Pentas monolog "Perempuan Dangdut"

Pentas monolog "Perempuan Dangdut"

Tanggal : 25 November 2016

Lokasi : NuArt Sculpture Park Bandung

Pentas monolog “Perempuan Dangdut” memberi karakter berbeda pada aktris Happy Salma. Ia tampak lebih ringan, suka nyeplos kalau berbicara seakan tanpa beban, sedikit suka bergosip, lembek, tetapi bercita-cita teguh menjadi diva dangdut apa pun caranya. Karakter ini sangat berlawanan dengan tokoh-tokoh yang dimainkan Happy selama ini, yang cenderung berat, serius, tangguh, dan aristokrat. Liza Sasya adalah gadis polos dari pantai utara (Pantura) Jawa, yang merantau hidup di pinggiran Jakarta atas bujukan seorang anggota dewan. Ia bersedia menjadi istri simpanan dengan imbalan janji sebuah album dangdut. Tetapi sampai dua tahun album itu tak pernah terwujud. Liza bahkan harus tinggal di kos-kosan sempit, jauh dari bayangannya tinggal di apartemen mewah, sebagaimana pula dulu pernah dijanjikan.  Tetapi ia terlanjur bersedia mengikuti alur permainan Wagiyo Tirtohadikusumo, sang anggota dewan itu.

Konsep pemanggungan “Perempuan Dangdut” mengambil konser-konser dangdut di kota-kota pinggiran, di mana konser itu lebih menyerupai wahana untuk memperoleh hiburan secara bersama-sama. Sangat biasa terjadi saat-saat biduan dangdut mendendangkan lagu, para lelaki turut berjoget dan memberi saweran berupa uang sampai berjuta-juta.

Happy akan memerankan gadis dangdut pinggiran, yang selama ini lebih mengandalkan goyangan dari pada kualitas bernyanyinya. Karakter Liza yang dimainkan Happy, mengidolakan diva-diva dangdut seperti Inul Daratista, Iis Dahlia, Ayu Tingting, dan Cita Citata, yang sukses di panggung dangdut nasional. Para diva ini tak hanya sukses karena kemampuannya menghibur penonton, tetapi juga sukses dalam hidupnya karena menikah atau berpacaran dengan pejabat atau anaknya. Itulah sebenarnya tujuan hidup Liza. Ia ingin membahagiakan orangtuanya serta mengharumkan nama desanya. Waktu berangkat meraih cita-cita ke Jakarta, kepala desa, ustadz, dan ibunya, menitipkan pesan-pesan agar tidak pulang kalau belum sukses.

Konsep ini menuntut Happy agar mampu menyanyikan lagu-lagu dangdut, setidaknya yang sedang digemari di kalangan penyuka lagu-lagu yang identik dengan kalangan bawah itu.  

Naskah monolog “Perempuan Dangdut” ditulis dan disutradarai oleh Putu Fajar Arcana. Monolog ini sebenarnya fragmen hidup dari tokoh Liza Sasya yang pernah disatukan dalam naskah monolog “3Perempuanku: Bukan Bunga Bukan Lelaki” yang pernah dipentaskan tahun 2014. Waktu itu Putu menyatukan bintang-bintang kawakan seperti Inayah Wahid, Olga Lydia, dan Happy Salma. Ia bahkan meminta gitaris Dewa Budjana untuk mengisi musiknya.

“Perempuan Dangdut” akan dipentaskan: Jumat, 25 November 2016 pukul 20.00 di NuArt Sculpture Park Bandung. Pentas ini dipersembahkan oleh Arcana Foundation bersama Bakti Budaya Djarum Foundation dan NuArt Sculpture Park. Pementasan di Bandung memberi inspirasi kepada Happy Salma untuk mengadaptasi karakter Liza menjadi gadis Sunda pinggiran, yang hidup sepanjang garis Pantura.

Contact Person:
Joan Arcana (Arcana Foundation)
Selular Phone/WA: +6281226933232
Ratih (NuArt Sculpture Park)
Selular Phone/WA: +6281394219227