Pertunjukan Teater Gandrik Berjudul "Tangsis"

Pertunjukan Teater Gandrik Berjudul "Tangsis"

Tanggal : 11 Februari 2015 s/d
12 Februari 2015

Lokasi : Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta

Teater Gandrik merupakan salah satu kelompok teater kontemporer ternama dan legendaris Indonesia yang mampu mengolah bentuk dan spirit teater tradisional dengan gaya pemanggungan modern. Kelompok yang beranggotakan seniman Indonesia seperti Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto dan Susilo Nugroho ini semakin eksis di dunia seni pertunjukan nasional hingga kini. Didukung Djarum Apresiasi Budaya, Teater Gandrik kembali menampilkan lakon terbarunya di atas panggung dengan judul Tangis. Pementasan ini akan berlangsung di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 11 – 12 Februari 2015 dan di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta pada tanggal 20 – 21 Februari 2015 mendatang.

Teater Gandrik, dengan semangat guyon pari keno, mengkritik dengan guyonan yang mencerdaskan dan ditampilkan dalam pementasan Tangis kali ini. Di samping mendapat inspirasi dari peristiwa mutahir yang terjadi di republik ini, Tangis juga merupakan adonan baru dua naskah akhir tahun 1980an karya alm. Heru Kesawa Murti, yaitu Tangis dan Juragan Abiyoso.

Dari bentuk pemanggungan (artistik), pertunjukan kali ini menghadirkan pilihan baru. Tangis yang mulanya diinisiasi sebagai pertunjukan dramatic reading, seperti menemukan jalannya sendiri sebagai teater rakyat yang interaktif. Tidak sekedar menuntut tepuk tangan dan celetukan penonton yang tergerak karena disentil tema pertunjukan, namun penonton dipaksa terlibat di dalam masalahnya. Di belahan lain bumi, bentuk-bentuk macam ini disebut sebagai “Teater Penyadaran” yang dipopulerkan oleh Augusto Boal. Tentu saja Gandrik tidak bepretensi mengadopsi Boal, namun semata-mata menyusuri perilaku kreatif. Dan Teater Gandrik sungguh berbahagia jika para penonton dan penikmat seni, yang adalah bagian penting dari seni pertunjukan Indonesia, menjadi saksi pencarian organik ini.

Pementasan ini berkisah tentang Sumir, atau hantu Sumir, yang menghantui setiap denyut perusahaan Batik Abiyoso. Konon, ia yang bukan siapa-siapa, tiba-tiba meroket kariernya. Namun lenyap seketika sejak memimpin demo buruh batik. Tak ada yang tahu kemana perginya, atau barangkali sengaja dihilangkan.

Sementara itu, perusahan Batik Abiyoso semakin hari semakin terpuruk karena praktek ngemplang  para pemesan, yang tak lain adalah kaki-tangan partai dan perpanjangan tangan korupsi di pemerintahan. Batik-batik pesanan urung dibayar, padahal hutang di bank telah menumpuk untuk membiayai proses produksi. Praktek ini terus berulang dan perusahaan Batik Abiyoso tak kunjung kapok. Namun, memang begitulah rantai korupsi, sambung-menyambung sulit diputus, dilakukan secara terstruktur-masif-terencana.

Tragedi besarpun terjadi ketika Pak Muspro, sahabat Juragan Abiyoso, kepala pemasaran perusahaan Batik Abiyoso ditemukan gantung diri. Perusahaan batikpun goyah, cerita-cerita lalu dan rahasia perusahaan yang telah lama terpendam bermunculan. Kematian Pak Muspro menggelar dengan gamblang rapuhnya perusahaan batik dan kejelekan Juragan Abiyoso. Mental para buruh jatuh dan mengutil di setiap ada kesempatan, mandor Siwuh menjadi penjilat yang piawai, dan keuangan perusahaan amburadul tidak karuan.

Pangajap, anak Juragan Abiyoso, yang hobinya kelayaban dan bersenang-senang tidak peduli dengan apa yang terjadi. Dia hanya tahu bahwa dia berhak atas jabatan yang ditinggalkan Pak Muspro. Drama ‘Tangis’ pun dimulai, demi mendapatkan jabatan, Pangajab membuat persekongkolan untuk memperburuk kinerja perusahaan yang sudah dipegang oleh Prasojo, anak almarhum Pak Muspro. Ia membuang harga dirinya dengan berlatih menangis, menjadikan tangis sebagai senjata ampuh menyentuh hati ayahnya. Dibantu Siwuh, Pangajab melaksanakan seluruh rencananya itu.

Namun sebelum semua hal terwujud, Juragan Abiyoso meninggal dalam kekecewaan dan ketakutan masa lalu. Sedangkan Ibu Abiyoso menjadi gila dan Pangajab masuk penjara karena membunuh teman persengkokolannya. Perusahaan batik ambruk, dan yang tersisa hanyalah tangis. Dan Sumir, atau hantu Sumir, muncul kembali dalam tangis, sebab ia baru menyadari bahwa Pak Dulang, ayah angkatnya, telah menanamkan benih dendam pada Juragan Abiyoso sejak Sumir masih bayi.

Tangis akan dipentaskan di Concert hall, Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 11-12 Februari 2015  pada pukul 20.00-22.30 WIB dan pementasan kedua akan diadakan di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki pada tanggal 20-21 Februari 2015, pukul 20.00-22.30 WIB.

Informasi dan pembelian tiket :

YOGYAKARTA

Tempat        :    Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta
Tgl.              :    11-12 Febuari 2015
Pkl.              :    20.00-22.30 WIB
Tiket            :    PLATINUM (Rp. 200.000), VVIP (Rp. 150.000),
                        VIP (Rp. 100.000), LESEHAN (Rp. 75.000),
                       FESTIVAL I (Rp.50.000), FESTIVAL II (Rp. 40.000)
Reservasi   :    0856 4243 3555, 0878 3883 5758,
                        ars.manage@gmail
                        www.arsmanagement.co.id (on line)
                       Tiket Box di tempatpertunjukan

JAKARTA

Tempat       :    Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM)
Tgl.             :    20-21 Febuari 2015
Pkl.             :    20.00-22.30 WIB
Tiket           :    PLATINUM (Rp. 500.000), GOLD (Rp. 300.000),
                       WING (Rp. 200.000), BALKON (Rp. 100.000)
Reservasi    :    0856 9342 77 88, 0838 9971 5725
                        Tiket Box di tempat pertunjukan