Wisata Sungai KALSEL

Wisata Sungai KALSEL

Foto : Tim Indonesia Exploride

Kalau mau menonjolkan keindahan alamnya, mungkin Kalimantan Selatan akan kalah bersaing dengan Bali dan Sumatera Barat. Tapi jika berbicara mengenai wisata sungai, propinsi ini sangat layak dipertimbangkan karena mempunyai daya tarik tersendiri.

Yang paling terkenal memang pasar terapung, bahkan hingga ke mancanegara. Sebenarnya di provinsi ini ada wisata sungai lainnya yang sudah mendapat perhatian wisatawan, apalagi mereka yang menyukai tantangan pemacu adrenalin, yaitu Bamboo Rafting di Sungai Amandit yang terletak di Loksado, sebuah kecamatan yang meliputi beberapa desa seperti Tanuhi dan Malino. Lokasi ini berjarak 165 kilometer dari Banjarmasin atau 40 kilometer dari Kandangan ke arah timur.

Bamboo Rafting oleh penduduk setempat disebut dengan Balanting Paring yang berarti rakit bambu. Bisa dikatakan kalau kegiatan ini sama dengan berarung jeram, tapi dengan menggunakan rakit bambu yang terbuat dari beberapa batang bambu – biasanya berjumlah 16 – yang diikat menjadi satu. Uniknya adalah rakit ini hanya dipakai sekali saja karena setelah sampai di hilir, tidak memungkinkan untuk membawa rakit tersebut kembali ke hulu sungai.

Arung jeram ala Loksado ini menempuh jarak sejuah kira-kira 12 kilometer yang dimulai dari dermaga Loksado dan berakhir di Desa Tanuhi. Dibutuhkan waktu setengah jam untuk menempuh jarak itu melalui jalan darat. Tetapi dengan berarung jeram di atas rakit bambu, bersiaplah menaklukkan aliran sungai yang lumayan deras serta berbatu-batu itu dalam waktu tempuh dua setengah jam.

Jarak sepanjang 12 kilometer itu memang tidak semuanya berarus deras, jadi keahlian joki rakit sangat dibutuhkan untuk mengarahkan rakit agar tidak membentur batu. Di beberapa bagian sungai bahkan ada arus yang sangat kecil dan dangkal yang membuat rakit susah bergerak. Perlu usaha tambahan agar rakit kembali bergerak mengikuti aliran sungai. Di bagian sungai yang seperti ini, para wisatawan berkesempatan untuk menceburkan diri dan berenang atau menikmati pemandangan alam di sepanjang sungai Amandit. Pemandangannya berupa bukit dengan deretan pepohonan yang hijau, sangat alami dan asri. Terlihat juga ladang-ladang penduduk yang ditanami pohon karet dan kayu manis. Beberapa ladang ada juga yang ditanami dengan tanaman hortikultura. Dan tentu saja, pemadangan akan lebih banyak didominasi oleh deretan hutan bambu yang merupakan jenis tanaman yang mudah tumbuh dan tidak memerlukan perawatan khusus.

Kesiapan fisik memang sangat dibutuhkan saat berarung jeram, apalagi yang menggunakan rakit bambu. Dengan arus deras di sungai yang berbatu-batu, rakit bergerak liar menyusuri Sungai Amandit. Menjaga keseimbangan badan mutlak dilakukan kalau tidak ingin tercebur ke sungai. Di beberapa bagian sungai yang berarus deras, rakit bambu bisa bergoyang-goyang tak terkendali seolah ingin menjatuhkan siapapun yang berada di atasnya. Tapi untunglah, setiap rakit dikendalikan oleh seorang joki yang menggunakan sebatang galah bambu untuk mengatur rakit melewati jeram dan bebatuan.

Kegiatan Bamboo Rafting ini sendiri bermula dari kebiasan masyarakat setempat yang menjual batang-batang bambu ke kota. Berhubung minimnya alat transportasi untuk mengangkut bambu-bambu tersebut, mereka memakai akal dengan mengikat bambu-bambu jualannya menjadi satu. Satu ikatan bisa berjumlah 50 sampai 70 batang bambu. Kemudian bambu itu mereka naiki menuju Kota Kandangan.

Dibutuhkan dua hari perjalanan untuk membawa bambu sebanyak itu melalui sungai, sementara perjalanan darat hanya menghabiskan waktu sekitar dua jam. Biasanya mereka sekaligus membawa hasil bumi lainnya yang juga akan dijual di kota. Hasil kebun seperti karet dan kayu manis ditumpuk di atas bambu, dan dibawa saat air Sungai Amandit mengalami pasang sehingga batu-batu sungai tidak terlalu mengganggu perjalanan mereka. Melihat kebiasaan tersebut, wisatawan kemudian banyak yang ingin merasakan serunya bertualang menyusuri sungai Amandit di atas bambu-bambu.

Sekarang sudah banyak fasilitas yang dibangun untuk mendukung jenis wisata ini, dengan tujuan agar wisatawan betah berlama-lama di Loksado. Hotel, pondok-pondok wisata, dan restoran sudah jamak dijumpai. Hal ini membawa nilai positif juga karena petani bambu tidak lagi hanya mengandalkan penghasilan dari berjualan bambu saja, tetapi mendapat uang tambahan dengan menjadi joki Bamboo Rafting.

Untuk menikmati petualangan Bamboo Rafting dari Loksado ke Tanuhi, wisatawan harus membayar Rp 200.000, sementara rute Loksado ke Muara Hatip biayanya sebesar Rp 300.000.  Dan jika tertarik untuk merasakan perjalanan dua hari dari Loksado ke Kandangan melalui sungai, wisatawan harus membayar dengan sistem borongan, dan rute ini hanya tersedia di bulan Desember, saat debit air Sungai Amandit melimpah ruah.

Wisatawan yang membawa kendaraan pribadi, sebaiknya kendaraannya disiapkan untuk menjemput di hilir sungai. Sementara bagi wisatawan yang tidak membawa kendaraan, tidak perlu khawatir karena di Desa Tanuhi terdapat banyak sekali pengojek sepeda motor yang bisa dibayar untuk mengantarkan kembali ke hulu sungai yaitu Dermaga Loksado.

Sebelum mengikuti kegiatan Bamboo Rafting ini, ada baiknya jika terlebih dahulu membungkus telepon sesuler dan dompet dengan plastik. Jika berniat memotret, sebaiknya membawa kamera tahan air. Dan agar perjalanan semakin nyaman, lebih baik ditemani seorang pemandu. [TimIndonesiaExploride/IndonesiaKaya]