Indonesia Kaya App

Aplikasi untuk penikmat
budaya Indonesia

Unduh Gratis
Senja Bermakna di Desa Wisata Arborek

Senja Bermakna di Desa Wisata Arborek

Siang menjelang sore itu angin bertiup dengan semilir, memberikan ketenangan di tengah lautan Raja Ampat. Ombak yang berbuih lebat memancar liar di sepanjang pinggir perahu motor yang kami tumpangi. Langit pun seakan tak mau kalah menunjukkan keunggulan lewat warna biru memikatnya. Deretan pulau tak berpenghuni berjajar di sepanjang mata memandang, seolah mengantarkan perjalanan kami menuju Desa Arborek.

Kata Arborek sendiri dalam bahasa masyarakat setempat berarti duri. Menurut warga Desa Arborek, ketika nenek moyang mereka yang berasal dari wilayah Biak memasuki pulau ini, kondisi permukaan pulau hampir rata tertutup dengan semak duri. Mereka pun akhirnya membersihkannya, membangun komunitas, dan bertahan hidup di pulau itu hingga kini menjadi sebuah desa wisata yang bernama Desa Arborek.

Desa bersemak duri tersebut kini menjadi salah satu desa wisata yang berada di kepulauan Raja Ampat. Untuk menuju Arborek diperlukan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam perjalanan dari pelabuhan Waisai dengan menggunakan perahu motor cepat. Desa ini memiliki banyak hal menarik bagi para wisatawan, itu sebabnya pemerintah setempat menetapkan desa ini sebagai kawasan wisata. Salah satu hal yang mengawali rasa tertarik kami untuk mengunjungi desa ini adalah kondisi desa yang berupa sebuah pulau berukuran kurang lebih 7 hektar saja.

Memasuki wilayah perairan Arborek, pulau yang tidak terlalu besar itu pun mulai terlihat. Hamparan pasir putih dengan deretan pohon kelapa pun mulai menyambut kedatangan kami. Ternyata kami tidak sendirian, sebuah kapal besar dengan misi pendidikan pun sudah lebih dulu sampai di Desa Arborek. Sembari perahu kami merapat di dermaga, anak-anak Desa Arborek pun terlihat sedang belajar di kapal misi tersebut dengan begitu gembira. Sebagian dari mereka bernyanyi riang dan sebagian lagi terlihat snorkeling berkelompok di sekitar dermaga. Sungguh situasi yang cukup ceria untuk menerima kedatangan kami di Desa Arborek.

Kami pun mulai menjejakkan kaki di desa pulau itu. Hal pertama yang kami lakukan adalah mengisi buku tamu yang terdapat dalam sebuah pos di dermaga. Kemudian, sebuah gapura bertuliskan Selamat Datang di Desa Wisata Arborek pun mempersilahkan untuk masuk. Pasir putih yang menghampar menjadi alas kaki kami dan terlihat juga menutupi seluruh permukaan desa. Wajah-wajah ceria para penduduk desa yang ramah seakan menghangatkan keberadaan kami di Arborek. Kami menikmatinya dan kini penjelajahan ini akan segera dimulai.

Kami dapat mengelilingi Desa Arborek yang berupa pulau ini hanya dalam waktu 30 menit. Tidak heran, karena dilihat dari jumlah penduduknya saja kami sudah dapat mengetahui bahwa Arborek adalah desa kecil. Total kepala keluarga di desa ini hanya berjumlah 80 orang, ini berarti jumlah penduduk desa ini tidak lebih dari 300 orang. Namun, desa ini sudah tergolong lengkap dengan infrastruktur yang memadai. Sekolah dasar, gereja, kantor pemerintahan, dan beberapa warung yang menjual barang-barang kebutuhan sudah tersedia di Arborek. Masyarakat pun tidak akan kesulitan air tawar dan listrik karena pemerintah sudah menyediakannya. Hanya saja, untuk sinyal telepon genggam memang agak sulit. Bahkan, warga Arborek harus rela menggantungkan telepon genggamnya di sebuah pohon demi mendapatkan sinyal yang terkadang muncul dan hilang.

Sulitnya sinyal tidak akan sebanding dengan tradisi dan kesenian yang menjadi harta tak ternilai milik masyarakat Arborek. Masyarakat desa ini memiliki budaya yang luar biasa. Mulai dari tari-tarian tradisional, kerajinan anyaman khas Arborek yang sudah terkenal hingga mancanegara, hingga berbagai macam kuliner tradisional seperti papeda atau sinole yang dapat kami nikmati langsung berikut proses pembuatannya. Karena keistimewaannya inilah, tidak salah bila pemerintah memilih Arborek sebagai pelopor pengelolaan desa-desa wisata di Raja Ampat dan contoh nyata bagi 18 desa wisata lain yang sedang berkembang.

Setelah lelah berkeliling Desa Arborek, akhirnya kami beristirahat di salah satu sudut rumah warga. Dengan penuh keramahan, beberapa ibu menawari kami secangkir teh hangat atau kopi panas secara cuma-cuma. Kami pun bercengkrama dengan beberapa warga sambil melihat proses pembuatan anyaman daun pandan khas Arborek. Ternyata, anyaman ini adalah hasil kerajinan warga yang telah diangkat menjadi produk unggulan kabupaten Raja Ampat. Produk anyaman ini dapat berupa topi, tas, atau tempat telepon genggam dan mempunyai kualitas yang cukup sempurna untuk segera dipasarkan. Menurut beberapa warga, karena keunggulannya, kerajinan ini bahkan dapat menjadi penghasilan bagi warga Desa Arborek.

Tidak terasa, hari semakin senja. Matahari tampak mulai tenggelam ke peraduan ufuk barat. Dari kejauhan, beberapa wisatawan yang sejak siang memancing di sekitar pantai dan dermaga mulai mengemas alat-alat pancing mereka beserta hasil pancingannya. Memancing memang tidak dilarang di Arborek, yang dilarang adalah mengambil berbagai biota laut yang dilindungi dengan bahan-bahan peledak atau pembiusan. Beberapa warga yang lelah melakukan snorkeling pun mulai melepas lelah mereka di bibir pantai sambil menikmati matahari tenggelam yang indah.

Tidak lama, kami pun memutuskan untuk kembali ke perahu. Setelah berpamitan dengan beberapa warga yang menemani kami mengobrol, kami pun beranjak menuju ke dermaga. Menjelajahi desa kecil Arborek menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan. Desa ini sudah mengingatkan kami akan betapa kayanya Indonesia baik di mata warga Negara maupun masyarakat dunia. Kini, kembali lagi kepada kita bagaimana mempertahankan dan mengembangkan kekayaan ini untuk Indonesia yang lebih baik lagi. Akhirnya sejalan dengan semilir angin senja, perahu motor kami pun berlayar kembali untuk kembali ke Waisai dengan membawa kenangan indah di Desa Arborek. [@phosphone/IndonesiaKaya]