Suluk Maleman "Ng'Rasa'ni Cinta"

Suluk Maleman "Ng'Rasa'ni Cinta"

Tanggal : 20 September 2013 s/d
30 November -0001

Lokasi :

Suluk Maleman adalah acara rutin bulanan yang dirancang sebagai ajang untuk silaturrahim pikiran, mengaji masalah-masalah yang dihadapi bangsa, baik di tingkat lokal maupun nasional. Acara ini sejak awal digagas sebagai oase untuk merekatkan kembali ikatan kemanusiaan, kemasyarakatan dan kebangsaan, yang selama ini cenderung cerai berai.

Tema Suluk Maleman kali ini adalah Ng’Rasa’ni Cinta. Tema ini dipilih karena sepertinya kita sering kecelik ketika membahas cinta. Ini seperti ketika menyangka bahwa daun berwarna hijau, padahal hijau adalah sekedar cerapan mata kita atas apa yang dipantulkan daun saat ditimpa cahaya; sementara mahluk lain bisa jadi mencerapnya secara berbeda.

Maka begitu jugalah awalnya ketika orang kaget mendengar para sufi dengan ringan menggunakan metafora Majnun dan Laila untuk menggambarkan hubungan cinta manusia dengan Allah. Pertama, karena hubungan Allah dengan manusia dianggap semata hubungan Tuan dengan hambaNya; sehingga dalam peradaban manapun akan dianggap tak tahu diri dan kurang ajarlah bila ada budak yang berani menyatakan cinta pada tuannya. Kedua, karena hubungan cinta lelaki-perempuan diandaikan selalu menyertakan semua hal yang bersifat rendah dan tak suci.

Oleh Allah, Rasulullah SAW diperintah untuk mengatakan “Bila kau cinta Allah, ikutilah aku.” Jadi sumber semuanya haruslah selalu cinta. Ya’kub kehilangan penglihatan sejak Yusuf direnggut darinya; Rumi jadi pemurung sejak Syamsi Tabriz dijauhkan darinya. Ya’kub mencintai Yusuf, karena baginya Yusuf adalah penampakkan jamaliyyahNya. Rumi mencintai Syamsi Tabriz karena baginya Syamsi Tabriz adalah cermin untuk terbang kepadaNya.

Kepada seorang pemuda yang ingin mengikuti thariqahnya, seorang syaikh sufi besar bertanya: “Apakah engkau pernah jatuh cinta?” Ketika sang pemuda menjawab bahwa dia belum pernah jatuh cinta, maka sang syaikh berkata: “Pergilah! Kelak bila kau telah pernah merasakan jatuh cinta, barulah kau boleh datang kemari!”

Cinta selalu diibaratkan dengan anggur. Memabukkan. Dan pemabuk yang paling jago adalah mereka yang tetap seperti sediakala meski telah meminum berbotol-botol anggur. Mereka yang ngoceh tak karuan atau bertindak yang aneh-aneh setelah minum satu atau dua sloki anggur, selalu dianggap sebagai para pemula yang tak berpengalaman.

Dalam cinta ini, cemburu tak berhak ada, karena cemburu hanya boleh muncul dari pemilik, sementara pemilik semua yang ada ini hanya Dia dan Dia tak berhak dicemburui atas apapun. Jadi kalau kita mengikuti Rasulullah karena cinta, maka tak akan ada cemburu pada siapapun, termasuk pada mereka yang tak mengikutinya. Mungkin begitulah seharusnya.

Kunjungi dan saksikan langsung pada hari Jum’at, tanggal : 20 September 2013, mulai pukul: 19.30, bertempat di Rumah Adab Indonesia Mulia, Jalan P. Diponegoro No 94 – Pati.

Siaran langsung: PAS 101,0 FM
Live Streaming: www.pasfmpati.com dan www.paspati.co.id
 
Acara Suluk Maleman bertema “Ng’Rasa’ni Cinta” yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation ini menghadirkan Candra Malik, Budi Maryono, Dr. Ir. Saratri Wilonoyudho, Drs. Ilyas M.Ag, Anis Sholeh Ba'asyin, Orkes Puisi Sampak GusUran, dan Komunitas Sang Swara dari Kudus.