Mencintai Alam Melalui Sebuah Bangunan Adat Suku Huaulu

Mencintai Alam Melalui Sebuah Bangunan Adat Suku Huaulu

Tradisi Maluku

Rumah adalah sebuah tempat privasi yang dimiliki oleh setiap individu, keluarga, atau kelompok tertentu. Selain sebagai tempat tinggal, berteduh, atau berlindung, rumah juga berfungsi sebagai eksistensi atas keberadaan seseorang atau kelompok seperti keluarga dan komunitas. Keberadaan rumah sangat penting di dalam kehidupan, bahkan menjadi kebutuhan utama manusia selain sandang dan pangan.
    
Bicara mengenai sebuah suku asli di Pulau Seram, Ambon, yang bernama Suku Huaulu, kita tidak akan lepas dari keberadaan rumah adat mereka juga. Rumah adat yang disebut Baileo ini memiliki arti penting di dalam eksistensi Suku Huaulu ini. Sebelum mengenal lebih jauh tentang Baileo, kita perlu mengenal dulu sedikit mengenai Suku Huaulu. Suku asli di Pulau Seram ini menempati bagian utara Pulau Seram dan pemukiman mereka berada tepat di kaki gunung Binaiya. Suku ini berkerabat dekat dengan sepupu mereka Suku Naulu yang menempati wilayah Selatan Pulau Seram.
    
Seperti halnya Suku Naulu, keberadaan rumah adat bagi suku Huaulu juga memiliki arti yang sangat penting. Sejak masa lalu, rumah adat mereka yang disebut Baileo ini menjadi salah satu hal yang paling menonjol dari kehidupan di pemukiman Huaulu. Bahkan, untuk mendirikan sebuah rumah Baileo, Suku Huaulu biasa mengadakan upacara  dengan berbagai ritual di dalamnya. Konon, dalam ritual ini sebuah Baileo harus menggunakan tengkorak manusia yang merupakan musuh-musuh suku Huaulu yang telah mati sebagai pondasi utama dari tiang-tiang di seluruh bangunan. Namun, seiring perkembangan jaman, ritual ini pun diganti dengan sebuah tempurung kelapa pada setiap tiangnya.

    
Sebenarnya Baileo merupakan rumah adat utama yang menjadi tempat berkumpulnya seluruh warga desa. Pada masa lalu, Baileo juga biasa dijadikan sebagai rumah Raja atau Kepala Desa dan juga tempat beribadah. Mereka biasa mengadakan pertemuan terkait kehidupan warga atau bahkan pembicaraan mengenai strategi perang melawan musuh-musuh mereka. Namun dalam kehidupan modern, fungsi Baileo sama seperti Balai Desa. Warga desa Huaulu biasa melakukan rapat desa dan berbagai upacara adat di Baileo. Baileo memang bukan rumah tinggal warga, namun dari bentuk umum Baileo, kita juga akan mendapatkan gambaran rumah tradisional Suku Huaulu.
    
Secara umum, Baileo berbentuk seperti rumah panggung. Baileo memiliki banyak tiang penyangga yang biasanya diberi hiasan ukiran yang menunjukkan bahwa Baileo merupakan rumah istimewa dibandingkan rumah lainnya. Menaiki sebuah tangga berukuran sekitar 1,5 meter dan kita akan memasuki ruang utama Baileo yang merupakan tempat berkumpulnya seluruh warga desa. Tempat ini cukup besar dan terbuka tanpa adanya penyekat jendela atau pintu. Tempat duduk yang sangat panjang terdapat di sekeliling bagian dalam bangunan dan dapat digunakanakan untuk berbagai hal seperti duduk, rapat, bahkan makan besar secara bersama-sama. Di salah satu sudut Baileo, terdapat satu ruangan yang biasa dijadikan ruangan privasi berupa kamar tidur. Uniknya, kamar tidur ini tidak sekedar difungsikan sebagai tempat istirahat layaknya rumah modern. Suku Huaulu juga menggunakan ruangan ini untuk memasak dan kegiatan rumah tangga lainnya.
    
Bentuk umum inilah yang juga ditiru oleh tempat tinggal warga lainnya. Secara umum, rumah Suku Huaulu hanya terdiri dari dua bagian. Satu bagian yang terbuka dan bersifat sosial dan bagian lainnya lebih tertutup untuk segala macam kegiatan privat keluarga. Rumah Huaulu sangat bersahabat dengan alam karena terbentuk dari material alami seperti kayu, bambu, dan atap rumbia. Bahkan ada beberapa rumah yang sama sekali tidak menggunakan paku untuk menyatukan satu bagian dengan bagian lainnya. Rumah Huaulu memberikan satu pelajaran kepada kita tentang bagaimana bersahabat dengan alam melalui sebuah bangunan. [Phosphone/IndonesiaKaya]