Makam Tebing

Foto : Tim Indonesia Exploride

Provinsi Sulawesi memiliki sejumlah tempat pemakaman leluhur yang unik-unik, salah satu diantaranya adalah bukit batu Lemo. Dinamakan Lemo karena bentuk bukit ini memang menyerupai buah limau. Bukit batu Lemo memiliki 75 lubang kuburan, dan tiap-tiap liang merupakan kuburan satu keluarga. Dalam bahasa setempat, kuburan ini disebut Liang Paa’. Dari luar, kuburan-kuburan ini hanya terlihat lubangnya saja, ditutupi papan kayu. Ukuran lubang cukup besar, sekitar 3 meter kali 5 meter.

Sementara tingginya mencapai belasan meter dari permukaan tanah. Jenazah dimasukkan ke dalam liang dengan menggunakan tangga atau ditarik dengan tapi. Proses pembuatan liang termasuk lama dan sulit karena bukit batu itu harus dipahat dengan tangan. Jadi tidak heran kalau pembuatan satu lubang bisa memakan biaya sampai tiga juta rupiah, dengan lama pengerjaan enam bulan sampai satu tahun.

Kuburan alam ini dihiasi dengan deretan tau-tau yang berjumlah 40 buah, sebagai lambang-lambang prestise, status, dan kedudukan para bangsawan di Limo. Syarat untuk membuat tau-tau adalah harus menyembelih kerbau sebanyak 24 ekor. Tau-tau adalah patung tiruan dari orang-orang yang sudah meninggal. Badan patung ini terbuat dari kayu nangka, matanya dari tulang dan tanduk kerbau.

Bukit kuburan yang ada di Desa Lemo ini merupakan kuburan tertua nomor dua di Toraja, dan kuburan yang paling tua berada di Songgi Patalo. Kuburan batu bukit Lemo dibuat pada sekitar abad ke 16, berlokasi sejauh enam kilometer di sebelah utara kota Makale, dan 12 kilometer di sebelah selatan Rantepao. Atau berada di sebelah timur jalan raya yang menghubungkan kota Makale dan Rantepao, ibu kota Kabupaten Tana Toraja. Obyek wisata ini sudah mulai dikunjungi wisatawan sejak tahun 1960.

Saat itu, tentu dengan peralatan yang sangat sederhana. Lemo terletak di desa (lembang) Lemo. Sekitar 12 kilometer sebelah selatan Rantepao atau enam kilometer sebelah utara Makale. [TimIndonesiaExploride/IndonesiaKaya]