Pertarungan para Satria

Pertarungan para Satria

Penonton membuat lingkaran di dalam arena yang disebut danding, sementara dua kelompok pemuda saling berhadapan sambil bernyanyi-nyanyi. Dua kelompok pemuda itu bertelanjang dada. Bagian bawahnya mengenakan kain selimut tenun adat dan dilengkapi giring-giring pada bagian pinggang. Pada bagian kepala, dihiasi topi yang dibuat menyerupai tanduk kerbau, atau biasa disebut dengan panggal, dan dilengkapi hiasan ekor kuda (ndeki). Para pemuda tersebut memegang cambuk lengkap dengan tameng. Mereka sedang bersiap mementaskan tarian kolosal bernama tari caci.

Tari caci berasal dari Flores, Manggarai. Tari ini awalnya berkembang di sebuah desa yang bernama Desa Todo, Kecamatan Satarmesa. Secara etimologi, “caci” berasal dari kata “ca” yang berarti satu dan “ci” yang berarti uji. Secara harfiah, tari caci dapat diartikan sebagai tarian yang dipentaskan satu lawan satu. Beberapa sumber mengatakan “caci” juga berasal dari nyanyian para penari yang meneriakkan bunyi “ca ci ca ci ca ci” saat pementasan.

Tari caci biasanya dimainkan oleh dua orang yang berasal dari dua kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 3-5 orang. Tarian ini dilakukan dengan cara menyabetkan pecut kepada lawannya. Sambil menahan pecutan, biasanya penari caci juga bernyanyi. Konon, suara nyanyian tersebut merupakan bentuk provokasi terhadap lawan.

Pecut atau cambuk yang digunakan penari caci berasal dari batang janur kuning, bagian ujung disambung dengan tali yang terbuat dari sabut kelapa. Panjang pecut penari caci bisa mencapai 2 meter. Sementara, tamengnya terbuat dari kulit kerbau atau babi yang telah dikeringkan, lalu pada sisi-sisinya dilapisi rotan dan diberikan penyangga pada bagian dalam sebagai pegangan.

Sepanjang pementasan, para penari terus menyanyikan lagu-lagu daerah Manggarai seperti “Taki Ta” dan “Tatung” – diiringi musik yang bersumber dari gong dan gendang. Musik yang dimainkan biasanya musik-musik yang berirama penuh semangat sehingga mampu memacu adrenalin para penari.

Tari caci merupakan salah satu tarian sakral. Dahulu, tarian ini digunakan untuk mencari pembuktian siapa yang benar dan siapa yang salah. Berdasarkan perkembangannya, tari ini tidak lagi digunakan untuk memecahkan suatu perkara. Tari caci dipentaskan untuk hal-hal yang lebih bersifat profan, seperti dalam pesta rakyat pergantian tahun atau ketika para petani ingin membuka lahan garapan.

Untuk menarikan tari ini, terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi. Harus laki-laki, mahir menangkis dan memukul lawan, mampu menari dan bernyanyi lagu-lagu daerah, dan yang terpenting harus berbadan atletis. Tak salah jika penari caci adalah orang-orang pilihan, pasalnya dahulu tari caci merupakan salah satu bentuk olahraga Suku Manggarai sebagai sarana menempa diri, menghasilkan orang-orang yang berjiwa, satria dan mampu mengendalikan emosi. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]