Indonesia Kaya App

Aplikasi untuk penikmat
budaya Indonesia

Unduh Gratis
Menyatukan Tujuh Mata Air Suci dalam Ritual Ngala Cai Kukulu

Menyatukan Tujuh Mata Air Suci dalam Ritual Ngala Cai Kukulu

Keesokan hari setelah melakukan ritual ngembang ke makam leluhur, para kokolot dipimpin oleh tetua adat beserta masyarakat Kampung Budaya Sindang Barang berkumpul di Imah Bali, Desa Pasir Eurih, kecamatan Tamansari, Bogor. Dengan mengenakan baju kampret yang dilengkapi iket di bagian kepala, 7 orang kokolot terlihat membawa kendi, satu orang lainnya membakar kemenyan sebagai wewangian. Mereka akan melakukan ritual yang dinamakan dengan Ngala Cai Kukulu, yaitu mengumpulkan air dari 7 sumber mata air yang dianggap suci.
 
Dari Imah Bali, tetua adat diikuti para kokolot dan masyarakat kemudian bergerak mengambil air dari satu sumur suci ke sumur yang lainnya. Selama proses mengambil air, kesenian angklung gubrag yang umumnya dimainkan oleh para ibu terus menemani hingga kembali ke Imah Bali. “Jika zaman kasepuhan Sunda dulu air diambil menggunakan kerek atau bambu, sekarang menggunakan kendi,” kata abah Encem Masta, salah satu kokolot Kampung Budaya Sindang Barang.



Jarak ke tujuh sumber mata air yang dianggap suci tidak terlalu jauh satu dengan lainnya. Semuanya masih berada dalam kawasan Desa Pasir Eurih dimana dahulu diyakini sebagai tempat salah satu Kasepuhan Sunda berada. Mata air suci yang diambil antara lain, Mata Air Cipamali, Cimaeja, Cikubang, Cimalipah, Ciputri, Cienging, dan Sumur Sri Baginda Jalutunda.
 
Setelah semua mata air sudah terkumpul di dalam kendi yang dibawa oleh 7 orang kokolot, arak-arakan Ngala Cai Kukulu pun kembali ke Imah Gede. Di Imah Gede kemudian air suci yang sudah terkumpul disatukan. Satu per satu kokolot memasukan air suci yang diambilnya ke dalam tempayan yang ditutup kain hitam dan putih sebagai simbol antara yang bersih dan kotor.

Campuran tujuh mata air suci tersebut terus dijaga oleh para kokolot hingga menjelang malam hari. Pada malam harinya, tempayan yang sudah berisi air tersebut kemudian dikelilingi oleh para kokolot dan warga Kampung Sindang Barang. Hidangan tumpeng, kue dan kembang tujuh rupa, serta bakaran kemenyan menjadi pelengkapnya. Dipimpin oleh Abah Ustad, campuran air suci tersebut kemudian didoakan dan dibacakan ayat Al Quran. Setelah air didoakan, para warga dan para kokolot bersama-sama menikmati hidangan yang ada. Sementara campuran tujuh mata air suci tersebut didiamkan hingga waktu helaran dongdang tiba. Pada saat helaran, air suci akan dicipratkan kepada semua orang yang mengharapkan berkah.  
   
Bagi masyarakat Kasepuhan Sunda di masa lalu, air menjadi salah satu unsur terpenting dalam kehidupan manusia. Tidak menghargai air berarti tidak menghargai alam, jauh dari air akan mendatangkan malapeta. Ritual menyatukan air yang sudah ada sejak zaman Pajajaran ini mempunyai arti penting yang menandakan persatuan dan kerukunan. Selain juga sebagai usaha untuk menjaga hubungan baik dengan alam, khususnya unsur air sebagai penopang utama kehidupan manusia. [AhmadIbo/IndonesiKaya]