' Bottlesmoker Dan Praktik Pengarsipan Musik Etnis - Situs Budaya Indonesia
Artikel Arsip Seni Budaya

Bottlesmoker Dan Praktik Pengarsipan Musik Etnis

Bottlesmoker dan Palmer Keen merekam musik dari beberapa suku di wilayah Indonesia secara modern. Rekaman musik itu dirangkai dalam album mereka yang berjudul Parakosmos. Praktik ini saya lihat bukan hanya sebagai proyek musik biasa, tetapi lebih kepada p

Cover
Beberapa bulan yang lalu saya menyaksikan tayangan di salah satu stasiun TV swasta yang bicara tentang musik di Indonesia. Salah satu kelompok musisi yang membuat saya cukup tertarik adalah Bottlesmoker. Ketertarikan saya muncul ketika album baru yang mereka rilis, Parakosmos, merupakan hasil proses kreatif yang melibatkan praktik pengarsipan musik etnis di beberapa daerah di Indonesia. Bagi saya, apa yang mereka lakukan ini cukup layak untuk diulas sebagai fenomena yang menarik bagi dunia seni (khususnya seni musik, tetapi tetap memiliki relevansi untuk jenis seni yang lain) dan humaniora. Sebelumnya saya akan sedikit mengulas profil Bottlesmoker agar kita sama-sama tahu kelompok musik macam apa yang sedang saya bicarakan. Berdasarkan presskit Bottlesmoker 2017 yang dimuat di www.parakosmos.bottlesmoker.asia, Bottlesmoker merupakan proyek musik yang dibuat oleh Anggung Suherman (Angkuy) dan Ryan Nobie Adzani, dari Bandung, Indonesia. Pada tahun 2005, duo ini telah bekerja pada musik eksperimental di bidang instrumental pop-indietronic elektronik, yang masih jarang dilakukan di Indonesia. Kelompok ini telah melakukan banyak eksperimen dalam pembuatan lagu dengan menggunakan alat musik dan peralatan khusus, sehingga suara yang dihasilkan sangat unik. Sekilas tentang Parakosmos dari Bottlesmoker Berdasarkan deskripsi dari Yes No Wave Music pada 14 Juli 2017 melalui situs resminya, yesnowave.com, dijelaskan bahwa Parakosmos dari Bottlesmoker ini merupakan rilisan pertama dari seri album menyambut ulang tahun Yes No Wave Music kesepuluh dan sekaligus merayakan Netlabel Day yang jatuh pada tanggal 14 Juli 2017. Album ini menceritakan tentang perjalanan seseorang di suatu dunia yang memiliki keharmonisan di antara keberlawanan yang diangkat melalui tema ritual musik dari beberapa daerah di Indonesia. Kata “Parakosmos” diambil dari dua pemaknaan; pertama dari kata Paracosm yang berarti imaginary world dan kedua dari kata Paradoks dan kata Kosmos, berarti semuanya di alam semesta ini memiliki pasangan (berlawanan; hitam putih, perempuan laki-laki, gelap terang dll). Anggung Suherman (Angkuy) dan Ryan Adzani (Nobie) melakukan pendekatan yang berbeda dalam pengerjaan album Parakosmos ini. Mereka bekerja sama dengan Palmer Keen (Aural Archipelago), etnomusikogi Amerika yang melakukan pengarsipan musik etnis di beberapa wilayah Indonesia dengan metode etnografi. Angkuy dan Nobie mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebagai bentuk respon artistik terhadap proyek yang dilakukan Keen. Dari proses kreatif ini setidaknya ada tiga hal penting yang saya tangkap dan akan saya ulas. Pertama adalah parakosmos dengan pemaknaan imaginary worlds. Hal ini akan berangkat dari perspektif psikologi yang pada tahap tertentu akan membawa kita kepada ranah sosial. Kedua adalah parakosmos dengan pemaknaan kondisi keseimbangan yang diusahakan melalui hubungan dua hal yang berlainan (Paradok dan Kosmos). Parakosmos dalam pengetian yang kedua ini, menurut saya, akan membawa kita pada perdebatan estetika Hegelian dan estetika Marxis tentang bentuk dan isi atau dua unsur yang sering dihubungkan secara biner. Ketiga adalah praktik pengarsipan musik etnis sebagai bagian nyata yang bicara tentang transformasi sosial sebagai tugas estetika. Berdasarkan pembacaan yang saya lakukan, masing-masing memiliki hubungan yang menarik untuk diungkap. Parakosmos sebagai Dunia Imajiner Parakosmos merupakan konsep yang berangkat dari studi psikologi yang berhubungan dengan perilaku kreatif manusia. Root dan Bernstein (2009: 599) mengatakan bahwa potensi kreatif di masa kanak-kanak, yang diungkapkan