Konser Musik "Nyanyian Bangsa"

Konser Musik "Nyanyian Bangsa"

Tanggal : 27 Oktober 2015

Lokasi : Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Sebuah ekspresi pentas musik yang tidak biasa didedikasikan untuk jiwa semangat ” Sumpah Pemuda “. Sebuah konsep budaya yang sangat tinggi telah dikumandangkan untuk mengisi kesadaran kebangsaan setiap insan Indonesia. Semangat itulah yang menjadi roh sebagai tema utama dalam hajatan ini.

”Nyanyian Bangsa” adalah judul dari pementasan spektakuler ini, akan dipresentasikan oleh ” Kelompok Kampungan ” Bram Makahekum dari Yogyakarta, Karyanya akan dikumandangkan juga oleh legenda musik Indonesia : Iwan Fals.

Pementasan “Nyanyian Bangsa” yang didukung juga oleh Bakti Budaya Djarum Foundation ini akan diselenggarakan pada tanggal 27 dan 28 Oktober 2015 tepat di hari Sumpah Pemuda. Dikumandangkan dari pukul 20.00 – 22.00 WIB bertempat di Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Sekilas Mengenai Kelompok Kampungan,

Nama Kampungan kami pakai karena bagaimanapun juga kami berasal dari kampung, kesenian kami bertolak dari rasa kepedulian dalam menanggapi lingkungan yang mengelilingi dan melibatkan dalam permasalahan hidup sehari-hari dan juga merupakan pengejawantahan sikap yang dapat memberi kata kunci untuk menghindari standar relationship yang artifisial.

Sehingga semua pintu dimensi kehidupan dapat dimasuki tanpa harus dibebani kaidah-kaidah yang akan membatasinya. Tetapi bukan berarti tidak memiliki daya adaptif terhadap nilai-nilai budaya yang sedang berlaku. Lebih dari itu ia adalah kemampuan terhadap terbangunnya kepercayaan yang dapat diekspresikan tanpa harus meminjam simbol-simbol yang bukan miliknya.

Di tahun 1976 sampai sekitar paruh tahun 1980-an Bram Makahekum dengan Kelaompok Kampungan-nya tidak asing di kalangan anak-anak muda kampus, bahkan sering menjadi bahan diskusi di berbagai aktifitas kampus. Kemudian ada produser dari Akurama Record, perusahaan nasional yang diawal berdirinya mengusung jargon “Warna Baru”, menawarkan rekaman. Maka, lahirlah sebuah album berjudul MEREKA MENCARI TUHAN. Album ini membuat kelompok Kampungan semakin dikenal luas dan dianggap sebagai simbol “seni perlawanan” terhadap kemapanan dan dianggap pula sebagai penggagas dalam memahami kesenian musik secara lebih bebas dan tidak dibatasi bingkai sebutan musik rock, jazz, klasik dan lain-lain. Sekaligus telah memberikan identitas ke-Indonesia-an tanpa harus berada di belakang musik Barat maupun musik tradisional.

Pada dekade tersebut pemerintah Orde Baru dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto yang otoriter sangat represif terhadap hal-hal kritis yang tidak sesuai dengan selera kebijakan mereka. Pertunjukan Kelompok Kampungan sering dihentikan ditengah jalan oleh aparat. Izin pertunjukan dipersulit, piringan hitam serta kaset tidak boleh diputar di TVRI, RRI dan radio-radio amatir swasta. Musik Kelompok Kampungan terhambat perkembangannya.

“Namun,…”, jelas WS Rendra kepada wartawan media cetak saat itu : Daya hidup manusia menolak ditundukan. Dengan bergerilya Bram tampil di setiap ada kesempatan. Itulah survival Kelompok Kampungan. ” Akhirnya sambutan hangat datang dari kalangan alternatif. Tahun 1999, berhasil direkam ulang dengan label Kelompok Kampungan BUNG KARNO MILIK RAKYAT oleh perusahaan Harpa Musika Record, Jakarta. Pada acara peluncuran album ini WS Rendra hadir sebagai narasumber dari kreativitas Bram Makahekum sebagai salah satu anggota senior di Bengkel Teater. Bagi Bram, Bengkel Teater adalah universitas kehidupan tempat belajar hidup, tanggap terhadap kehidupan permasalahan bangsa, manusia, kemanusiaan, mengelola daya hidup dan daya cipta dalam rangka menjaga dan membela kehidupan.

Di awal reformasi, 1998, nama Bung Karno terangkat lagi, demikian pula lagu “Bung Karno” Kelompok Kampungan mendapat perhatian masyarakat yang sedang bersemangat membuat reformasi baru. Bram tampil di berbagai panggung sambil bercuap-cuap tentang paradigma Trisakti yang disampaikan Bung Karno pada pidato kenegaraan 17 Agustus 1964.

Dalam perjalanan perubahan politik dan ketatenegaraan selama tiga dekade tersebut Kelompok Musik Kampungan sering diminta masuk partai politik dan ikut berkampanye dengan tawaran-tawaran menggiurkan. Namun, karena ingin tetap diposisi bebas dalam membela kehidupan tanpa dibebani amanat-amanat parsial yang berkotak-kotak semua tawaran semacam itu tak diindakannya.

Untuk bisa mendengar lagu-lagu Kelompok Kampungan bisa Klik

http://bit.ly/KelompokKampungan

Informasi tiket Konser “Nyanyian Bangsa” :

http://bit.ly/TiketNyanyianBangsa

Atau bisa menghubungi :

Amie : 0813 1935 1935
Yudi : 0815 1935 1935
Hemma : 0857 1935 1935
Untung : 021-9735 9735