Kutai

Foto : Tim Indonesia Exploride

Kalau melihat dari sejarahnya, kerajaan Kutai bisa dikatakan sebagai kerajaan kerajaan tertua di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya tujuh buah prasasti yang ditulis dengan huruf Pallawa dalam bahasa Sansekerta di atas yupa (tugu batu). Berdasarkan paleografinya (ilmu mengenai tulisan kuno), tulisan itu diperkirakan berasal dari abad ke-5 Masehi.

Prasasti itu menggambarkan kalau ada sebuah kerajaan bernama Kutai Martadipura yang dipimpin oleh Raja Mulawarman, putera Raja Aswawarman, cucu Maharaja Kudungga. Kerajaan ini terletak di seberang kota Muara Kaman. Kemudian pada abad ke-13, muncul sebuah kerajaan baru di Tepian Batu atau Kutai Lama.

Kerajaan baru yang bernama Kutai Kartanegara ini dipimpin oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300–1325). Dua kerajaan yang berdekatan biasanya menimbulkan friksi. Dan akhirnya, friksi yang terjadi di antara dua kerajaan Kutai yang sama-sama berada di kawasan sungai Mahakam ini berujung pada peperangan pada abad ke-16. Kerajaan Kutai Kartanegara yang saat itu dipimpin oleh Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa berhasil menaklukkan Kerajaan Kutai Martadipura dan menguasai wilayahnya. Sang raja kemudian mengubah nama kerajaannya menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Pada tahun 1732, ibukota kerajaan Kutai Kartanegara dipindahkan dari Kutai Lama (1300-1732) ke Pemarangan (1732–1782),lalu dipindahkan lagi ke Tenggarong hingga sekarang. Sejak masuk pengaruh Islam di daerah ini, kerajaan berubah menjadi kesultanan.

Kini, bangunan kesultanan Kutai Kartanegara ini telah beralih fungsi menjadi sebuah museum yang dinamakan Museum Mulawarman. Pengunjung bisa mengetahui sejarah wilayah Kutai di museum ini. Bentuk bangunan museum mengambil bentuk arsitektur tradisional suku Dayak yang ada di Kutai. Di halamannya terdapat patung Lembu Swana yang merupakan lambang kerajaan Kutai Kartanegara. Lembu Swana dipercaya sebagai kendaraan tunggangan Batara Guru. Patung Lembu Swana ini juga disebut dengan Paksi Liman Janggo Yoksi. Patung ini berbentuk lembu bermuka gajah, memiliki sayap burung, bertanduk seperti sapi, bertaji dan berkuku seperti ayam jantan.

Di dalam museum ini pengunjung bisa melihat benda-benda bersejarah, seperti: singgasana raja dan permaisuri yang terbuat dari kayu, kalung Uncal yang merupakan atribut kebesaran kesultanan, meriam Sapu Jagad Peninggalan VOC, tiruan prasasti Yupa karena prasasti aslinya berada di Museum Nasional Jakarta, seperangkat Gamelan dari Keraton Yogyakarta 1855, arca Hindu, seperangkat meja tamu peninggalan Kerajaan Bulungan, Ulap Doyo yang merupakan hasil kerajinan Suku Dayak Benuaq, minirama tentang sejarah kerajaan Kutai Kartanegara, koleksi Numismatika (mata uang dan alat tukar lainnya), koleksi Keramik, dan benda-benda bersejarah lainnya.

Keluar dari Museum Mulawarman, pengunjung bisa melanjutkan perjalanan ke Waduk Panji Sukarame, kawasan wisata yang berjarak hanya tiga kilometer dari pusat kota Tenggarong. Waduk yang sudah tidak lagi difungsikan untuk pengairan ini bisa menjadi tempat bersantai sambil melihat-lihat koleksi tanaman anggrek atau sekadar duduk-duduk di bawah pepohonan yang rindang sambil menikmati suasana hutan yang sejuk dan tenang. Pergola yang dijalari tumbuhan merambat juga ikut memberikan keteduhan saat pengunjung berjalan-jalan di tepi waduk.

Masih banyak lagi tempat wisata yang bisa dikunjungi di daerah Kutai ini, seperti: Museum Kayu, Pondok Labu, Taman Wisata Pulau Kumala, Jembatan Kutai Kartanegara, dan lain-lain. [TimIndonesiaExploride/IndonesiaKaya]