Waruga

Foto : Tim Indonesia Kaya

Indonesia memang kaya akan hal-hal unik yang bisa dijadikan sebagai obyek wisata. Seperti halnya dengan masyarakat Toraja yang memiliki makam-makam yang unik, maka masyarakat Minahasa mempunyai Waruga, makam khas daerah setempat yang terbuat dari batu yang bentuknya mirip dengan rumah. Waruga terdiri dari dua bagian, yaitu: badan dan tutup. Bagian badan berbentuk kotak yang terbuat dari batu utuh yang bagian dalamnya dipahat untuk membuat rongga atau ruang sebagai tempat menyemayamkan jenazah. Bagian atas atau tutupnya berbentuk bubungan rumah. Secara keseluruhan, waruga memiliki lebar sekitar satu meter, dan tinggi antara satu hingga dua meter. Leluhur masyarakat Minahasa memang tidak dikuburkan di dalam tanah, tetapi dimasukkan ke dalam waruga ini.

Waruga berasal dari dua kata “waru” yang berarti “rumah” dan “ruga” yang berarti “badan”. Jadi secara harfiah, waruga berarti “rumah tempat badan yang akan kembali ke surga”.

Saat dimasukkan ke dalam waruga, jenazah berada dalam posisi tumit yang bersentuhan dengan bokong, dan mulut seolah mencium lutut. Persis seperti posisi bayi dalam rahim. Filosofi posisi ini bagi masyarakat Minahasa adalah manusia mengawali kehidupan dengan posisi bayi dalam rahim, maka semestinya mengakhiri hidup juga dalam posisi yang sama. Dalam bahasa setempat, filosofi ini dikenal dengan istilah “whom”.  Tidak hanya itu, jenazah juga ditempatkan dalam posisi menghadap ke arah utara yang menandakan nenek moyang suku Minahasa yang berasal dari utara.

Di bagian bubungan waruga, terdapat ukiran yang berfungsi sebagai penanda keluarga, pekerjaan, kapan jenazah dimasukkan ke dalamnya. Ukiran-ukiran ini dibuat dalam berbagai corak, diantaranya tumbuh-tumbuhan, hewan, atau motif geometri tradisional. Jika di dalam bubungan terdapat gambar hewan, berarti jenazah yang dimasukkan ke dalam, dulunya memiliki pekerjaan sebagai pemburu.

Penggunaan waruga sebagai tempat pemakaman sempat berlangsung hingga ratusan tahun. Namun sekitar tahun 1860, waruga dilarang digunakan karena diduga sebagai sumber berjangkitnya penyakit tiphus dan kolera. Biasanya satu keluarga memiliki satu waruga, yang dibangun oleh salah satu anggota keluarga, mulai dari memilih batu hingga memahat batu itu menjadi berbentuk waruga.

Makam-makam batu ini pada awalnya terpencar di beberapa desa di Kabupaten Minahasa, tapi kemudian direlokasi dan disatukan di lokasi pemakaman Sawangan. Jumlah waruga yang ada di tempat ini sebanyak 104 dotu atau marga. Namun dari 104 waruga, hanya puluhan marga saja yang bisa diidentifikasi, diantaranya: Wenas, Karamoy, Kalalo, Tangkudung, Rorimpandey, Mantiri, dan Kojongian. Waruga milik dotu Tangkudung memiliki ukiran orang-orang sedang bermusyawarah yang dipimpin Tangkudung, itu menandakan kalau jenazah yang ada di dalam waruga dulunya bekerja sebagai hakim.

Desa Sawangan yang menjadi tempat relokasi waruga-waruga ini terletak di Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Di sisi kiri dan kanan jalan masuknya, pengunjung bisa melihat relief yang bercerita tentang proses pembuatan dan penggunaan Waruga. Lokasi ini berjarak sekitar 40 kilometer dari kota Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara. Dengan menggunakan kendaraan pribadi bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu jam.

Kalau menggunakan kendaraan umum atau mikrolet, bisa memakan waktu sekitar 1,5 jam. Dan jika ingin angkutan umum yang lebih nyaman, pengunjung bisa memilih taksi sebagai alternatif.

Situs ini dibuka dari pukul 08:00 – 18:00 waktu setempat, dan setiap pengunjung objek wisata ini akan didampingi  oleh seorang pemandu wisata. Tersedia juga motel atau vila di desa sekitar, bagi pengunjung yang ingin menikmati waktu lebih lama di tempat ini. [TimIndonesiaExploride/IndonesiaKaya]