Tradisi Gebuk Bantal Kalimalang Setiap Agustusan Tiba

Tradisi Gebuk Bantal Kalimalang Setiap Agustusan Tiba

Kesenian Jakarta

Dua orang bersiap menuju arena gebuk bantal yang berupa sebatang bambu yang diletakan di tengah kali. Dengan bantal yang sudah mereka genggam, ketegangan begitu terlihat di wajah mereka. Sore itu, di kawasan sekitar Cipinang Bali, Kalimalang, mereka akan mengadu kelihaian memukul lawan agar tidak terjatuh dari bambu dan tercebur ke Kalimalang, lokasi yang setiap tahun menggelar lomba gebuk bantal yang sudah menjadi tradisi tahunan ini.

Hitung mundur pun dimulai, kedua peserta bersiap mengayunkan bantal ke lawan masing-masing. Pertandingan pun dimulai, saling jual beli pukulan dengan bantal terjadi silih berganti. Keseruan terjadi ketika salah satu peserta kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh, namun dengan sekuat tenaga sang peserta bertahan karena bila dia terjatuh maka akan dinyatakan kalah. Teriakan-teriakan dari masyarakat yang menyaksikan langsung menambah keseruan yang terjadi di ajang yang menjadi daya tarik tersendiri di kawasan timur Jakarta ini.

Klimaksnya, ketika salah satu peserta terjatuh dan tercebur kali diikuti teriakan seluruh penonton yang meneriaki peserta yang kalah. Dua ekspresi berbeda terlihat dari kedua peserta yang bertanding.  Penyesalan di peserta yang tercebur dan tentu saja kegembiraan di kubu pemenang. Sistem pertandingan gebuk bantal sendiri dibuat seperti kompetisi dimana sang pemenang akan diadu kembali dengan pemenang yang lainnya sampai ditemukan satu pemenang yang terkuat.

Selain laki-laki, tradisi adu gebuk bantal ini juga diikuti kaum perempuan. Mereka tidak mau kalah dengan kaum laki-laki untuk unjuk kebolehan beradu gebuk bantal. Penonton terlihat lebih bersemangat menyaksikan gebuk bantal kaum perempuan apalagi ketika salah satu mereka ada yang terjatuh suasana gelak tawa langsung terdengar di area sekitar pertandingan.

Ajang gebuk bantal memang menjadi daya tarik tersendiri setiap hari kemerdekaan tiba. Area sekitar pertandingan selalu dipenuhi warga yang ingin menyaksikan keseruan dari perlombaan tradisional ini. Kawasan sekitar Kalimalang selalu macet saat perlombaan berlangsung bahkan hingga sore hari penonton seperti enggan beranjak dari area pertandingan. Tidak hanya gebuk bantal yang menjadi daya tarik di ajang tahunan ini, namun panjat pinang juga berhasil mencuri perhatian warga.         

Tradisi gebuk bantal di Kalimalang sudah ada sejak sekitar tahun 1990-an. Awalnya warga Cipinang Bali hanya menggelar tradisi lomba panjat pinang setiap hari kemerdekaan tiba, namun dua tahun kemudian warga sekitar menambah hiburan berupa lomba gebuk bantal yang ternyata banyak menarik minat warga sekitar Kalimalang. Kegiatan inipun berlanjut hingga saat ini dan mengundang kegembiraan bagi warga sekitar dan juga orang-orang yang tinggal di seputar Jakarta. [Tauhid/IndonesiaKaya]