Ngalak Air di Kutai Lama, Filosofi untuk Selalu "Kembali ke Asal"

Ngalak Air di Kutai Lama, Filosofi untuk Selalu "Kembali ke Asal"

Sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura tidak dapat dipisahkan dari suatu daerah di hulu Sungai Mahakam, yaitu Jahitan Layar atau Tepian Batu. Meski kejayaan Kesultanan Kutai dicapai saat ibukota telah berpindah ke Tangga Arung (Tenggarong), tetapi kisah panjang Kesultanan yang telah berusia lebih dari 700 tahun ini bermula di daerah yang sering disebut sebagai “Kutai Lama” tersebut.

Di daerah inilah, legenda tentang kemunculan dua bayi melalui dua kejadian misterius berasal. Bayi Aji Batara Agung Dewa Sakti dikisahkan muncul tiba-tiba di depan rumah seorang pembesar masyarakat Jaitan Layar. Bayi tersebut terbaring di atas Batu Raga Mas dengan tangan kanan menggenggam sebutir telur ayam dan tangan kirinya menggenggam keris emas. Dikisahkan bahwa tujuh dewa turun dan memberikan petunjuk pada sang pembesar bahwa anak tersebut berasal dari khayangan dan harus dibesarkan dengan cara yang berbeda dengan anak manusia biasa.

Sang permaisuri dikisahkan juga muncul secara misterius dari dasar Sungai Mahakam. Bayinya terbaring di atas gong yang dijunjung oleh seekor naga yang muncul dari pusaran air. Naga tersebut kemudian mengantarkan Putri Karang Melenu ke hadapan seorang petinggi Hulu Dusun yang telah membesarkan sang naga. Si pembesar kemudian menjadi orangtua angkat yang membesarkan Putri Karang Melenu hingga dewasa.

Keduanya kelak dinamai Aji Batara Agung Dewa Sakti dan Putri Karang Melenu, pasangan Raja dan Permaisuri Kutai yang pertama. Kedua sosok inilah yang menjadi cikal bakal garis keturunan keluarga besar bangsawan Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Meskipun Ibukota Kesultanan Kutai kemudian berpindah ke Tenggarong, keluarga Kesultanan Kutai tetap menganggap Kutai Lama sebagai kampung halaman dan asal muasal nenek moyang mereka. Karena itulah, setiap kali sebelum pelaksanaan Erau, terdapat ritual yang disebut ngalak air di Kutai Lama. Dalam ritual ini, air dari Kutai Lama dibawa ke Keraton Kutai untuk digunakan dalam berbagai ritual sepanjang pelaksanaan Erau. Ritual ini juga mengandung pesan filosofis agar selalu mengingat asal muasal nenek moyang dan mempertahankan kearifan leluhur yang telah diwariskan.

Ngalak air di Kutai Lama dilakukan satu atau dua hari sebelum diselenggarakannya upacara mendirikan tiang ayu yang menandai dimulainya Erau. Dalam ritual ini, masing-masing seorang utusan dewa (wanita pengabdi ritual) dan belian (pria pengabdi ritual) diberangkatkan bersama perwakilan Kesultanan. Rombongan berangkat melalui jalur air menyusuri Sungai Mahakam, menggunakan speedboat. Bersama rombongan ini, disertakan kelengkapan ritual antara lain beras wija kuning, wijen hitam yang dicampur dupa, air tepong tawar, arang yang membara, kembang, dan beberapa butir telur.

Berbagai kelengkapan tersebut digunakan untuk pelaksanaan ritual besawai dan melaboh tigu (mempersembahkan telur) yang dimaksudkan sebagai permohonan izin/tuah serta pemberitahuan kepada penghuni alam gaib tentang pelaksanaan Erau. Ritual besawai dan melaboh tigu dilakukan di beberapa titik, yaitu di ujung utara Pulau Kumala, Loa Gagak (Loa Kulu), Pamerangan (Jembayan), Tepian Aji (Samarinda Seberang), dan Tepian Batu (Kutai Lama). Pada titik terakhir (Tepian Batu), kapal akan berputar sebanyak tiga kali sebelum dilakukannya besawai dan melaboh Tigu.

Setelah rangkaian ritual di atas selesai, perwakilan Kesultanan mengambil air dengan guci khusus. Air Kutai Lama ini dibawa kembali ke Tenggarong dan ditempatkan di dekat Tiang Ayu yang berada di Ruang Stinggil (Siti Hinggil), Keraton Kutai. Setiap hari, isi dari guci ini akan ditambahkan dengan air Sungai Mahakam yang diambil dari dermaga di depan Museum (Keraton) melalui ritual mengundang air dan ngalak air tuli, untuk selanjutnya digunakan dalam ritual-ritual Erau. Bersamaan dengan ritual mengulur naga pada hari ke-6 pelaksanaan Erau, air dalam guci ini dikembalikan ke sumber asalnya di Kutai Lama. [Ardee/IndonesiaKaya]