PUNTADEWA "Satria Pinandita"

PUNTADEWA "Satria Pinandita"

Tanggal : 20 April 2014 s/d
30 November -0001

Lokasi : Teater Wayang Indonesia Gd. Pewayangan Kautaman. Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta

Peristiwa transtruktural (Perubahan Budaya) sangat berpengaruh terhadap perkembangan seni tradisi khususnya wayang. Budaya Global membuat masyarakat semakin terbuka. Masyarakat disuguhi begitu beragam tawaran hiburan dan informasi yang mungkin lebih menarik dibandingkan dengan kesenian tradisional. Oleh karena itu perlu perspektif baru agar kesenian tradisi dapat tumbuh sejalan dengan kesenian populer. Inilah yang di ikhtiarkan oleh Swargaloka melalui pergelaran demi pergelaran The Indonesian Opera Drama Wayang Swargaloka. Pertunjukan kali ini menampilkan cerita PUNTADEWA “SATRIA PINANDITA” yang akan dipentaskan pada Minggu 20 April 2014 di Teater Wayang Indonesia Gedung Pewayangan Kautaman TMII, pada pukul 15.30 WIB.

Dalam wujud seni pertunjukan wayang orang kemasan baru kolaborasi wayang orang, wayang kulit, teater modern serta menggunakan dialog bahasa Indonesia dengan keindahan gerak tari yang dipadukan olah sabet wayang diiringi musik gamelan yang digarap lebih populer yang diberi sentuhan musik modern.

Menjelang PEMILU, Swargaloka menampilkan cerita PUNTADEWA “Satria Pinandita”, menceritakan tentang kisah seorang ksatria berbudi luhur yang dikenal juga sebagai anak Dewa pendarma , yang bernama Bathara Dharma. Puntadewa dianggap tokoh baik, berwatak putih suci, berbudi halus, sabar, berbelas kasih, setia, tidak mau mengecewakan orang lain, dan tulus ikhlas memberikan kepunyaannya kepada orang lain yang membutuhkan.

Puntadewa dipersiapkan menjadi raja. Namun sayang, Pandu Dewanata wafat ketika ke lima anak-anaknya masih kecil, sehingga untuk sementara negara Astinapura di titipkan kepada kakak Pandu yang bernama Destarasta, dengan janji bahwa nanti setelah Pandawa dewasa Kerajaan Astinapura akan diserahkan kepada Puntadewa. Namun janji tersebut tidak pernah ditepati. Buktinya, setelah Puntadewa dan ke empat adiknya dewasa, para kurawa yang didalangi Patih Sengkuni mencoba membunuh mereka dengan cara menjebaknya dalam sebuah rumah dan membakarnya hidup-hidup.  

Beberapa tahun kemudian, ada berita bahwa Puntadewa, Kunthi dan keempat adiknya masih hidup dan bahkan saat ini mereka sedang merayakan perkawinan Puntadewa dengan Dewi Drupadi di Negara Pancala. Agar Para Pandawa tidak merebut tahta Hastina, Destarastra menyarankan kepada Duryudana untuk memanggil mereka dan memberikan tanah kepada Puntadewa sebagai pengganti bumi Hastina. Tanah tersebut berupa hutan yang bernama Wanamarta. Walaupun merasa diperlakukan tidak adil, dengan ikhlas Puntadewa dan keempat adiknya melakukan pekerjaan besar, yaitu Babad Alas Wanamarta.

Pertunjukan The Indonesian Opera Drama Wayang Swargaloka selalu didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation. Menghadirkan seniman muda dari Jakarta, Jogjakarta dan Surakarta serta bintang panggung wayang orang yaitu Dewi Sulastri dan Ali Marsudi.

Produser : SURYANDORO | Desain Produksi : Dewi Sulastri
Naskah & Sutradara : IRWAN RIYADI | Penata Musik : DEDEK WAHYUDI
Penata Tari : Trian Heri Pitoyo & Yani Wulandari

Untuk Informasi mengenai pergelaran bisa menghubungi : 021 9825 2722
Fb : Swargaloka
Twitter : @swargalokers
www.dramawayang.wordpress.com
www.swargaloka1706.blogspot.com