Pala yang Melegenda Dan Keberadaannya Kini

Pala yang Melegenda Dan Keberadaannya Kini

Sepintas bentuknya mirip buah duku tetapi dengan ukuran yang sedikit lebih besar. Buah ini berbentuk bulat lonjong, berdaging buah, dan beraroma khas karena mengandung minyak atsiri. Kulitnya berwarna coklat muda dengan ketebalan sedang. Daun tanaman ini berbentuk elips langsing dengan warna hijau tua. Buahnya bergelantungan di seluruh bagian pohon, namun tidak dalam satu rangkaian. Bila buah ini masak, maka kulit dan daging buahnya akan membuka,bijinya akan terlihat dengan warna merah. Buah sekaligus rempah ini bernama Pala.
    
Pala merupakan satu tanaman buah yang namanya sudah mendunia sejak dahulu kala. Para pedagang kuno sudah banyak mengincar tanaman ini karena nilai jual tinggi dan permintaan kebutuhan yang sangat banyak. Bagian utama yang banyak menjadi incaran para pedagang adalah biji dan daging buahnya. Konon, buah dan biji Pala sudah menjadi komoditi perdagangan yang penting sejak masa Romawi berkuasa di seperempat bagian bumi. Biji pala yang sudah dikeringkan adalah bahan utama pembuatan berbagai masakan, biasanya biji pala ini akan digerus dan dibentuk menjadi bubuk. Salah satu penyebab Pala menjadi istimewa adalah minyak Atsiri yang terkandung dalam buahnya secara alami.
    
Indonesia patut berbangga karena menjadi salah satu penghasil Pala tersubur yang pernah ada di muka bumi. Tidak heran bila para pedagang Arab sudah lama menjajaki wilayah Indonesia untuk berdagang rempah populer ini. Bahkan, penjajahan yang terjadi di Nusantara oleh bangsa-bangsa Eropa seperti Portugis, Spanyol, maupun Belanda disebabkan oleh hasrat monopoli perdagangan rempah-rempah seperti Pala. Salah satu penghasil Pala di Nusantara adalah Maluku dan Maluku utara. Tanaman tropis ini tumbuh subur di tempat ini.

Untuk mendapatkan kualitas biji dan daging buah terbaik dari Pala, proses yang dilalui pun tidak sebentar. Panen pertama dilakukan dalam kurun waktu tanam tujuh sampai sembilan tahun. Setelah berjalan normal, produksi maksimum tanaman ini diperoleh setelah berumur 25 tahun. Tanaman Pala merupakan tanaman yang kuat dan berumur sangat panjang hingga ratusan tahun dengan ketinggian mencapai 20 meter. Setelah Pala dipanen, dagingnya dapat langsung dikonsumsi sedangkan bijinya harus dijemur dan dipisahkan dari fuli atau kulit pembungkusnya. Pengeringan ini pun memakan waktu hingga delapan minggu dan bagian dalam biji akan menyusut. Cangkang biji tersebut akan pecah dan bagian dalam inilah yang akan dijual sebagai Pala.
    
Buah Pala yang memiliki nama ilmiah Myristica fragrans ini memang terkenal akan citarasanya dalam bidang masakan, namun ternyata Pala juga punya banyak manfaat bagi bidang kehidupan lainnya. Para ahli yang meneliti tentang kandungan nutrisi buah Pala menemukan bahwa Buah Pala mengandung senyawa-senyawa kimia yang bermanfaat bagi kesehatan. Sebagai contoh, kulit dan daging Pala mengandung minyak Atsiri dan zat Samak, bunganya mengandung zat pati, dan biji Pala sendiri mempunyai kandungan Atsiri, Saponin, Miristisin, Enzim Lipase, Pektin, Lemonela, serta asam oleanolat yang sangat dibutuhkan tubuh manusia. Buah Pala dapat mengobati susah tidur, masuk angin, rematik, melancarkan pencernaan, peningkatan selera makan, meringankan nyeri haid, bahkan mengatasi rasa mual di tubuh.
    
Seiring perkembangan jaman dan teknologi yang mengikutinya, kini pengolahan Pala tidak hanya untuk membuat bubuk dan daging manisan saja. Beberapa produk lain sudah banyak dihasilkan seperti sirup Pala, kripik Pala, bahkan minyak gosok yang berbahan dasar Pala. Tanaman Pala adalah tanaman kuno yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Tidak hanya populer secara historis, Pala ternyata memiliki kandungan kimia yang luar biasa berguna bagi manusia. Oleh karena itu, Indonesia sudah sewajarnya bangga memiliki wilayah dengan populasi tanaman Pala yang cukup luas seperti Maluku serta Maluku Utara. Tantangan selanjutnya adalah menjaga keberadaannya dan mengembangkan berbagai produk yang dapat dihasilkan dan diperdagangkan hingga seluruh penjuru dunia. [Phosphone/IndonesiaKaya]