Satu Benteng dan Banyak Kisah Di Dalamnya

Satu Benteng dan Banyak Kisah Di Dalamnya

Angin semilir menjadi penyegar udara di Pulau Ambon yang terasa hangat siang itu. Perjalanan yang cukup panjang harus kami lewati untuk mencapai satu wilayah bernama Negeri (desa) Hila dimana terdapat beberapa situs peninggalan sejarah. Kurang lebih 35 km jarak yang kami tempuh dari kota Ambon dengan lama waktu sekitar 40 menit saja. Kami menuju salah satu dari peninggalan sejarah tersebut, situs itu adalah Benteng Amsterdam.

Negeri Hila merupakan sebuah desa yang begitu tenang dan nyaman, begitu juga akses menuju Benteng tua ini. Sesampainya di pintu gerbang situs sejarah ini, suasana keteduhan pun terasa. Mungkin hal ini dikarenakan sebuah pohon beringin besar yang memayungi hampir separuh wilayah Benteng Amsterdam. Suara kicau burung walet yang bersarang di dalam Benteng pun terdengar riuh menemani dan berlomba dengan ramainya desir ombak. Benteng Amsterdam memang terletak tepat di pinggir pantai Pulau Ambon bagian utara dan menghadap langsung ke Pulau Seram.

Walaupun Benteng ini bernama Amsterdam, namun sebenarnya situs ini merupakan bangunan yang dibangun oleh tentara Portugis sejak tahun 1512. Pada masa itu, Benteng Amsterdam hanyalah sebuah Loji atau Gudang Penyimpanan hasil bumi seperti cengkeh atau pala yang merupakan objek monopoli perdagangan dan kekuasaan Bangsa Portugis di Tanah Ambon. Nama Amsterdam didapat ketika kekuasaan Portugis berakhir dan beralih kepada perusahaan dagang Belanda VOC yang juga berambisi menguasai perdagangan rempah-rempah dari Maluku sejak tahun 1605. Benteng ini resmi bernama Amsterdam tepatnya pada tahun 1649, ketika pemugarannya sempurna diselesaikan oleh salah seorang Gubernur Jenderal Belanda yang bernama Arnold de Vlaming van Ouds Hoorn. Bangunan ini pun resmi beralih dari hanya gudang penyimpanan menjadi sebuah benteng pertahanan Belanda.

Bangunan utama Benteng Amsterdam berbentuk seperti rumah, itu sebabnya pada masa lalu VOC menyebut bangunan ini sebagai blok huis (rumah dalam bahasa Belanda). Bangunan ini berlatai 3 dan memiliki fungsi yang berbeda. Lantai 1 yang paling bawah adalah tempat tinggal bagi para serdadu termasuk gudang senjata, lantai 2 diperuntukan bagi para perwira dan lantai 3 yang paling atas adalah menara pengintai. Kami berkeliling wilayah benteng ini baik di luar maupun dalamnya, dan semua mengesankan. Bangunan utama dikelilingi pagar yang dilengkapi beberapa menara jaga dan menghadap langsung ke lautan. Konon, ketika Benteng ini dikuasai oleh VOC, benteng ini menjadi kubu pertahanan Belanda dari pemberontakan masyarakat lokal yang dipimpin oleh seorang Kapitan Kakialy.

Selain menjadi saksi sejarah pendudukan Portugis dan VOC di Ambon, Benteng Amsterdam ternyata juga menyimpan kisah lain. Benteng cantik ini pernah menjadi tempat tinggal seorang ilmuwan biologi terkenal asal Jerman yang bernama G.E Rumphius pada rentang tahun 1627-1702. Setelah melakukan perjalanan panjang di wilayah Timur Asia dalam misi penelitiannya, Rumphius pun memutuskan untuk tinggal di Ambon hingga akhir hayatnya. Bahkan, kabarnya Rumphius pun menikah dan berkeluarga dengan rakyat lokal Ambon. Rumphius merupakan seorang ilmuwan yang cukup penting dalam dunia biologis, dimana beberapa karya penelitiannya seperti D’Ambonsche Rariteirkamer (1705) adalah dasar penting bagi dunia flora dan fauna otentik Maluku.

Benteng Amsterdam seakan membius kami untuk terus menikmati kisah sejarah di balik keberadaannya yang berpadu dengan indahnya arsitektur khas eropa masa lampau. Kami menyadari bahwa sejarah adalah sesuatu yang penting untuk menjadi dasar berdirinya sebuah peradaban. Kisah Benteng Amsterdam sudah menuturkannya pada kami untuk kami bagikan lebih lagi bagi Anda. Maluku, khususnya pulau Ambon memiliki banyak “mutiara” yang menjadi bagian kekayaan besar Indonesia dan Benteng Asterdam adalah satunya. [Phosphone/IndonesiaKaya]