Ludruk, Kesenian Guyonan asal Jawa Timur

Ludruk, Kesenian Guyonan asal Jawa Timur

Jika masyarakat Jawa Tengah memiliki ketoprak sebagai pertunjukan hiburan, masyarakat Jawa Timur pun memiliki pertunjukan hiburan. Namanya ludruk.

Walau sama-sama bersifat menghibur, tapi ada perbedaan mencolok antara ludruk dengan ketoprak. Salah satu perbedaan tersebut adalah cerita yang diangkat.

Dalam setiap pertunjukannya, ludruk mengangkat cerita kehidupan sehari-hari, cerita perjuangan, atau sebagainya. Latar waktu cerita yang dibawakan adalah saat ini. Sementara, ketoprak membawakan kisah yang terjadi di masa lalu (berdasarkan sejarah atau dongeng).

Karena cerita yang dibawakan merupakan cerita sehari-hari, yang dekat dengan kehidupan masyarakat, ludruk pun digemari oleh semua kalangan masyarakat. Selain itu, walau menggunakan bahasa Jawa Timur, guyonan yang dilontarkan para pemain ludruk pun dapat dimengerti oleh orang dari luar Jawa Timur. Ini dikarenakan para pemain tidak hanya mengandalkan guyonan dalam bentuk perbincangan, tapi juga dalam gerak.

Pertunjukan ludruk akan dimulai oleh tari remo. Berbeda dengan pertunjukan tari remo pada biasanya, tari remo yang menjadi pembukaan pertunjukan ludruk hanya dibawakan oleh seorang penari.

Tidak ada pakem yang pasti mengenai pertunjukan ini, mengenai jumlah pemain, jumlah babak, dan sebagainya. Begitu pula dengan cerita yang dibawakan. Biasanya, dalam pertunjukan ludruk, sangat dipentingkan kemampuan para pemain untuk dapat berimprovisasi dan mengembangkan jalan cerita yang sudah dibuat.

Saat ini, salah seorang pemain ludruk yang terkenal adalah Kartolo. Pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, ini sudah puluhan tahun menggeluti kesenian ludruk. Kemampuannya membawakan sebuah cerita pun sudah diakui. Penonton akan dibuat terpingkal-pingkal oleh guyonan yang dilontarkannya. [Agung/IndonesiaKaya]