Indonesia Kaya App

Aplikasi untuk penikmat
budaya Indonesia

Unduh Gratis
Online Streaming Pertunjukan Till There Was You, Jagongan Wagen Edisi Oktober 2020

Online Streaming Pertunjukan Till There Was You, Jagongan Wagen Edisi Oktober 2020

Tanggal : 25 Oktober 2020

Lokasi : Youtube Indonesia Kaya

Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation (BBDF) kembali mempersembahkan Jagongan Wagen (JW) edisi kedelapan tahun ini dalam format alih wahana digital. Proses fasilitasi ruang kreatif keproduksian alih media dan sajian karya telah terlaksana sejak akhir September di kompleks art center PSBK dengan menyertakan protokol kesehatan penyelenggaraan kegiatan. Jagongan Wagen menampilkan premiere karya baru ini di portal YouTube Media PSBK pada Jumat, 23 Oktober 2020 pukul 19:30 WIB bagi penonton yang teregistrasi di www.psbk.or.id. Selanjutnya secara perdana terbuka umum di portal YouTube IndonesiaKaya yang dapat diakses pada Minggu, 25 Oktober 2020 mulai pukul 19:30 WIB. Penayangan Jagongan Wagen juga disertai dengan adanya Closed Caption bagi audiens dengan difabilitas.

Terinspirasi dari sebuah judul lagu dari The Beatles, pertunjukan oleh Dinar Roos ini hadir dengan judul yang sama yaitu Till There Was You. Lagu milik The Beatles tersebut menceritakan seseorang yang menemukan hidupnya lebih berwarna ketika bertemu dengan seseorang lainnya. Dalam pertunjukan ini, Dinar menerjemahkan seseorang yang lain itu adalah dirinya sendiri (tokoh Wajah)  dalam bentuk pantulan (tokoh Cermin) dan bayangan (tokoh Bayangan). Pembicaraannya dengan pantulan dan bayangannya itu membuatnya kembali memaknai tentang dualitas yang hadir dalam dirinya. Dirinya yang lain yang begitu bertolak belakang. Ia juga kembali memaknai terkait relasi-relasi sederhana yang hadir dalam kehidupan sehari-hari dan kemudian merefleksikannya.

Berbicara dengan diri sendiri bisa jadi menjadi hal biasa bagi setiap orang yang pernah melakukannya. Banyak yang berupa renungan, namun tak sedikit pula yang gerundelan. Dengan cepat laku tersebut didefinisikan sebagai yang domestik, namun jika mau melambat sedikit, ia bisa saja merupakan cerminan dari yang publik. Sudah jamak diketahui, bahwa apa yang berlangsung di dalam diri, tak pernah bisa dipisahkan dari kondisi di luarnya. Misalnya, tentang yang tidak boleh dan boleh. Hukum mayoritas menjadi ukuran yang seakan paling pasti, paling benar, seharusnya diikuti, dan seringkali mengaburkan kuasa atas diri sendiri. Bahwa Adat Mawa Cara (setiap adat punya caranya sendiri-sendiri) tidak pernah punya gagasan membebaskan diri sebagai individu berwenang melakukan apapun sesuai caranya sendiri saja, namun juga menyesuaikan cara yang disepakati sebagai sebuah adat.

Pertunjukan ini menghadirkan cuplikan pembicaran atas ketabuan, pelabelan, kesenjangan, dan tatapan dikotak-kotakkan, yang sengaja dipilih Dinar Roos sebagai resapan atas konstruksi suatu masyarakat tentang apa yang selama ini dibentuk dan kemudian membentuk seseorang. Sebagai peraih Hibah Seni PSBK 2020, ia menarasikan hal tersebut dengan mengadegankan dialog-dialog yang terbangun di ruang intim, yang diinginkan untuk dibuka dan diperdengarkan ke luar pada waktu yang bersamaan. Suara-suara yang didialogkan terdengar seperti ‘gangguan’ atas apa yang sejak lama diamini, namun ingin ditawar kembali.