Menjelajah Mahakarya Sri Sultan Hamengku Buwono

Menjelajah Mahakarya Sri Sultan Hamengku Buwono

Tanggal : 15 November 2012 s/d
30 November -0001

Lokasi : Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat bekerjasama dengan Gala Budaya World Performance, Pengelola Gedung Kesenian Wayang Orang Bharata, serta didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, menyelenggarakan sebuah pementasan megah berjudul “MENJELAJAH MAHAKARYA SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO”, pada tanggal 15 – 16 November 2012, pukul 20.00 WIB, di Teater Jakarta – Taman Ismail Marzuki. Sebuah pergelaran yang sakral, religious, megah, dan  Agung dengan menampilkan sekitar 100 (Seratus) penari keraton, gamelan pusaka Kyai Madumurti dan Kyai Madusari.

Harga tiket pertunjukan mulai dari Rp. 200.000,- sampai Rp. 750.000,-. Untuk informasi mengenai tiket pertunjukan silahkan hubungi  Agie : 021 9735 9735 atau Maya : 0899 9005 409

“MENJELAJAH MAHAKARYA SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO”, akan menampilkan :

1. SRIMPI PANDHELORI, Karya Sri Sultan Hamengku Buwono X

Srimpi merupakan salah satu tari istana, sebagai pusaka keraton, dulunya tarian ini dianggap sakral, tidak sembarang waktu dipentaskan. Akan tetapiseiring dengan perjalanan waktu, Tari Srimpi ini dapat dipentaskan kapanpun dan tidak harus di dalam tembok istana. Tari Srimpi Pandhelori merupakan salah satu dari genre Srimpi yang ada di Keraton Yogyakarta, yang biasanya ditarikan oleh 4 orang penari, dengan tata rias dan busana yang sama, dan postur tubuh penari yang sama pula. Berbeda dengan Tari Srimpi lain yang menggunakan kisah dari epos Mahabharata, Tari Srimpi ni mengambil kisah dan cerita Menak (dari Arab) yang menggambarkan pertempuran antara Dewi Sirtupelaili dan Dewi Sudarawerti, untuk memperebutkan Wong Agung Menak (Jayengrana). Sebagai tarian istana, Srimpi menuntut bebagai persyaratan yang sulit untuk mencapai tataran penyajian estetika yang tinggi.

2. BEKSAN LAWUNG AGENG, Karya Sri Sultan Hamengku Buwono I

Lawung adalah tumbak tumpul yang digunakan untuk latihan perang. Nama property itu digunakan sebagai nama tarian yang disebut dengan Beksan Lawung. Beksan  ini karya besar Sri Sultan Hamengku Buwana I. Tarian ini menggambarkan latihan perang prajurit kraton yang tergabung dalam korps . prajurit Trunojoyo. Dengan ragam gerak gagah yang dinamis, tarian ini nampak agung dan berwibawa. Tarian ini dibawakan  16 orang penari yang terdiri atas 2 botoh, 4 pengampil, 4 jajar, 4 lurah dan 2 salaotho.

3. KONSER GENDHING WESTMINSTER, Karya Sri Sultan Hamengku Buwono VII

4. PERGELARAN WAYANG WONG HARJUNAWIWAHA

Karya Sri Sultan Hamengku Buwono I Harjunawiwaha menceritakan kisah satria Pandawa bernama Harjuna ketika bertapa di Indrakila. Godaan dan cobaan terus datang, namun tetap Harjuna yang saat bertapa berganti nama Suciptoning itu tetap mampu mengalahkan godaan. Pada akhirnya Ciptoning dapat disadarkan oleh Betara Indro, karena keperluan  untuk menyelamatkan Kahyangan Suralaya yang mendapat  ancaman Prabu Newatakaca.

Semua dewa tidak ada yang mampu mengalahkan Newatakaca raja Ngimantaka. Akhirnya Ciptoning maju dan menghadapi Newatakaca. Atas strategi Kresna, Ciptoning baru dapat mengalahkan Newatacaka dengan senjata pasopati. Maka Ciptoning oleh Betara Guru diberi anugerah widodari Kahyangan yakni Dewi Supraba. Kemenangan itu  disambut dengan pesta di kahyangan,  maka cerita ini disebut dengan Harjunawiwaha.