Suluk Maleman, "Merdeka Atau Mabuk"

Suluk Maleman, "Merdeka Atau Mabuk"

Tanggal : 16 Agustus 2013 s/d
30 November -0001

Lokasi :

Suluk Maleman adalah acara rutin bulanan yang dirancang sebagai ajang untuk silaturrahim pikiran, mengaji masalah-masalah yang dihadapi bangsa, baik di tingkat lokal maupun nasional. Acara ini sejak awal digagas sebagai oase untuk merekatkan kembali ikatan kemanusiaan, kemasyarakatan dan kebangsaan, yang selama ini cenderung cerai berai.

Untuk edisi bulan Agustus yang bertepatan dengan momentum peringatan kemerdekaan, tema yang akan dibahas adalah Merdeka ataoe Ma…boek. Tema ini dipilih karena sepertinya semakin lama, kita cenderung semakin menerjemahkan kemerdekaan sekedar sebagai kemampuan untuk melakukan apa saja tanpa batas. Hutan digunduli, gunung dipaprasi, tambang dijuali, laut dikotori, tatanan dipunggungi, UU dipecundangi, hukum dikencingi. Tak terasa lagi kehadiran kepentingan rakyat di dalamnya.

Banyak yang membaca kemerdekaan sekedar sebagai kesempatan, sebagai peluang untuk mengumbar nafsu diri dan kelompoknya. Mumpung merdeka, lantas bisa apa saja. Kekuasaan menjadi segalanya. Negara ditunggangi untuk memuluskan kepentingan penyelenggaranya; sementara diseberangnya orang ramai-ramai merekrut massa untuk memaksakan agendanya dan menyulap kelompoknya menjadi negara-negara kecil dalam negara.

Yakin bahwa ‘asu gedhe menang kerahe’, merekapun lantas berlomba menggonggong lewat media apa saja. Yang penting menggonggong dan terus menggonggong, karena yang paling keras gonggongannyalah yang dianggap sebagai pemenang. Sungguh celaka. Akibatnya, bukannya menikmati kemerdekaan, kita justru dihajar bertubi-tubi bencana. Mulai dari bencana alam seperti gempa, tsunami, banjir, longsor, penyakit, kelaparan dan seterusnya; sampai dengan bencana sosial seperti kerusuhan, tawuran, bentrok, permusuhan dan sebagainya.

Rasanya kita tak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah kita miliki, dan selalu bermimpi untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain. Akibatnya kita kehilangan perspektif untuk melihat kenyataan diri sejati kita. Semakin lama, kita semakin tak mengenali diri sendiri. Padahal, menurut teori manapun, orang yang tak mengenali dirinya sendiri adalah orang gila atau setidaknya mabuk berat. Nah, akankah rahmat kemerdekan kita tukar dengan bencana kegilaan atau kemabukan?

Hari             : Jum’at
Tanggal        : 16 Agustus 2013
Jam             : 19.30 sampai selesai
Tempat        : Rumah Adab Indonesia Mulia
                     Jalan P. Diponegoro No 94 – Pati

Siaran langsung: PAS 101,0 FM
Live Streaming: www.pasfmpati.com dan www.paspati.co.id
 
Acara kali ini akan didukung oleh :   
Dr. Ir. Saratri Wilonoyudho M.Si
Drs. Ilyas M.Ag
Anis Sholeh Ba'asyin
Orkes Puisi Sampak GusUran
Absurdnation Quartet

Monolog
RUWAT BURUNG-BURUNG
Eko Tunas