Mengantarkan Sang Tuan di Upacara Rambu Solo

Mengantarkan Sang Tuan di Upacara Rambu Solo

Tradisi Sulawesi Selatan

Bagi kebanyakan masyarakat adat di nusantara, siklus hidup manusia (mulai dari mengandung hingga kematian) merupakan suatu proses yang dianggap sakral. Karenanya, masyarakat adat di nusantara masih menganggap hal-hal seperti ibu mengandung, melahirkan, masa kecil, dewasa, hingga meninggal dunia merupakan proses kehidupan yang perlu disempurnakan melalui upacara-upacara adat.

Tidak terkecuali dengan Suku Toraja. Menempati Sulawesi Selatan bagian utara, letak pemukiman Suku Toraja dikelilingi bukit-bukit karts – membuat udara di sini lebih dingin dibanding wilayah lain di Sulawesi Selatan. Perjalanan menuju Tana Toraja pun tidak mudah. Selain karena kondisi jalan yang rusak, menurut pengakuan penduduk setempat, angkutan umum yang melayani rute Makassar-Tana Toraja hanya beroperasi pada malam hari. Lama perjalanan dari Makassar menuju Tana Toraja mencapai 7 jam.

Suku asli Sulawesi Selatan ini memiliki berbagai ritual yang berkaitan dengan tahap-tahap kehidupan seseorang. Salah satunya adalah rambu solo. Rambu solo merupakan upacara yang bertujuan untuk menghormati dan menghantarkan arwah seseorang yang telah mati menuju alam roh – masyarakat setempat menyebutnya puya.

Terdapat perbedaan pada upacara rambu solo yang diadakan oleh berbagai komunitas adat Suku Toraja. Namun begitu, tujuan utama diadakan upacara ini tetap sama. Kali ini, upacara rambu solok diadakan oleh salah satu komunitas adat Suku Toraja yang bernama Kete Kesu. Kete Kesu menempati Kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malening, Toraja Utara, sekitar 14 km dari Kota Rantepao.

Hanya dengan membayar Rp5.000 untuk wisatawan lokal dan Rp10.000 untuk wisatawan asing, pengunjung dapat masuk dan melihat cagar budaya di kawasan adat Kete Kesu. Memasuki kawasan Kete Kesu, pengunjung akan disambut hamparan sawah yang luas, lengkap dengan beberapa ekor kerbau yang sedang digembalakan. Bagi masyarakat Suku Toraja, kerbau merupakan binatang yang dianggap suci. Binatang ini diyakini akan mengiringi arwah mereka yang telah mati. Semakin banyak jumlah kerbau yang digunakan dalam upacara rambu solo, ada keyakinan sang arwah akan semakin cepat menuju alam roh.

Sebuah tongkongan kecil diletakkan di tengah-tengah tongkongan besar. Tongkongan merupakan rumah ada Suku Toraja. Di desa adat ini, terdapat sekitar 10 tongkongan – yang konon sudah berusia lebih dari 300 tahun. Di tongkongan kecil itulah, diletakkan jenazah seorang tuan yang akan diupacarakan dalam rambu solo.

Sementara jenazah dibiarkan berada di tengah-tengah tongkonan, kaum wanita sibuk mempersiapkan masakan untuk para undangan yang datang. Masakan tersebut didominasi oleh olahan yang berasal dari daging babi atau kerbau. Babi merupakan masakan favorit yang paling ditunggu-tunggu oleh para tamu. Tamu tersebut biasanya merupakan kerabat dekat yang sudah berkeluarga, dan setiap keluarga menempati satu tongkonan.

Sambil menunggu masakan selesai dibuat, para tamu yang hadir membuat lingkaran mengelilingi tongkonan yang berisi jenazah sambil bergerak berlawanan dengan arah jarum jam, diselingi pembacaan mantra-mantra. Upacara dilanjutkan dengan pemberian khotbah dan upacara secara kristiani yang dipimpin oleh seorang pendeta. Setelah khotbah selesai, kaum wanita yang sudah mempersiapkan makanan kemudian keluar dari dapur dan membawakan berbagai masakan ke tiap-tiap tongkongan.

Para tamu, kerabat dekat, dan wisatawan yang hadir secara bersama-sama dipersilakan menyantap makanan yang telah disediakan. Setelah makan siang, upacara dilanjutkan dengan sesi foto-foto. Para keluarga jenazah mulai dari yang muda sampai tua dipersilakan mengabadikan gambar bersama tongkonan berisi jenazah sang tuan yang sedang diupacarakan. Prosesi selanjutnya adalah mengelilingi jenazah sambil membacakan mantra-mantra penghantar. Yang menarik, kali ini ada seorang keluarga dekat sang jenazah yang menangis histeris secara tiba-tiba. Orang tersebut menangis sambil memeluk tongkonan berisi peti mati.

Suasana sekejap berubah menjadi haru, diikuti beberapa orang kerabat dekat yang juga menangis histeris. Peti jenazah lalu dilepaskan dari tongkonan hingga tersisa peti dan pancangnya. Peti tersebut kemudian dibawa ke lokasi makam yang berada sekitar 30 meter dari lokasi pemberkatan. Sebelum dibawa, peti berisi jenazah tersebut sengaja digoyang-goyangkan oleh semua tamu yang hadir, yang kemudian dibawa menuju pemakaman.

Sampai di lokasi pemakaman, pancang peti dipotong terlebih dahulu menggunakan gergaji, sehingga hanya meninggalkan peti jenazah. Yang menarik, peti tersebut tidak dikuburkan di dalam tanah. Dalam tradisi Suku Toraja, makam dalam peti justru dimasukkan ke dalam goa atau rumah kecil yang khusus menyimpan beberapa peti jenazah. Peti jenazah yang telah dimasukkan ke dalam rumah khusus tersebut menandakan sang roh sudah tidak ada lagi di dunia. Dia telah diantarkan oleh kerbau-kerbau yang dikorbankan menuju alam roh. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]