Nilai Luhur dalam Tarian Pesta Ulat Sagu Suku Asmat - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

tarian_pesta_ulat_sagu_1290.jpg

Nilai Luhur dalam Tarian Pesta Ulat Sagu Suku Asmat

Di balik dentuman tifa dan gerak para perempuan Asmat, tersimpan ritual sakral yang menjadi ungkapan syukur atas sumber kehidupan masyarakat Papua: sagu.

Kesenian

Sagu adalah makanan khas Indonesia timur yang berasal dari tepung dan berasal dari batang pohon Sagu. Makanan karbohidrat ini mempunyai fungsi yang sama dengan nasi atau gandum yang menjadi makanan pokok Indonesia secara umum. Keberadaan sagu begitu penting bagi masyarakat Papua, termasuk suku Asmat yang mendiami wilayah pesisir selatan pulau Papua. Makanan ini seperti sumber kehidupan bagi sebagian besar warga dan sangat dibutuhkan dalam menunjang kehidupan harian mereka. Karena hal inilah, maka masyarakat Asmat pun mempunyai sebuah ritual yang berkaitan dengan keberadaan sagu sebagai makanan pokok mereka.

Para wanita Asmat pun mulai merias wajah mereka dengan cat putih yang mereka buat dari zat kapur cangkang kerang sungai. Mereka mulai membuat lukisan-lukisan unik di wajah dan membiarkannya menutupi hampir seluruh permukaan kulit. Hiasan kepala yang berupa mahkota bulu burung kasuari pun mulai dipakai oleh beberapa orang wanita. Memang sebagian besar mereka masih memakai kaus dan celana pendek modern sebagai pakaian, namun ada beberapa dari mereka yang akhirnya melepaskan bajunya dan bertelanjang dada. Para wanita ini sedang mempersiapkan sebuah ritual yang berkenaan dengan pengucapan syukur tarian pesta ulat sagu.

Tarian pesta ulat sagu merupakan wujud ungkapan syukur masyarakat suku Asmat atas limpahan berkat Tuhan melalui hasil panen sagu.

Tarian pesta ulat sagu merupakan wujud ungkapan syukur masyarakat suku Asmat atas limpahan berkat Tuhan melalui hasil panen sagu. Tarian ini biasanya dipentaskan menjelang maupun setelah masa panen sebagai bagian dari tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Bagi masyarakat Asmat, tarian tersebut dipercaya dapat menyenangkan hati Tuhan sekaligus menjadi bentuk penghormatan terhadap alam yang memberi kehidupan.

Kesenian ini memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Asmat dan menjadi salah satu tarian wajib yang dikenal dalam budaya mereka. Tarian pesta ulat sagu juga hanya dapat dibawakan oleh perempuan Asmat. Hal ini berkaitan dengan pembagian peran dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Asmat, di mana kaum perempuan bertugas menanam dan mencari bahan makanan, sementara kaum laki-laki umumnya berburu serta membuat ukiran kayu.

Tarian pesta ulat sagu juga hanya dapat dibawakan oleh perempuan Asmat.

Para wanita Asmat telah berbaris rapih dan mengambil tempat di pelataran jew kira-kira 50-60 orang. Kaum pria berada di sekitar mereka dan mengambil bagian dalam permainan tifa untuk mengiringi tarian. Sebagian lagi duduk di sekeliling jew dan menyaksikan para wanita mulai menari. Awalnya, beberapa tetua suku yang bermain tifa mulai meneriakkan sebuah yel-yel penyemangat yang diikuti tanggapan para wanita penari. Tifa pun mulai dibunyikan membentuk sebuah tempo yang memberikan kesan mistis dalam tarian. Suasana ruangan jew pun mulai terbentuk senyap dan tarian pun dimulai.

Pinggul para penari mulai digoyangkan ke kanan dan kiri tentu saja dengan lantunan syair lagu mereka yang secara umum berisi ucapan syukur atas berkat Tuhan. Penari terbagi menjadi dua kelompok besar dan saling berhadapan. Mereka mulai bergerak maju sambil setengah jongkok menggoyangkan pinggul mereka. Gerakan ini terus mereka lakukan hingga 2 kelompok besar ini bertukar tempat dan irama tifa mendadak berhenti. Salah satu pemain tifa mulai melantunkan syair pengucapan syukur yang diikuti kembali oleh teriakan para penari.

Tarian khas Asmat yang satu ini memang memiliki daya tarik magis tersendiri.

Tarian pun berlanjut lagi seperti dan diulang beberapa kali sampai akhirnya selesai sebanyak 5 pengulangan. Banyaknya pengulangan tergantung pemimpin tarian yang memegang kendali pengucapan syukur. Tarian yang biasa ditampilkan dalam pesta adat panen sagu ini benar-benar menunjukkan pesonanya.

Tarian khas Asmat yang satu ini memang memiliki daya tarik magis tersendiri. Berbeda dengan tarian lain yang umumnya bercerita tentang perang atau perkawinan, tarian pesta ulat sagu adalah sebuah pengucapan syukur atas berkat Tuhan dan suku Asmat membuatnya terasa sangat sakral. Tarian ini tidak saja menjadi sebuah tradisi budaya suku Asmat, melainkan juga merupakan aset kekayaan bangsa Indonesia khususnya warga Papua di hadapan masyarakat dunia. Tarian ini adalah sebuah kearifan lokal yang perlu untuk dipelajari untuk lebih lagi mengenal nilai-nilai luhur Asmat yang secara positif dapat diterapkan di dalam kehidupan.

Informasi Selengkapnya
  • NULL

  • Indonesia Kaya