenian Langen Beksan Banjaransari di Puro Paku Alam. Dewi ikut mendukung beberapa kelompok seni yang berusaha menggiatkan Lengen Mandra Wanaran bahkan hingga pentas ke luar negeri diantaranya ke Perancis bersama tokoh-tokoh tari Yogyakarta antara lain  S. Kardjono dan Maryono.

Berbagai lomba dan festival seni menjadi ajang untuk mengasah ketrampilan Dewi dalam olah seni. Dari ajang seni tersebut Dewi memperoleh penghargaan antara lain ; Sebagai Sutradara Terbaik Festival Sendratari Se-Propinsi DIY, Sutradara Terbaik Festival Wayang Orang Indonesia I dan tiga kali berturut-turut memperolah penghargaan sebagai Pemain Terbaik Wanita pada Festival Wayang Orang Indonesia II, III dan IV. 

Tahun 1997 Dewi hijrah ke Jakarta atas undangan Jenderal Manajer TMII Bapak Sampurno untuk memperkuat Tim Kesenian Pelangi Nusantara. Bersama Tim Kesenian Pelangi Nusantara Dewi mendapatkan kesempatan ikut misi kesenian ke berbagai negara dan menjadi penari di Istana Negara untuk menjamu tamu-tamu negara. Selain di dunia tari Dewi Sulastri juga digaet oleh Yayasan Samiaji yang didirikan Bapak Erman Suparno dan dikomandani pelawak Timbul untuk mendukung Ketoprak Humor di RCTI. Juga diajak oleh Mamik Prakosa untuk memperkuat Gelatak-Geletik Campursari di TVRI Jakarta yang dimotori oleh Ibu BR Ay Moeryati Sudibyo. Oleh Ibu Nani Soedarsono, Dewi dijadikan bintang Wayang Orang Sekar Budaya Nusantara yang secara rutin disiarkan oleh TVRI pusat Jakarta. 

Di Jakarta Dewi banyak melahirkan karya-karya tari bernuansa Bedoyo. Diantaranya Bedoyo Dewi Sri yang ia ciptakan karena keprihatinannya pada situasi bangsa yang carut marut dan dilanda berbagai bencana pada tahun 2003.  Kini Dewi yang bersama-sama seniman wayang orang yang diangkat oleh Pemerintah sebagai Pegawai Negeri Kementerian Kebudayaan Pariwisata, melalui Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENA WANGI) mempunyai tugas khusus untuk melestarikan wayang, giat mengembangkan Wayang Orang untuk generasi muda. Melalui Yayasan Swargaloka, Dewi mengemas wayang orang dalam wujud Drama Wayang Swargaloka yang kini telah berjalan selama 8 tahun dan menghasilkan 60 judul cerita.