Persembahan Padnecwara Mempersembahkan "Dewabrata"

Persembahan Padnecwara Mempersembahkan "Dewabrata"

Tanggal : 27 April 2018 s/d
28 April 2018

Lokasi : Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Tahun 2018 merupakan tahun ke-42 bagi Padneçwara, kelompok kesenian yang setia pada seni tradisional, khususnya Tari Jawa, yang dipimpin oleh Retno Maruti. Sejak hadirnya Padneçwara di tahun 1976 yang diawali dengan pertunjukan “Damarwulan”, hingga kini Padneçwara senantiasa menampilkan karya baru maupun karya yang dipentaskan ulang untuk dipersembahkan kepada Indonesia, khususnya para penikmat seni tradisional.
 
Bentuk langendrian (kesenian Jawa yang berbentuk drama tari) yang menjadi salah satu ke-khas-an pertunjukan tari oleh Padneçwara, selalu menjadi daya tarik tersendiri, di samping kekuatan karya Retno Maruti dalam mengemas kisah-kisah yang berakar dari dunia pewayangan maupun legenda, serta gemulai para penari pilihan. Sejumlah karya master piece Retno Maruti yang telah dipergelarkan antara lain: Abimanyu Gugur (karya tahun 1976), Roro Mendut (1977), Sekar Pembayun (1979), Dewabrata (1997), Bedoyo Legong Calon Arang (2006) – yang merupakan kolaborasi Retno Maruti dengan Bulan Trisna Djelantik, Kidung Dandaka (2017).

Di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 27 – 28 April 2018 Padneçwara yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation akan kembali hadir mempersembahkan “Dewabrata”. Keistimewaan pementasan kali ini terletak antara lain nuansa baru yang dihadirkan, yakni pada paduan gaya tari Yogyakarta dan Surakarta, serta penataan gending yang ditata ulang Blacius Subono.

Tampil dalam pertunjukan kali ini Penata tari oleh Bambang Pudjaswara dan Rury Nostalgia, didukung para penari antara lain: Wahyu Santoso Prabawa, Wasi Bantolo, Retno Maruti, Rury Nostalgia, Yuni Swandiati, Indrawati, Nungki Kusumastuti, Yekti Tri Wahyuni, RM Kristiadi, Daryono, Widodo K., Anter Asmorotejo, Mahesani Tunjung Seto, dan Yestriyanto, dll.

Sinopsis karya Dewabrata:

Durgandini menerima lamaran Sentanu, hanya dengan syarat jika nanti anak dari pernikahan mereka lahir, maka tahta Hastina harus menjadi haknya. Tentu saja Sentanu terkejut dan sedih. Calon penerus raja sudah ditentukan: Dewabrata. Tak mungkin Sentanu mengubah tatanan begitu saja.

Menghadapi Dewabrata yang beranjak remaja sangat menghormati dan sayang pada ayahnya. Dia berhasil membuat ayahnya sembuh dan bahkan, akhirnya, menikahi Durgandini. Dewabrata bersumpah bahwa tahta Hastina akan dia serahkan kepada adik-adiknya yang lahir dari rahim Durgandini. Bukan hanya itu, demi menjaga ucapannya, Dewabrata juga bersumpah tidak akan menikah seumur hidupnya.

Bakti Dewabrata tidak hanya sampai di situ, bahkan ketika adik-adik yang lahir dari Durgandini siap menikah, dialah yang memasuki sayembara, mencarikan istri bagi keduanya. Di negeri Kasipura, Dewabrata memenangkan sayembara putri dengan mengalahkkan dua raksasa Wahmuka-Arimuka. Dewabrata memboyong 3 putri Kasipura: Amba, Ambika, Ambalika.

Ambika-Ambalika mau dinikahkan dengan adik-adik Dewabrata: Citrawirya-Citrasena. Akan tetapi, Amba menolak, karena hatinya terpaut pada Dewabrata: gagah, dan pemenang sayembara.  Sebetulnya, saat itu Dewabrata pun jatuh cinta pada Amba. Namun, dia seperti diingatkan akan sumpah setianya sendiri yang tidak akan menikah seumur hidup. Panik, sedih, marah, entah apalagi, sampai-sampai Dewabrata lepas kendali. Tanpa sengaja, anak panah yang dimaksudkan menakut-nakuti Amba agar segera naik kereta ke Hastina, ternyata lepas dari busurnya. Amba mati.

Ketika di Bharatayuda, Amba akan meragasukma pada Srikandi-istri Arjuna, dan menjemput Dewabrata ke surga.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Yully Purwanti : 0816 1371 181