dalam permainan imajinatif, yang paling kompleks merupakan penemuan dari dunia imajiner atau paracosm. Ia bahkan menjadi indikator yang potensial untuk perilaku kreatif secara umum. Rober Silvey adalah orang pertama yang menemukan konsep ini. Temuan tentang dunia imajiner masa kanak-kanak dituliskan dalam karyanya yang berjudul The Development of Imagination, the Private Worlds of Childhood. Studinya diawali pada akhir 1970-an dengan berangkat dari pemasangan iklan di surat kabar Inggris untuk melihat bangunan masyarakat secara umum. Akhirnya ia mengumpulkan lebih dari 50 berkas materi tentang dunia imajiner, yang ia dan kolaborator profesionalnya sebut sebagai paracosm. Setelah kematian Silvey, proyek paracosm ini dilanjutkan oleh Cohen dan MacKeith dengan meletakkannya pada konteks perkembangan psikologis dan kreatif. Secara khusus mereka menyoroti dunia imajiner masa kanak-kanak dengan membangun untuk pertama kalinya apa yang tampak sebagai kompleksitas bentuk dan isi. Mereka membedakan lima kategori yang khas: paracosm berdasarkan fantasi dengan (1) mainan, (2) tempat dan komunitas lokal tertentu, (3) pulau, negara dan masyarakat yang dibayangkan, (4) sistem, dokumen dan bahasa yang dibayangkan, dan (5) dunia yang tidak terstruktur dan indah. Beberapa data mereka tampaknya menunjukkan bahwa seiring bertambahnya usia anak-anak yang menemukan dunia, fokus mereka cenderung beralih dari keintiman pribadi dengan mainan atau keluarga ke interaksi sosial yang lebih besar dengan sistem budaya, ekonomi, dan politik yang semakin abstrak dan mencirikan masyarakat atau visi utopis pada umumnya (Root dan Bernstein, 2009: 604). Poin inti yang dapat diambil sebenarnya adalah dengan mengenali dunia permainan atau dunia imajinatif yang kompleks lainnya, sebagai indikator perilaku kreatif, seseorang atau kelompok dapat merasakan manfaat produktif ketika terjun di berbagai macam disiplin ketika menjadi dewasa. Hal ini nampak dari lima kategori khas yang dirumuskan oleh Cohen dan MacKeith, ketika fantasi pada tahap tertentu akan bekerja di level yang semakin abstrak; tidak melulu dunia imajiner di ranah privat, tetapi juga akan bersinggungan dengan dunia sosial yang lebih abstrak. Namun soal apakah deskripsi paracosm dalam perspektif psikologi di atas memang seperti apa yang dipikirkan oleh Bottlesmoker dalam album Parakosmos atau tidak, saya tidak tahu. Saya hanya berasumsi saja bahwa ketika Bottlesmoker memaknai Parakosmos sebagai imaginary world, saya pikir pemaknaan itu cukup sesuai dengan konsep paracosm yang digagas oleh Silvey, Cohen, dan MacKeith. Setidaknya saya berargumen bahwa dunia imajiner adalah dunia yang penting dalam kehidupan manusia. Ia menjadi modal untuk melakukan perjalanan yang harmonis. Dan karena ia menjadi indikator perilaku kreatif, maka saya rasa ia juga bisa dilihat sebagai bagian dari dimensi estetika. Bentuk dan Isi dalam Perdebatan Estetika Hegelian dan Marxis Pemaknaan kedua atas Parakosmos oleh Bottlesmoker berakar dari dua kata, yakni Paradoks dan Kosmos. Artinya mereka menganggap bahwa keseimbangan dalam kehidupan itu harus melibatkan hubungan antara dua hal yang bertolak belakang. Mungkin pemaknaan ini cukup mengandung logika biner, yang dalam analisis poststrukturalis dianggap terlalu sempit dan menyingkirkan opsi lain selain dua unsur biner tersebut. Tetapi di sini saya tidak akan melakukan dekonstruksi atas pemaknaan Bottlesmoker. Saya justru ingin menghubungkan pemaknaan biner Parakosmos dengan konsep bentuk dan isi dalam perdebatan estetika Hegelian dan estetika Marxis (estetika Marxis akan nampak lebih dominan karena pertimbangan transformasi sosial yang harus dilakukan). Ketika saya mendengarkan lagu-lagu dari album Parakosmos yang masing-masing mengandung musik etnis dari beberapa daerah di Indonesia, saya lantas berpikir demikian: apakah lagu yang dibuat memang mencerminkan identitas etnis yang bersangkutan?; untuk apa mereka melakukan itu jika yang kemudian terjadi justru kemunculan identitas baru yang blur dan lepas dari akarnya? Pikiran saya