Masjid Cheng Hoo

Masjid Cheng Hoo

Foto : Tim Indonesia Exploride

Pada awal abad ke-15, di masa pemerintahan Dinasti Ming (1368 – 1643), orang-orang Tionghoa dari Yunnan datang untuk menyebarkan agama Islam, khususnya di Pulau Jawa. Selanjutnya, armada kapal yang pimpin Laksamana Cheng Hoo atau yang dikenal juga dengan nama Sam Poo Kong atau Pompu Awang, tiba di pantai Simongan, Semarang. Dia diutus Kaisar Yung Lo untuk mengunjungi Raja Majapahit yang juga bertujuan untuk menyebarkan agama Islam.

Untuk mengenang perjuangan Cheng Hoo dan berhubung penduduk Muslim Tionghoa juga ingin memiliki sebuah masjid bergaya Tionghoa, maka pada 13 Oktober 2002, masjid Muhammad Cheng Hoo dibangun di Jl. Gading 2, Surabaya, terletak tidak jauh dari Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa.

Masjid Muhammad Cheng Hoo menjadi tujuan wisata karena memiliki arsitektur unik bernuansa Tionghoa. Gaya arsitekturnya memang terinspirasi dari bentuk masjid Niu Jie di Beijing, yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Ada makna filosofi pada setiap bagian bangunan masjid ini, misalnya, bagian atas bangunan utama berbentuk segi delapan (pat kwa) yang dalam bahasa Tionghoa berarti jaya dan keberuntungan. Ada juga relief yang berkisah tentang perjalanan Muhammad Cheng Hoo bersama armada kapalnya.

Kapasitas masjid yang berdiri di lahan seluas 21 x 11 meter ini, bisa menampung sekitar 200-an jemaah. Bangunan masjid sendiri seluas 99 meter persegi. Dan pada bulan Ramadhan, jemaah yang datang selalu membludak, baik untuk melaksanakan salat Tarawih atau sekadar berkunjung. [TimIndonesiaExploride/IndonesiaKaya]