Indonesia Kaya App

Aplikasi untuk penikmat
budaya Indonesia

Unduh Gratis
Menenangkan Jiwa di Taman Air Gua Sunyaragi

Menenangkan Jiwa di Taman Air Gua Sunyaragi

Satu per satu gua yang gelap dan sempit menjadi sajian untuk dijelajahi. Rongga yang menjadi media penghubung antar gua pun harus dilewati. Inilah sedikit gambaran sensasi yang diberikan Taman Air Gua Sunyaragi di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Memiliki luas sekitar 15 hektar, Gua Sunyaragi kerap digunakan pengunjung sebagai tempat untuk menyepi atau bertapa. Secara umum, Taman Air Gua Sunyaragi memliki 13 gua yang saling dihubungkan oleh rongga besar.

Letak Gua Sunyaragi berada di Kelurahan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi, atau dapat ditempuh sekitar 15 menit dari pusat Kota Cirebon.

Secara etimologi, nama Sunyaragi berasal dari dua kata, yaitu sunyi dan raga. Sedangkan secara harfiah, nama ini memiliki makna tempat untuk mensucikan raga atau bertapa. Pembangunan Gua Sunyaragi diprakarsai oleh Pangeran Emas Zaenul Arifin. Dibangunnya gua ini untuk menggantikan Giri Septa Rengga yang telah berubah fungsi menjadi Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati berserta keluarganya.

Pembangunan Gua Sunyaragi dibagi dalam 3 periode yang berbeda. Masing-masing periode mempunyai ciri khas dan karakter bangunan dan dekorasi serta fungsinya sendiri.

Periode pertama dimulai pada zaman Panembahan Pakuwati I pada 1458 Saka atau 1536 M. Dipimpin oleh Pangeran Emas Zaenul Arifin, salah satu cicit dari Sunan Gunung Jati, Gua Sunyaragi diarsiteki oleh Pangeran Sepat dari Demak, Pangeran Losari dan orang-orang Cina pengikut Putri Ong Tien Nio (istri Sultan Gunung Jati).

Pada pembangunan periode tersebut menghasilkan Gua Pengawal, Gua Pawon, Gua Lawa, Gua Padang Ati, Gua Kelanggengan, dan Gua Peteng, yang memiliki menara pengawas diatasnya.

Selain menara pengawas, gua ini juga memiliki lubang dangkal yang telah tertutup. Konon, lubang ini merupakan jalan rahasia yang tembus hingga mencapai kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati yang berjarak 112 km dari Gua Sunyaragi.

Pada tahap berikutnya, periode pembangunan Gua Sunyaragi dilakukan pada zaman Sultan Sepuh Pangeran Jamaludin II. Tepatnya pada tahun 1625 S atau 1703 M. Adik sultan yang bernama Pangeran Arya Carbon Kararangen berinisiatif untuk mempeluas kompleks gua dengan membangun Gua Arga Jumut, Bale Kambang, dan Mande Beling. Ini berfungsi untuk tempat perjamuan, perundingan, dan sebagai tempat bersantai para keluarga keraton.

Selanjutnya, Periode terakhir yang dibangun oleh Sultan Sepuh V Pangeran Syaifiudin atau dikenal dengan sebutan Pangeran Matanghaji dibantu oleh arsitek dari Cina.

Dibangun pada abad 18, Kompleks Gua Sunyaragi ditambah dengan membangun Gua Pande Kemasan dan Gua Simanyang. Selain membangun gua, Pangeran Matanghaji juga membangun Bangsal Jinem yang berfungsi sebagai tempat sultan untuk memberi pengarahan dan doa kepada prajurit.

Pada periode ini, Taman Air Gua Sunyaragi memiliki dwi fungsi penggunaan. Selain dijadikan rekreasi keluarga keraton, Gua ini juga dijadikan sebagai tempat untuk membangun kekuatan melawan Belanda. Namun informasi ini dibocorkan oleh arsitek Cina yang memberikannya kepada Belanda.

Taman Air Gua Sunyaragi pernah dipugar oleh Dinas Purbakala Negeri Belanda pada tahun 1936. Dan Dipugar kembali tahun 1978 oleh Dinas Purbakala RI tanpa menambahkan dan mengurangi bagian dari bangunan gua.

Menyusuri gua demi gua dan lorong yang berada di kompleks taman air ini menjadikan betapa hebatnya leluhur nusantara pada zamannya. Putih telur yang digunakan sebagai media perekat batu adalah salah satu teknologi yang maju pada waktu itu.

Taman Air Gua Sunyaragi juga difasilitasi dengan bangunan berbentuk podium beserta tribun untuk penontonnya. Ini digunakan untuk acara-acara pertunjukan yang sifatnya tradisional seperti sendang tari khas Cirebon atau tari topeng khas Cirebon. [Riky/IndonesiaKaya]