Kuil Ban Hin Kiong

Kuil Ban Hin Kiong

Foto : Tim Indonesia Kaya

Kuil Ban Hin Kiong terletak di Jl. DI Panjaitan, Manado, Sulawesi Utara, yang merupakan pusat China Town. Di kawasan ini masih banyak tempat-tempat suci, kuil, rumah-rumah dan pasar milik etnis Cina. Kelenteng yang merupakan kuil Budha ini didirikan pada tahun 1819, dan menjadi kelenteng atau kuil Cina tertua di Sulawesi Utara. Meski dibangun pada masa Dinasti Qing Cina (1644 – 1991), tetapi bangunan kelenteng masih terawat dengan baik.

Ban Hin Kiong terdiri dari tiga kata: “Ban” berarti “banyak”, “Hin” berarti“berkah berlimpah”, dan “Kiong” berarti “istana”. Jadi, secara harfiah Ban Hin Kiong memiliki arti “Istana yang memberikan berkah berlimpah”. Kelenteng Ban Hin Kiong adalah kelenteng Tri Dharma, yaitu kelenteng yang digunakan sebagai tempat beribadah bagi penganut Kong Hu Cu,Tao dan Buddha.

Kelenteng ini mempunyai desain yang sangat unik dengan arsitektur Cina klasik, dihiasi ornamen menarik yang membuatnya tampak elegan dan menarik. Pintu masuk kelenteng dikawal oleh sepasang patung singa, sementara ukiran sepasang naga meliliti pilar kelenteng. Pintu utama yang berada di bagian tengah bangunan biasanya ditutup dengan pagar bambu sebagai tanda tidak boleh masuk. Pintu ini memang biasanya hanya dibuka pada saat penyelenggaraan acara-acara tertentu. Untuk hari-hari biasa, pengunjung bisa masuk melalui pintu samping.

Hiasan yang ada di sisi-sisi kuil yang didominasi warna merah ini merupakan simbol yang melambangkan pesan suci tentang penciptaan langit, bumi dan manusia.

Memasuki bagian dalam kelenteng, ada sebuah altar dengan ornamen patung orang suci yang mengenakan pakaian perang yang indah. Panglima perang yang masyhur, kaisar, ataupun orang yang dipercaya memiliki kelebihan atau kesucian semasa hidupnya, sering dipuja untuk mendapatkan berkah spiritual maupun berkah kehidupan. Di lantai dua, terdapat altar Tri Nabi Agung, yaitu Lao Tze, Buddha dan Kong Hu Cu. Ada juga beberapa ornamen dan patung dewa yang sebagian khusus didatangkan dari daratan Cina.

Pada panel tengah di dinding bagian belakang, terdapat ukiran yang melukiskan seorang anak yang sedang memetik buah, didampingi orang tua yang berdiri di sampingnya. Ini merupakan simbol yang bermakna “siapa yang menanam akan menikmati buahnya”. Dan masih banyak lagi simbol-simbol bermakna yang bisa disaksikan di kuil ini.

Di lantai tiga Kuil Ban Hin Kiong, tersimpan dua buah meriam antik berukuran sedang, yang konon merupakan hadiah dari VOC. Logo dan tahun tahun pembuatannya masih tertera dengan sangat jelas pada batang meriam. Meriam tertua dibuat pada tahun 1778. Di bagian tengah ruangan masih terdapat satu meriam antik yang berukuran lebih kecil.

Kelenteng ini memiliki sejumlah acara tahunan. Dan saat terbaik untuk mengunjungi kelenteng adalah di bulan Februari, saat perayaan Tahun Baru Cina, Cap Go Meh, dan Toa Peh Kong. Pada saat itu, berbagai pertunjukan menarik dan parade dipertontonkan untuk menghibur masyarakat setempat dan wisatawan. Biasanya ada pertunjukan Barongsai, Ince Pia (sejenis pertunjukan kekebalan tubuh), Pikulan (kereta yang didekorasi dengan simbol-simbol agama), dan Kuda Lo Cia. Kegiatan ini merupakan tradisi Cina yang dibawa orang-orang Tionghoa yang bermigrasi ke Sulawesi Utara. Tarian tradisional Manado Kabasaran yang diiringi oleh kelompok penari Cina ikut juga mewarnai perayaan.

Kelenteng Ban Hin Kiong memang mempunyai letak yang strategis sehingga mudah dicapai dengan menggunakan transportasi umum, baik mikrolet ataupun taksi. Mobil atau sepeda motor juga bisa disewa untuk mengelilingi kawasan China town. Mengunjungi kelenteng ini tidak dipungut biaya apapun. [TimIndonesiaExploride/IndonesiaKaya]