Keramik Desa Sakok, Teknik Traditional dengan Kualitas Terbaik

Keramik Desa Sakok, Teknik Traditional dengan Kualitas Terbaik

Bila Anda sedang jalan-jalan di Kota Singkawang, jangan lupa untuk mampir ke Desa Sakok untuk melihat-lihat keramik cantik yang dijajakan di salah satu showroom yang ada di desa ini. Showroom bernama Borneo Lentera Prima ini menawarkan keramik-keramik dengan berbagai bentuk dan ukuran yang bisa Anda pilih sesuai selera.

Keramik di Desa Sakok sudah ada sejak tahun 1997. Keramik-keramik ini diproduksi secara massal oleh Borneo Lentera Prima (BLP). Ide awal memproduksi keramik  ini karena merupakan usaha turun temurun dari keluarga Tionghoa asal Tiongkok. Saat ini, pengrajin di Desa Sakok merupakan generasi keempat dari Marga Xie, lebih tepatnya oleh Bong Lie Phin yang merupakan pemilik Borneo Lentera Prima. Satu yang unik dari pengrajin di desa ini, mereka bisa membuat keramik yang sama persis dengan keramik dari Dinasti Ming.

Biasanya keramik-keramik  yang dibuat dengan teknologi industri disebut dengan keramik teknik. Namun di Desa Sakok,  semua  bahan baku, metode membuat keramik yang digunakan para pengrajin semuanya masih menggunakan cara-cara tradisional. Inilah yang menjadi salah satu nilai lebih dari keramik-keramik di desa ini yang memiliki ciri khas tersendiri bila dibandingkan dengan keramik-keramik yang dibuat dengan teknologi industri.

Sampai saat ini  setidaknya  ada 45 item jenis keramik yang diproduksi oleh para pengrajin di Desa Sakok. Keramik-keramik ini memiliki motif-motif antik seperti motif naga serta motif 8 dewa yang disukai oleh warga Tionghoa. Selain itu ada juga motif bunga jampa, motif naga, motif naga sembilan, motif anggur, motif cemara bangau, dan motif naga 4 timbul. Keramik-keramik di sini di bentuk aneka rupa menjadi tempayan, vas bunga, tempat duduk hingga patung singa emas.

Satu yang menarik, bagi pembeli yang ingin memesan motif dengan desain sendiri bisa langsung mengirimkan foto untuk dibuatkan keramiknya. “Kebanyakan orang Melayu, Dayak, dan suku Jawa lebih menyukai mengkoleksi barang antik, sedangkan warga Tionghoa lebih pada kebutuhan di Vihara untuk sembahyang, mereka sedikit sekali yang mengkoleksi,” ungkap Maria, bagian pemasaran keramik BLP di Desa Sakok.

Keramik BLP di Desa Sakok kebanyakan terbuat dari bahan dasar kaolin. Kaolin merupakan mineral lempung yang mengandung silikat. Sifat lempung yang menjadi lengket, saat terkena air dan kemudian berubah menjadi keras bila telah mengering. Dahulu, lempung  memang dimanfaatkan  manusia untuk membuat keramik . “Bahan kaolin sendiri sudah sedikit jumlahnya di Singkawang, maka dari itu kami membeli dari daerah Sentana, di Kabupaten Bengkayang. Kami lebih banyak menggunakan kaolin yang membeli dari Sentana, setelah habis baru kami gunakan kaolin dari Singkawang,” tutur Maria.

Keramik-keramik di sini dijual dengan harga yang berbeda-beda. Harga keramik dibedakan dari bahan baku dalam pembuatannya. Untuk keramik dengan materi bahan bagus seperti kaolin biasanya di jual dengan harga minimal Rp. 500.000 . Sedangkan keramik dengan bahan yang terbuat dari tanah liat biasa atau lumpur biasanya dibanderol dengan harga Rp.200.000. Ada beberapa titik pemasaran keramik selain kantor utama di Jalan Padang Pasir, Sedau, Singkawang. Keramik Desa Sakok juga di jual di kawasan Ketapang, Kalimantan Barat. Untuk di Jakarta sendiri keramik ini bisa didapatkan di Perumahan Citra Garden, Cengkareng, Jakarta Barat.

Keramik-keramik BLP di Desa Sakok sendiri sudah mendapatkan pengakuan dari Pemerintah Daerah Pontianak karena memiliki kualitas dan mutu yang bagus. Keramik BLP tercatat pernah  mendapatkan penghargaan berupa Siddhakarya tahun 2010 dari pemerintah provinsi Pontianak untuk kategori kualitas dan produktivitas. Sedangkan di tahun 2011, mendapatkan penghargaan  Paramakarya dari Pemerintah Pusat untuk kategori kualitas dan produktivitas. “Saat itu, ada 133 pengusaha dan disaring menjadi 10 dan 7 besar, keramik Burneo Lentera Prima juga menjadi masuk 7 besar. Setiap pameran kita diundang oleh Dinas Perindustrian,” jelas Maria. [AhmadSirojuddin/IndonesiaKaya]