Canopy Bridge

Foto : Tim Indonesia Exploride

Canopy Brigde adalah sejenis jembatan gantung yang berada di kawasan wisata Bukit Bangkirai. Jembatan ini memiliki panjang 64 meter dan menghubungkan tajuk-tajuk yang dibangun di lima pohon Bangkirai, jenis pohon yang paling banyak tumbuh di hutan tropis ini. Pohon Bangkirai yang tumbuh di tempat ini ada yang sudah berumur lebih dari 150 tahun, memiliki tinggi 40 hingga 50 meter, dengan diameter 2,3 meter.

Jadi tidak heran jika jembatan tajuk ini bisa menggantung di ketinggian 30 meter dari permukaan tanah. Tentunya sangat cocok bagi wisatawan yang memiliki fobia ketinggian untuk melakukan uji nyali sambil menyaksikan panorama hutan; berjalan meniti papan landasan jembatan yang dirangkai dengan anyaman tali sebagai pengaman di kedua sisi.

Canopy Bridge menjadi jembatan tajuk pertama yang ada di Indonesia, kedua di Asia dan kedelapan di dunia. Untuk menuju Canopy Bridge, pengunjung harus menaiki menara dari kayu ulin yang dibangun mengelilingi batang pohon bangkirai. Jembatan ini juga bisa digunakan sebagai tempat penelitian berbagai jenis burung. Seorang peneliti burung asal Perancis pernah menggunakannya selama empat bulan dan menemukan 113 jenis burung yang hidup di kawasan hutan ini.

Bukit Bangkirai sendiri merupakan kawasan wisata alam yang memiliki luas 1.500 hektare, terletak sekitar 150 kilometer dari kota Tenggarong atau Samarinda, 58 kilometer dari kota Balikpapan, dan sekitar 20 kilometer dari ibukota Kecamatan Samboja. Kawasan hutan konservasi ini bertujuan untuk mengembangkan potensi wisata alam, sebagai tempat penelitian ilmiah, dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, khususnya flora dan fauna. Dinamakan Bukit Bangkarai karena kawasan wisata alam ini memang paling banyak ditumbuhi pohon Bangkirai. Dan pohon ini pula yang dipilih menjadi maskot utamanya.

Berbagai sarana dan prasarana telah dipersiapkan bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan obyek wisata ini. Ada restoran yang menyediakan menu yang cukup bervariasi, lamin (bangunan berbentuk rumah kolektif suku Dayak Kenyan) sebagai tempat pertemuan yang memiliki daya tampung hingga 100 orang. Tersedia juga penginapan berupa pondokan yang dilengkapi dengan fasilitas pendingin ruangan, dan jungle cabin – pondokan tanpa fasilitas listrik – bagi pengunjung yang ingin merasakan suasana hutan yang sebenarnya.

Untuk merasakan sensasi menapaki Canopy Bridge, wisatawan domestik dikenakan biaya sebesar Rp 15.000 ribu, sementara wistawan asing harus membayar Rp 30.000. Layanan operasionalnya dibuka tiap siang hari. Untuk alasan keamanan, Canopy Bridge ini akan ditutup jika kecepatan angin melebihi 30 mil/jam atau cuaca buruk.

Ada beberapa peraturan yang harus ditaati pengunjung yang ingin menaiki Canopy Bridge. Misalnya: anak-anak dengan tinggi badan dibawah 1 meter dilarang naik, tidak memakai sandal atau sepatu berhak tinggi, maksimal 2 pengunjung yang diperbolehkan melewati jembatan pada saat bersamaan dan keduanya harus menjaga jarak setidaknya lima meter. Sementara menaranya hanya boleh dinaiki oleh paling banyak delapan orang, dan hanya empat orang yang boleh berada di landasan tajuk pada pohon. Dan tentu saja, dilarang berlari atau melompat-lompat di atas landasan Canopy Bridge. Mengingat hutan adalah paru-paru Bumi, jangan coba-coba merokok di kawasan hutan wisata ini.

Kawasan wisata alam ini bisa dicapai melalui jalan darat dengan menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua. [TimIndonesiaExploride/IndonesiaKaya]