Batik Cirebon

Batik Cirebon

Foto : Tim Indonesia Exploride

Ada dua jenis Batik Cirebon, yaitu Batik Keraton yang dikembangkan di dalam Keraton Kanoman dan Kasepuhan Cirebon, serta Batik Trusmi atau batik pesisir yang merupakan hasil kreasi masyarakat yang hidup di luar tembok keraton. Namun jika berbicara tentang Batik Cirebon, maka biasanya sebagian besar orang akan langsung merujuk pada Batik Trusmi karena produksi batik ini yang lebih banyak beredar di pasaran dibandingkan dengan Batik Keraton.

Batik Trusmi diproduksi di Desa Trusmi yang terletak di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, yang memiliki sekitar 3.000 pengrajin batik. Di lokasi ini, hampir setiap rumah memiliki toko atau butik kecil untuk memamerkan sekaligus menjual batik buatan sendiri. Pengunjung yang datang bisa membeli batik mulai dari harga puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

Motif dan warna Batik Trusmi tergolong kaya karena tercipta dari percampuran seni, budaya, kepercayaan, dan etnik di masa lampau. Misalnya, motif singa barong dan paksi naga liman yang merupakan percampuran antara budaya Cina, Arab, dan Hindu. Pada abad ke-20, Cirebon memang menjadi pelabuhan yang ramai disinggahi pedagang-pedagang dari negeri China dan Timur Tengah. Atau, motif ayam alas gunung yang melambangkan penyebaran agama Islam dari bukit Gunung Jati. Sementara itu, motif Batik Keraton biasanya berhubungan dengan lingkungan keraton, seperti taman arum sunyaragi, kereta singa barong, atau naga seba. Dan sebagai batik pesisir, batik dengan motif flora dan fauna juga diproduksi.

Tidak hanya kaya akan motif, Batik Cirebon juga memiliki pilihan warna yang lebih banyak karena para pengrajinnya lebih berani memainkan warna. Selain cokelat fan hitam untuk pilihan warna gelap, ada juga warna-warna cerah seperti merah, biru langit, merah muda, hingga hijau pupus. Hal ini membuat Batik Cirebon berbeda dengan batik dari daerah lain. [TimIndonesiaExploride/IndonesiaKaya]