Membuka Lahan, Mengharap Berkah

Membuka Lahan, Mengharap Berkah

Tradisi Kalimantan Timur

Masyarakat adat Dayak Bahau mempunyai tradisi unik menyangkut ritual membersihkan dan menyucikan tanah di awal tahun yang bernama laliq ugal. Tradisi awal tahun ini bertujuan agar tanaman yang ditanam bisa tumbuh subur sehingga masyarakat bisa sehat dan sejahtera.

Tradisi yang diyakini berasal dari kepercayaan manusia kepada dewi kesuburan ini memiliki beberapa tahapan. Tahap pertama dalam ritual adat laliq ugal adalah membuka lahan. Membuka lahan yang dimaksud adalah dengan menyucikan tanah secara umum, lalu membagi-bagikannya berdasarkan keluarga.

Setelah membuka lahan, tahapan selanjutnya adalah melakukan upacara kecil dengan meletakkan delapan telur ayam kampung di atas bambu. Hal tersebut dilakukan sebagai simbol laporan kepada leluhur bahwa masyarakat Dayak Bahau sedang membuka lahan.

Ritual dilanjutkan dengan mengorbankan seekor anak ayam dan memotong anjing atau babi untuk dilihat hatinya. Prosesi ini menyangkut ramalan masa mendatang. Jika hati pada hewan yang dikorbankan tidak cacat atau tidak terdapat noda, pembukaan lahan akan berjalan lancar dan hasil panen yang didapatkan akan bagus.

Menurut Blawing, salah satu pemimpin adat Suku Dayak Bahau, ritual-ritual kecil juga akan dilakukan jika sepanjang proses menanam padi terdapat hama yang mengganggu. Ritual yang biasa dilakukan untuk mengusir hama dinamakan dengan kelang helung. “Ritual tersebut dilakukan dengan membuang air suci ke sungai. Ritual ini bertujuan agar hama tersebut hilang dan lebur di sungai, sehingga air kembali ke persawahan dengan membawa berkat,” ungkap Blawing.

Kepercayaan kepada roh para leluhur ditunjukkan dengan meletakkan delapan butir telur untuk mendapatkan respon dari para leluhur. Respon tersebut digambarkan dalam tarian topeng yang biasa disebut dengan tari hudoq. Masyarakat adat Suku Dayak Bahau meyakini dalam setiap pementasan tari hudoq terdapat roh para leluhur di dalamnya.

Tari hudoq merupakan penyamaran roh leluhur, sehingga terjadi dialog dua arah antara masyarakat yang membuka lahan dengan roh para leluhur. Tarian ini diiringi oleh berbagai alat musik seperti gendang dan alat musik tradisional Dayak lainnya.

Setelah padi menguning, biasanya para muda-mudi melakukan permainan gangsing tradisional dengan menggunakan biji coklat yang sudah kering dan keras. Biji coklat tersebut kemudian dililitkan pada tali tambang yang panjang dan besar. Setelah itu, biji coklat dilempar sehingga berputar dengan cepat di lantai.

Pemain lain berusaha merubuhkan gangsing yang sedang berputar dengan gangsing miliknya. Tidak ada nilai menang dan kalah pada permainan ini. Kepuasan para pemain adalah ketika berhasil merubuhkan gangsing milik pemain lain.

Ketika padi sudah siap dipanen, saatnya kesibukan bagi kaum perempuan. Mereka sibuk memanen padi, membersihkannya, menyimpannya sebagai cadangan pangan di lumbung padi yang sudah disiapkan. Begitulah proses dan tahap-tahap pada ritual adat Suku Dayak Bahau menyangkut pembukaan lahan untuk pertanian. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]