Sentra Industri Lokal Lepo Lorun: Mempertahankan Warisan Budaya di Tengah Gempuran Era Modernisasi

Sentra Industri Lokal Lepo Lorun: Mempertahankan Warisan Budaya di Tengah Gempuran Era Modernisasi

Kesenian Nusa Tenggara Timur

Jika berbicara dunia fashion di dalam negeri, sebenarnya Indonesia banyak sekali memiliki benda-benda seni bernilai tinggi yang berkaitan dengan industri mode yang bisa dimanfaatkan untuk menambah keragaman dari dunia fashion dalam negeri. Songket, tenun ikat, dan batik merupakan sebagian kecil dari barang seni bernilai tinggi yang tentu bisa dimanfaatkan oleh para pelaku industri mode di Indonesia, dan diolah menjadi sebuah barang bermutu tinggi. Saat ini sudah banyak usaha yang digalakkan untuk menggerakan penggunaan barang tradisional dalam industri fashion di Indonesia. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah minat masyarakat Indonesia untuk membeli barang-barang tersebut sudah tinggi? Salah satu faktor yang mendukung bertahannya barang-barang seni bernilai tinggi tersebut adalah minat para konsumen untuk menggunakannya. Selain itu pula, kita harus bertanya kontribusi apakah yang telah dilakukan untuk mempertahankan kelestarian dari barang-barang seni tersebut.

Sentra Industri Lokal Lepo Lorun (STILL) merupakan salah satu bukti nyata dari usaha pelestarian barang seni bernilai tinggi yang berada di Desa Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Diprakarsai oleh Alfonsa Horeng, sentra industri ini diresmikan pada 24 Mei 2004 dan bertujuan untuk mempertahankan budaya yang sudah turun-temurun diwariskan oleh para leluhur, serta mengenalkan produk tenun ikat tersebut ke luar daerah bahkan luar negeri. Pembuatan tenun ikat di STILL masih dikerjakan secara manual dan proses pewarnaan tenun ikat ini masih menggunakan bahan-bahan alami yang didapat dari kulit tanaman mengkudu, kayu pohon hepang, dadap serep, kunyit, dan kulit pohon mangga. Alfonsa Horeng mengaku sentra industri ini pada awalnya hanyalah proyek "iseng" semata, kemudian menggarap proyek ini lebih serius ketika melihat keseriusan dari ibu-ibu yang diajaknya bergabung dalam mengerjakan proyek ini.

Sentra tenun ikat ini tersebar di tujuh belas desa di Kabupaten Sikka. Para penenun diberi gelar seniwati karena menurut Alfonsa, tenun ikat merupakan seni yang bernilai tinggi dan juga bagian dari identitas budaya bangsa yang bernilai folk art. Melihat usaha dari para ibu-ibu di Kabupaten Sikka, sudah seharusnya kita mulai ikut berkontribusi untuk melestarikan barang seni yang bernilai sangat tinggi ini. Salah satu bentuk kontribusi yang nyata ialah membantu menyebarkan informasi mengenai keistimewaan tenun ikat ini. [Anggey/IndonesiaKaya]