Wayang Kulit Banjar

Wayang Kulit Banjar

Foto : Tim Indonesia Exploride

Wayang Banjar adalah wayang kulit berbahan baku kulit binatang yang dikenal dan berkembang di masyarakat Kalimantan Selatan. Secara fisik, dibandingkan dengan wayang kulit Jawa, wayang kulit Banjar berukuran lebih kecil, atau lebih mendekati ukuran wayang kulit Bali.

Dari segi musik, ritme gamelan yang mengiringi wayang kulit Banjar cenderung lebih keras dan cepat. Wayang ini juga tidak memiliki waranggana atau perempuan-perempuan yang terlibat dalam pertunjukan dengan menyanyikan lagu atau gending seperti pada wayang kulit Jawa.

Pada umumnya gamelan wayang kulit Banjar terbuat dari besi, tidak seperti gamelan wayang kulit Jawa yang rata-rata menggunakan bahan logam perunggu. Pada tahun 1900, gamelan Banjar mini sudah berkembang, terbuat dari bahan baja dan besi, terdiri dari sarun satu, sarun dua (sarantam), kanung, dan dawu serta agung kecil dan agung besar. Ditambah kangsim gendang atau babun yang terdiri dari babun besar dan kecil.

Babun besar berfungsi untuk mengiringi wayang kulit dan wayang gung, sementara babun kecil sebagai musik selingan mengiringi tembang dan tarian baksa atau topeng.

Penonton wayang kulit di Kalimantan Selatan lebih sering berada di belakang kelir (layar) sehingga yang ditonton adalah bayangan wayang tersebut. Berbeda dengan wayang kulit Jawa yang langsung ditonton dari atas panggung.

Menurut hikayat Banjar, seni wayang sudah mulai tumbuh dan berkembang dikerajaan Negara Dipa dan merupakan jenis kesenian yang biasa dipertunjukkan di kerajaan itu. Berhubungan dengan seni pertunjukan wayang, ada anggapan kalau pada awalnya sebagian masyarakat menjadikan pertunjukan wayang sebagai semacam pertunjukan upacara yang biasa disebut dengan istilah syamanisme. Dan hal ini didukung oleh penelitian yang menyatakan kalau kebanyakan suku-suku di kepulauan nusantara memang memiliki kebiasaan melakukan upacara syaman. Jadi tidak mengherankan kalau pertunjukan wayang suku Banjar menjadi berbentuk kegiatan upacara yang pementasannya diadakan pada malam hari dengan anggapan roh-roh nenek moyang berkelana pada saat itu.

Dalam masyarakat Banjar dikenal beberapa jenis wayang yang dikategorikan berdasarkan niat dari pementasannya. Ada yang disebut Wayang Karasmin, yaitu wayang yang diperuntukkan untuk hiburan atau keramaian. Wayang Tahun yang dipentaskan sebagai tanda ucapan syukur atas berakhirnya musim panen padi.

Wayang Tatamba yang diselenggarakan karena sang dalang berhasil menyembuhkan seseorang dari penyakitnya. Ada juga pertunjukkan wayang kulit Banjar yang berkaitan dengan spiritual yakni Wayang Sampir. Pementasan Wayang Sampir berkaitan dengan hajatan atau nazar. Dalam penyajiannya, dalang bertindak sebagai pemimpin upacara yang memiliki kemampuan mengusir roh-roh jahat yang sering mengganggu ketenteraman manusia.

Kesenian wayang kulit Banjar baru memasukkan warna lokal pada masakerajaan Islam Banjarmasin. Dan hal ini mendapat sambutan yang bagus dari masyarakat Banjar. Sebelum masuknya pengaruh Islam, penyajian wayang kulit masih meniru penyajian dalang Jawa. Cerita wayang kulit Banjar kemudian beradaptasi dan menjadi seni pertunjukan khas, yang memiliki perbedaan dengan wayang kulit Jawa baik dari segi bentuk wayang, lagu gamelan penggiring, atapun cara memainkannya. Wayang kulit Banjar benar-benar mempunyai nilai-nilai krusial dan esensial.

Pertunjukan wayang kulit Banjar menggunakan cerita atau lakon “carang” yang berarti bukan cerita pakam (pakem). Ceritanya bersumber pada cerita Mahabharata, yang dalam perlakonan selalu membawa misi perilaku karakter yang baik dan yang jahat dalam aksi laku simbolik. Sementara teknis penyajian wayang kulit Banjar dalam lakon carangan lebih berfungsi sebagai tontonan.

Dalam pementasannya, wayang kulit Banjar menggunakan bahasa Banjar karena ada kecenderungan hilangnya aspek seni jika menggunakan bahasa Indonesia. [TimIndonesiaExploride/IndonesiaKaya]