Seni Tradisi Ludruk Jawa Timuran

Seni Tradisi Ludruk Jawa Timuran

Tanggal : 21 Februari 2016

Lokasi : Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Tanggal : 21 Februari 2016
Tempat  :Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Paguyuban GENARO NGALAM (GN) sebagai suatu paguyuban nirlaba dan non politik, didirikan tahun 1985 oleh beberapa senior mantan siswa dan mahasiswa yang pernah belajar dan tinggal di kota Malang dan saat ini bermukim di Jakarta.Tujuannya adalah sebagai wadah silaturrahmi dan bertukar informasi dalam guyub dan rukun.GENARO NGALAM artinya ORANG (dari) MALANG, diambil dari bahasa walikan khas yang digunakan antara orang-orang dari kota Malang dan sekitarnya. Saat ini Paguyuban GN telah berganti kepengurusan beberapa kali menujuke re-generasi sehingga jalannya organisasi tetap aktif dan dinamis sesuai perkembangan jaman.

Dalam perjalanannya, Paguyuban GN telah melakukan banyak kegiatan bidang sosial dan budaya. Salah satunya adalah mengadakan mudik murah di saat Lebaran, untuk warga kota Malang dan sekitarnya yang bekerja di Jakarta.  Selain itu, beberapa kali diadakan kegiatan kangenan dalam suasana akrab dan santai untuk teman-teman mantan siswa dan mahasiswa berasal dari Malang. Tiap kali diadakan, acara ini dihadiri lebih dari 1000 orang yang telah saling kenal.

Kali ini Paguyuban GN mengadakan pagelaran ludruk, suatu seni tradisi yang lekat dengan masyarakat Jawa Timur.Selain itu, ludruk memiliki peran penting di masa perjuangan perang kemerdekaan. Saat itu ludruk sering dipentaskan di kalangan masyarakat dalam bahasa daerah yang pengucapannya dibalik (contoh, makan menjadi nakam dalam bahasa daerah dibalik, menjadi nangam).Hal ini selain untuk menghibur, lebih penting lagi adalah untuk menyampaikan pesan-pesan penting di antara para Pejuang sehingga tidak dipahami olehlawan.Sehingga dapat kita lihat pentingnya ludruk dalam kancah perjuangan di Jawa Timur.Sampai saat ini pun, ludruk masih sering menjadi sarana sosialisasi menyampaikan pesan-pesan Pemerintah, perusahaan danlainnya kepada masyarakat.

Judul cerita “Tacik Pecinan Kepincut” terinspirasi dari legenda asmara “Sam Pek Eng Tay” yang sangat terkenal. Selain itu, Panitia mengajak para penonton yang mayoritas berasal dari Malang, untuk mengenang Malang tempo dulu, utamanya di daerah Petjinan yang dikenal oleh seluruh warga Malang sejak dulu. Petjinan di Malang, mencerminkan harmonisasi dalam perbedaan budaya dan karakternya masing-masing.  Keakraban dan kerukunan di tempat itu mewujudkan arti sesungguhnya dari Bhinneka Tunggal Ika.

Waktu pementasan yang bertepatan dengan IMLEK dan CAP GO MEH, sehingga disajikan bentuk acara bernuansa Imlek, lengkap dengan sajian, pernak pernik dan atraksi barongsai.Pembawa lakon terdiri dari para pemain professional, maupun pemain dari pengurus Paguyuban GN dan para simpatisan. Semua dikemas baik dengan arahan Sutradara Bapak Ribut yang telah dikenal di kalangan pelaku seni tradisi.

Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini, silahkan menghubungi panitia : Liliek (08193215 8010)