Kearifan Lokal Dalam Hidup Suku Huaulu

Kearifan Lokal Dalam Hidup Suku Huaulu

Tradisi Maluku

Indonesia terdiri dari ribuan suku dan etnis yang menempati seluruh Nusantara. Suku-suku ini memiliki keragaman yang tiada duanya, sangat otentik dan memiliki kearifan lokal di dalam identitas kehidupan mereka. Dari Sabang sampai Merauke terbentang wilayah yang begitu luas dengan kontur gunung maupun pesisir yang juga akan mempengaruhi setiap karakter sosial suku-suku ini hingga terbentuk sedemikian rupa menjadi ciri tersendiri. Dari wilayah timur Indonesia, dalam hal ini Pulau Seram Maluku dan kita akan mengenal satu suku tua yang mendiami wilayah utara pulau, mereka bernama Suku Huaulu.
    
Perjalanan kami di Maluku tengah membawa kami pada satu tempat di sekitar kaki gunung Binaiya. Dari jalan Trans Seram, kami harus membawa mobil kami sekitar 3 kilometer masuk daerah hutan yang sangat sepi dengan jalan yang sama sekali tidak bersahabat. Kerikil-kerikil tajam siap menghadang, panas terik matahari terasa merasuk dalam pori-pori kulit, mata kami mulai lelah dengan sinarnya, hingga kami mendapatkan sang mentari tertutup awan. Setelah naik kendaraan sejauh 3 kilometer, kami masih harus berjalan kaki sekitar satu kilometer lagi hingga mencapai Desa Huaulu pertama, tepat di pintu masuk jalur pendakian Gunung Binaiya.
    
Memasuki wilayah desa, suasana sangat sepi sekali. Sebuah sekolah memang berdiri di pintu masuk desa, namun tidak tampak satu orang murid sama sekali. Menurut informasi, bangunan sekolah memang telah dibangun oleh pemerintah namun desa ini kekurangan tenaga guru yang mau mengajar. Hal ini tentu saja menyulitkan warga desa karena untuk menyekolahkan anak-anak mereka, perjalanan sekitar 5 kilometer harus mereka tempuh dengan berjalan kaki setiap harinya menuju desa lain yang memiliki fasilitas sekolah berikut guru pengajarnya.

Seorang kakek tua memicingkan matanya karena silau sinar matahari untuk melihat kedatangan kami. Kake tersebut duduk di beranda rumahnya seorang diri dan kami pun menyapanya sebagai tanda keramahan memasuki wilayah desa Huaulu. Sang kakek menggunakan semacam kain merah di kepalanya yang disebut Kain Berang. Kain ini wajib digunakan oleh setiap laki-laki di Suku Huaulu sebagai tanda inisiasi kedewasaan. Setelah sedikit berbincang, maka sang kakek mengajak kami masuk lebih dalam ke rumah sang Kepala Desa.
    
Sayang sekali ketika kami sampai di rumah Kepala Desa atau yang biasa disebut Raja, Sang empunya rumah sedang ada tugas ke kota Masohi, sebagai ibukota kabupaten Maluku Tengah. Namun istri Raja dengan senang hati menyambut kedatangan kami dan mengajak beberapa penduduk desa untuk berbincang dengan kami. Hal pertama yang kami tanya adalah kondisi sepi di desa. Istri Raja pun menjelaskan bahwa kondisi sepi karena pada saat itu adalah siang hari dimana hampir 80 persen warga desa bekerja. Mata pencaharian utama mereka adalah berkebun dan berburu. Umumnya, hasil perkebunan mereka jual ke kota dan menghasilkan uang bagi mereka. Namun, uniknya sebagian warga yang bekerja mencari uang dari berkebun adalah kaum hawa, sedangkan para pria biasanya berburu mencari bahan makanan untuk konsumsi keluarga mereka.
    
Kami juga mengunjungi Baileo, yaitu rumah adat Suku Huaulu yang menjadi tempat diadakannya pertemuan desa. Untuk mendirikan Baileo, Suku Huaulu harus mengadakan sebuah upacara adat dan konon salah satu ritualnya adalah menanam tengkorak manusia di tiap tiang penyangga Baileo yang berbentuk menyerupai rumah panggung ini. Namun, di masa modern ini tengkorak tidak lagi dijadikan properti upacara, mereka menggantinya dengan tempurung Kelapa. Pada masa lalu, Suku Huaulu juga menjadikan Baileo ini sebagai tempat diadakannya upacara lain dan penentuan strategi perang sebelum mereka melawan kekuatan musuh. Baileo merupakan tempat yang tidak hanya sakral bagi keberadaan Suku, namun juga multifungsi diadakannya berbagai kegiatan desa.
    
Suku Huaulu adalah suku asli Maluku yang sangat dihormati oleh seluruh penduduk Pulau Seram. Walaupun banyak yang menyebutkan bahwa mereka dahulu adalah kanibal, namun kenyataannya di masa modern ini mereka adalah pribadi yang ramah, senang bercanda dan sangat menghormati alam. Suku Huaulu memang tidak terlalu terbuka terhadap perubahan modern, namun mereka sangat mencintai damai dan berusaha menerima siapapun yang ingin mengenal mereka lebih dekat lagi. Suku Huaulu adalah contoh sejati kearifan lokal yang dimiliki Indonesia Timur dan perlu untuk dijaga kelestariannya dari hari ini hingga masa depan. [Phosphone/IndonesiaKaya]