Menepi dan Berdoa di Bukit Kasih

Menepi dan Berdoa di Bukit Kasih

Melewati Jalan Raya Tomohon ke arah Kawangkoan, samar-samar dari kejauhan terlihat salib kecil yang menempel pada bukit. Begitu memasuki kawasan Kawangkoan, tepatnya di Desa Kanonang, udara sejuk pegunungan makin terasa, dari tempat itulah salib terlihat lebih besar dari yang dikira. Masyarakat menyebutnya dengan Bukit Kasih, sebuah tempat wisata religi yang ada di Minahasa, Sulawesi Utara.

“Bukit Kasih didirikan bermula dari keinginan beberapa orang yang ingin membangun tempat berdoa yang tenang di atas bukit. Baru pada tahun 2000, bukit kasih dibangun secara serius, yang bukan hanya menjadi tempat ibadah orang Kristen, lebih dari itu menjadi simbol perdamaian di Minahasa,” begitu tutur Jeli, salah seorang staf di bagian informasi Bukit Kasih.

Masuk ke Kompleks Wisata Bukit Kasih, pertama kali pengunjung akan menjumpai sebuah monumen berbentuk pentagonal yang mempunyai tinggi sekitar 22 meter. Di kelima sisi bagian bawahnya terdapat ornamen yang melukiskan lima agama yang ada di Indonesia. Sementara pada bagian puncaknya terdapat bola dunia dan burung merpati yang melambangkan perdamaian dalam perbedaan.

Melewati jalan setapak menanjak, pengunjung akan menjumpai patung Toar dan Lummi’muut, yang diyakini sebagai orang pertama atau leluhur tanah Minahasa. “Masyarakat Minahasa percaya, Bukit Kasih dahulu merupakan tempat tinggal para leluhur mereka,” tutur Jeli menambahkan.

Jalan setapak menanjak yang dilalui untuk mencapai puncak Bukit Kasih merupakan jalan salib. Terdapat 14 titik di sepanjang perjalanan, pada tiap titiknya terdapat figura yang menggambarkan penderitaan Yesus ketika ingin disalib.

Saat menjelang sampai di puncak Bukit Kasih, aroma belerang makin terasa pekat, mengingat puncak bukit berdekatan dengan sumber uap belerang yang masih aktif. Sampai di puncak bukit, pengunjung akan menyaksikan lima tempat ibadah yang berdiri secara berdampingan. Kelima tempat ibadah tersebut merupakan simbol perdamaian Minahasa yang hidup dalam perbedaan. Ari, salah seorang pengunjung dari luar Minahasa, mengungkapkan, “Bukit Kasih itu bagus dan indah, melambangkan harmonisasi dari lima agama yang berbeda. Tempat yang cocok untuk menenangkan diri.” [AhmadIbo/IndonesiaKaya]