Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong "Opak Progo Wis Nyawiji"

Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong "Opak Progo Wis Nyawiji"

Tanggal : 26 Desember 2014 s/d
27 Desember 2014

Lokasi : Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta

Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong Yogyakarta akan menggelar pertunjukan berjudul Opak Progo Wis Nyawiji di Concert Hall Taman Budaya Jogja yang beralamatkan di jalan Sriwedari No 1, pada tanggal 26 hingga 27 Desember 2014.

Sinopsis :
Warga desa takut pada Lurah Talpaka yang membujuk bahkan mengancam agar mereka bersedia menjadi tenaga romusha. Mereka lalu mencari perlindungan pada tokoh masyarakat di sekutar desa itu, seperti Nindita maupun Baswara akan berbicara baik-baik pada Lurah Talpaka dan meminta masyarakat berlindung pada RM Caraka, sementara Nindita akan memaksa Lurah Talpaka mengundurkan diri dari jabatannya.

Di sisi lain, ternyata Lurah Talpaka dan Srigati, anaknya mengalami ketakutan juga. Keduanya takut diancam Nindita yang bertindak atas nama masyarakat yang akan dikorbankan menjadi romusha. Raga Digdaya yang anaknya telah dijerumuskan menjadi tenaga romusha dan penjajah Jepang yang selalu menentukan target jumlah tenaga romusha. Keduanya pun berusaha minta perlindungan RM Caraka.

Berbagai kepentingan di atas terjadi secara bersamaan, ditengah kesulitan ekonomi, banyaknya pencurian dan korban romusha. Rakyat menjadi resah. Persoalan sepele yang seharusnya gampang diselesaikan pun berubah menjadi persoalan besar. Rakyat hanya pasrah, menuggu datangnya jaman bahagia yang ditandai bersatunya Sungai Opak dan Sungai Progo.

Melihat situasi yang buruk tersebut Sultan Hamengku Buwono IX berinisiatif memperbaikinya. Ia melakukan pendekatan pada pemerintah Jepang. Secara cerdik ia menyampaikan bahwa Yogyakarta ingin membantu Jepang untuk menguasai Asia. Bantuan itu berwujud logistik maupun tenaga. Persoalannya, keinginan tersebut tidak mungkin dilaksanakan sekarang, karena Yogyakarta yang lahan pertaniannya luas dan subur, tetapi hasil panennya sedikit karena tidak ada irigasi yang baik. Gizi masyarakat pun buruk. Artinya tenaga kerja pun kurang baik.

Tanpa mengadakan penelitian, pemerintah Jepang percaya pada Sultan Hamengku Buwono IX, sehingga untuk sementara waktu masyarakat Yogyakarta dibebaskan dari kewajiban menjadi romusha dan diberi bantuan untuk membuat selokan dari sungai Progo ke sungai Opak yang akan memakmurkan masyarakat.

Rakyat dengan gembira membuat selokan. Pada saat selokan selesai dibuat, terdengarlah pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Rakyat semakin percaya bahwa jaman bahagia sudah dekat.

Tiba-tiba tersiar berita bahwa Lurah Talpaka dipaksa mengundurkan diri. Pilihan lurah digelar. Nindita dan Baswara bersaing merebut kududukan lurah. Baswara dapat memenangkan pemilihan lurah. Ternyata Nindita tidak legawa. Bersama para pengikutnya, ia berusaha menguasai Badan Permusyawaratan Desa dengan tujuan mendikte semua kebijakan lurah. Rakyat kembali cemas. Opak Progo wis nyawiji, tetapi kenapa jaman bahagia itu belum juga datang juga?

Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong “Opak Progo Wis Nyawiji” yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation ini menampilkan para pemain, antara lain : Marwoto Kawer, Ngatirah, Susilo Nugroho, Soimah, Rini Widyastuti, serta masih banyak lagi aktor dan aktris panggung lainnya.

Informasi kegiatan :
Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong Djogjakarta
Sekretariat : Pajeksan GT 1/622 Yogyakarta.
Nicky Nazaready, S.Pd. 085878400606