Masjid Kesultanan Ternate Yang Mengiringi Sejarah Peradaban Ternate

Masjid Kesultanan Ternate Yang Mengiringi Sejarah Peradaban Ternate

Pada malam ke-16 bulan Ramadhan, Sultan Ternate beserta para kerabat dan dewan keagamaan Kesultanan yang disebut Bobato Akhirat mengadakan sebuah ritual turun ke Masjid untuk salat. Sang Sultan akan melakukan Tarawih pada pukul setengah delapan malam. Yang menarik adalah cara Sang Sultan menuju Masjid Kesultanan yang hanya berjarak sekitar 100 meter saja dari Kedaton Ternate. Sang Sultan adakan diusung dengan menggunakan tandu oleh para pasukan Kesultanan dengan diiringi alunan alat musik Totobuang. Setelah Tarawih, Sultan akan kembali ke Istana dengan diikuti oleh seluruh rakyat yang akan bertemu, bersalaman, bahkan menciumi kaki Sultan ketika rombongan Sultan sampai di Kedaton. Hal ini dilakukan sebagai sebuah buktik kesetiaan dan kecintaan rakyat Ternate terhadap Sang Sultan.
    
Ilustrasi di atas adalah sebuah gambaran satu upacara ritual adat Ternate yang bernama Kolano Uci Sabea. Upacara ini merupakan bagian dari keberadaan Kesultanan Ternate yang memiliki latar belakang pemerintahan Islam sejak masa lalu. Adanya Islam sebagai dasar dari segala kegiatan Kesultanan tentu tidak akan lepas dari pendirian sebuah Masjid yang menjadi Masjid Kesultanan. Pengaruh budaya Islam Arab dan budaya lokal Ternate telah membaur dan memunculkan sebuah harmonisasi Islam di Ternate. Salah satu hasil harmonisasi ini adalah Masjid Kesultanan Ternate yang bersejarah dan bernilai budaya tinggi.
    
Masjid Kesultanan Ternate yang juga biasa disebut Sigi Lamo ini mulai dibangun sejak pemerintahan Sultan Ternate yang kedua yaitu Sultan Zainal Abidin. Namun beberapa sumber lain juga menyebutkan bahwa Masjid ini baru dibangun pada awal abad ke-17 saat Sultan Saidi Barakati memerintah. Memang belum ada sumber pasti yang menyatakan tahun berdirinya Masjid, namun hingga kini kedua pernyataan di atas menjadi yang paling umum dipercaya. Walaupun tahun pembangunan belum dapat dipastikan, Masjid Kesultanan Ternate pada kenyataannya tetap berdiri kokoh dan mengiringi sejarah perkembangan Islam di Ternate.

Masjid Kesultanan ini memiliki arsitektur yang sangat unik. Tidak seperti bentuk Masjid masa kini yang memiliki kubah, Masjid ini berbentuk limas dengan undakan sejumlah 6 buah. Sekilas, Masjid ini memang tampak seperti Masjid tua di Jawa dengan bentuk denah bangunan kotak serta atap yang terbuat dari rumbia namun kini telah diganti seng. Komposisi bahan untuk membangun Masjid ini terdiri dari susunan batu dengan bahan perekat campuran kulit kayu pohon Kalumpang. Memang, bila kita mempelajari struktur pembangunan Masjid ini akan tampak sangat sederhana. Namun terbukti, Masjid Kesultanan Ternate ini masih berdiri dengan sangat kokoh hingga masa kini.
    
Banyak hal unik yang terdapat di Masjid ini. Selain arsitektur dan berbagai tradisi yang sering dilakukan di Masjid ini, beberapa aturan Masjid Kesultanan ini juga menarik untuk ditelaah. Beberapa aturan yang berlaku di Masjid ini misalnya keharusan menggunakan kopiah saat memasuki bagian dalam Masjid dan larangan untuk menggunakan sarung saat beribadah. Jadi, jemaah Masjid diwajibkan untuk menggunakan celana panjang karena alasan kepercayaan bahwa posisi kaki pria ketika salat menggunakan celana panjang akan menunjukkan huruf Lam Alif yang bermakna dua kalimat syahadat. Selain itu, kaum wanita juga dilarang beribadah di Masjid ini untuk menghindari ketidaksengajaan terjadinya datang bulan ketika ibadah. Berbagai aturan ini sudah sangat lama diterapkan dan terus dijaga oleh para penjaga Masjid yang disebut Balakusu.
    
Masjid Kesultanan Ternate adalah salah satu kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. Tidak hanya nilai-nilai Islam yang terkandung dalam keberadaannya, namun Masjid ini juga telah menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan masyarakat Ternate sejak masa lampau. Bila kita menyadarinya, sebenarnya karakter umum warga Ternate kini terbentuk atas peran Masjid Kesultanan Ternate yang sejak dulu telah mengarahkan warganya untuk jadi lebih baik lagi. Masjid tidak hanya sebuah bangunan semata, namun bagian penting dari perkembangan satu peradaban dari jaman ke jaman. [Phosphone/IndonesiaKaya]