Pertunjukan Seni Tradisi Ludruk Berjudul "Ken Dedes, Cinta Yang Terlarang"

Pertunjukan Seni Tradisi Ludruk Berjudul "Ken Dedes, Cinta Yang Terlarang"

Tanggal : 28 Maret 2017

Lokasi : Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Paguyuban Genaro Ngalam didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation akan mengadakan pagelaran ludruk dengan judul “Ken Dedes, Cinta Yang Terlarang” pada tanggal 28 Maret 2017, bertempat di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pentas kali ini menampilkan Ludruk kekinian yang alur cerita, dialog dan gaya pementasan akan dibawakan secara guyon Malang-an di era Kota Malang tahun 60 – 70 an. Pementasan ini membawa pesan moral yang relevan dengan situasi saat ini dan didukung dengan teknologi digital. Dengan konsep tersebut diharapkan pementasan kali ini akan bisa merangkul penonton dari masyarakat lebih luas, termasuk para generasi muda agar tumbuh ketertarikan terhadap kesenian Ludruk.

Mengenal IKA SMARI AGITMA (Ikatan Alumni SMA Negeri 3 Malang) Ikatan alumni ini merupakan wadah bagi para alumni SMA Negeri 3 Malang, anggotanya adalah para alumni sejak angkatan 1950-an hingga 2000-an. Para alumni berkarya di berbagai bidang, misalnya: Kementerian Negara, Bank, Instasi BUMN, Swasta atau menjadi pengusaha di bidang keahlianya.

Semenjak tahun 1985 oleh beberapa senior mantan siswa dan mahasiswa yang pernah belajar dan tinggal di kota Malang dan saat ini bermukim di Jakarta dibentuklah Paguyuban GENARO NGALAM (GN) sebagai suatu paguyuban nirlaba dan non politik. Tujuannya adalah sebagai wadah silaturahmi dan bertukar informasi dalam guyub dan rukun, sehingga akan mampu mengadakan kegiatan bersama yang lebih kompleks lintas alumni sebagai sesama alumni Pelajar dan Mahasiswa dari kota Malang.

Dalam perjalanannya, ikatan alumni IKA SMARI AGITMA berusaha untuk secara berkala mengadakan berbagai kegiatan baik pengabdian masyarakat, bhakti sosial, maupun kegiatan pelestarian budaya. Pada hari Selasa, 28 Maret 2017 ini akan dipentaskan lagi Ludruk sebagai kesenian drama tradisional khas dari Jawa Timur, tujuan utama dari pementasan ini adalah untuk turut melestarikan Ludruk sebagai salah satu warisan seni budaya dan juga untuk secara berkesinambungan memperkenalkannya kepada generasi yang lebih muda.

Mengapa LUDRUK? Di masa penjajahan, berbagai kegiatan seni dijadikan sarana perjuangan oleh rakyat Indonesia, termasuk salah satanya adalah Ludruk. Kata LUDRUK sendiri sebenarnya berasal dari Bahasa Belanda, yaitu: LEUK yang berarti bagus atau indah dan DRUK yang berarti sibuk, ramai atau padat. Pementasan LUDRUK bisanya merupakan cerita rakyat sehari-hari yang diselingi dengan lawakan bahkan kritik sosial. Di masa penjajahan, pementasan Ludruk di berbagai daerah dan pelosok dikemas dengan guyonan dan kalimat-kalimat terselubung sebagai sarana untuk menyampaikan pesan dari para Pejuang kepada rakyat, atau dari satu kelompok pejuang gerilya kepada kelompok pejuang lainnya. Terkadang para pejuang gerilya bergabung dalam kelompok kesenian ludruk sehingga dapat masuk ke daerah yang masih dikuasai penjajah. Pementasan Ludruk dilakukan secara berpindah-pindah tempat, di masa lalu tidak ada wanita yang menjadi pemeran ludruk, sehingga karakter wanita-pun diperankan oleh laki-laki.

Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini, silahkan menghubungi panitia : 0819 3215 8010