Tragedi Keluarga Sukotjo Dalam Naskah "Widji"

Tragedi Keluarga Sukotjo Dalam Naskah "Widji"

Tanggal : 21 November 2017 s/d
9 Desember 2017

Lokasi : Gedung Juang, Jl. Panglima Sudirman, Desa Ngarus, Kecamatan Kota (Depan Hotel Pati).dan Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondang Manis, PO Box 53, Kudus.

Teater Minatani yang berasal dari Kabupaten Pati bakal menggelar kembali karyanya di Kudus. Salah satu kelompok teater yang digawangi anak-anak muda Kota Bumi Minatani itu bakal membawakan naskah “Widji”, dengan didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation.

Direncanakan pementasan itu akan dibawa di dua kota. Pada Selasa (21/11/2017) bakal disajikan di Gedung Joeang yang berada di jalan Panglima Sudirman turut Desa Ngarus, Kecamatan Kota atau tepatnya di Depan Hotel Pati. Sedangkan pentas kedua akan disajikan di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondang Manis, PO Box 53, Kudus. Pementasan itu akan digelar pada Sabtu (9/12/2017) mendatang. Di kedua tempat itu akan dimulai pada pukul 19.30 WIB. Selain pementasan, sebuah diskusi budaya juga akan disajikan dengan harapan untuk ajang silaturahmi dan berbagi ilmu.  

Lakon Widji yang bakal disajikan itu sendiri merupakan adaptasi dari naskah “Buried Child” karya Sam Shepard yang diterjemahkan langsung oleh Lacahya anggota Teater Minatani. Sebagai naskah yang berasal dari Amerika di tahun 1978, tentu penggarap harus pandai dalam meramu karyanya hingga menghasilkan pementasan yang menarik terutama dalam penyesuaian gaya maupun karakter yang pas di hati. Terlebih naskah ini memiliki ciri kuat dalam tata bahasanya.

Petaka itu berawal dari dijualnya tanah yang dimiliki keluarga Sukotjo dan Kinasih kepada perusahaan tambang. Keluarga yang awalnya hidup sederhana dan bahagia itupun kemudian berubah menjadi orang kaya baru. Meski mereka tak lagi memiliki tanah yang pernah menjadi tumpuan hidup keluarga itu. Berkat kekayaannya, Sutedjo, anak pertama pasangan itu akhirnya mampu menjadi mahasiswa pertama dari kampung di kaki bukit tersebut. Namun, bukannya menjadikannya anak muda penuh visioner untuk membangun desanya, Tedjo justru terjerembap pada pergaulan bebas dan budaya foya-foya.

Naasnya, sisi negatif itu justru turut terbawa ke keluarganya. Kinasih, ibunya turut terpikat pada gemerlap dunia itu. Dan dari sanalah yang kemudian membawa petaka bagi keluarga itu. Suatu ketika Kinasih dan Tedjo termakan nafsu hingga terlibat incest yang kemudian berbuah bibit di rahim Kinasih. Permasalahan semakin kompleks saat Sukotjo suami Kinasih mengetahui kehamilannya itu. Padahal lebih dari enam tahun mereka tak pernah tidur seranjang. Prahara dalam keluarga itu membara. Sukotjo berusaha membunuh anak itu. Beruntung, sikap Kinasih yang bungkam akan siapa bapak dari jabang bayi itu mampu menyelamatkan bocah tak berdosa tersebut.

Sukotjo meminta Tedjo untuk membunuh bayi malang tersebut. Menguburnya bersama segala rahasia dan hal yang dianggap aib bagi keluarga itu. Namun tentu saja tak ada hal yang benar-benar bisa dipaksakan atau diatur oleh manusia. Sekalipun telah coba ditutup rapat, bocah itu datang dan menginginkan kebenaran. Keluarga itupun harus menanggung atas apa yang telah dilakukannya. Menggadaikan kebahagiaan keluarga dengan kenikmatan sesaat.

Lebih dari itu, sisi sosial budaya justru yang lebih penting untuk diperhatikan. Fenomena saling curiga dan adu domba bahkan sudah terjadi jauh sebelum pabrik tambang berdiri. Kehadiran gemerlapnya budaya “kota” juga rentan membawa masuknya budaya asing dan melunturkan budaya lokal. Meski dalam naskah ini diceritakan dalam konteks keluarga. Namun bisa disadari bahwa keluarga adalah gambaran terkecil dari masyarakat.

Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini :
Siwi     : 0856-4100-6396
Email    : teaterminatanipati@gmail.com