ini mengingatkan saya terhadap diskusi perihal bentuk dan isi, subjek dan objek, fenomena dan esensi, atau hubungan dialektis lain yang secara khusus merujuk pada estetika Hegelian dan Marxis. Pilihan nada dan tempo yang dibuat oleh Bottlesmoker berposisi sebagai bentuk, dan realitas etnis yang bersangkutan berposisi sebagai isi. Estetika Hegelian beranggapan bahwa bentuk dan isi adalah dua hal yang menjadi kesatuan. Dalam karyanya yang berjudul Encyclopedia yang diterbitkan pada 1827, Hegel membagi tiga periode seni. Ketika mengamati seni dalam hal hubungan di antara Idea dan tampilannya yang terindra, dia menemukan bahwa dalam tahap yang pertama, yang disebutnya sebagai periode simbolis, kedua aspek seni itu belum bergabung: isi masih terlalu abstrak untuk memunculkan bentuknya yang layak. Hal ini merupakan periode yang didominasi oleh masyarakat-masyarakat Timur, sebelum kelahiran budaya klasik. Selama tahap yang kedua, yang disebut oleh Hegel sebagai periode klasik, suatu kesatuan yang aktif antara bentuk dan isi dicapai: interioritas, yang menjadi lebih konkret, dikatakan sebagai membutuhkan eksteriorisasi. Pada tahap yang ketiga, yang mencakup Masa Pertengahan dan masa-masa modern, seni tenggelam dalam samudra Romantisisme. Idea yang tidak terbatas tidak lagi dapat diaktualisasikan kecuali “dalam ketidakterbatasan intuisi, yang mobilitas karakteristiknya menggerus dan meluruhkan setiap bentuk konkret (Arvon, 2010: 44).” Bentuk dan isi, dalam estetika Hegelian dimaknai sebagai keindahan dan kebenaran. Mereka bergagasan bahwa dua hal itu merupakan kesatuan, ketika keindahan menjadi tampilan substansial dari Idea atau kebenaran. Hal ini diserang oleh para pemikir radikal Rusia seperti Belinsky, Chernyshevsky, dan Dobrolyubov melalui kritik sosial. Seperti Belinsky pada tahun 1846 dalam karyanya yang berjudul Views on Literature, ia mengatakan bahwa ‘seni adalah penciptaan ulang terhadap realitas; karena itu perannya bukan untuk mengoreksi atau menghiasi hidup, tetapi untuk memperlihatkan realitas apa adanya.’ Chernyshevsky, khusus tentang kesusasteraan, juga berpendapat bahwa karya seni tidak boleh merupakan suatu ekspresi subjektivitas seniman yang bersangkutan tetapi merupakan instrumen evolusi sosial dan ekonomi. Sementara Dobrolyubov sedikit memberi pendapat yang lebih memberi tempat terhadap seni, bahwa seniman bukan merupakan suatu pelat kamera, yang hanya mencerminkan masa kini: jika dia demikian halnya, karya seni yang bersangkutan akan tidak memiliki hidup atau makna (Arvon, 2010: 45-50). Pandangan dari para kritikus Rusia tersebut, terutama Belinsky dan Chrenyshevsky, cukup memposisikan seni sebagai sesuatu yang berkedudukan lebih rendah dari realitas objektif. Tetapi ada pergeseran yang halus ketika perdebatan itu diarahkan kembali kepada pemikiran Marx dan Engels yang lebih menekankan dialektika daripada materialisme menurut pemikiran Leninisme filosofis. Lagi pula, kita juga harus ingat bahwa salah satu tugas estetika Marxis adalah menjaga seni agar tidak terlalu didominasi oleh kecenderungan naturalisme, ketika isi tercabut dari bentuk. Dengan kata lain, bentuk dan isi harus berhubungan secara dialektis agar kebenaran realitas objektif dapat benar-benar dipahami, meski hasil final tetap menjadi misteri di dimensi utopia. Jika dicermati kembali, pergeseran yang dilakukan estetika Marxis ini seolah memberi patokan seni sesuai dengan periode seni yang kedua, periode klasik, menurut periodisasi versi Hegel. Meski demikian, apa yang diungkapkan oleh Marx melalui karyanya yang berjudul Theses on Feuerbach, bahwa para seniman dan penulis sekedar menafsirkan dunia dengan berbagai cara ketika yang dibutuhkan adalah mentransformasikannya, cukup membuat saya berpikir bahwa kesatuan antara bentuk dan isi atau fenomena dan esensi tidak hanya bersifat dialektis tetapi juga transformatif. Praktik Pengarsipan Musik Etnis sebagai Transformasi Sosial Berdasarkan periodisasi seni yang dilakukan oleh Hegel, saya pikir proses kreatif Bottlesmoker melalui album Parakosmos dapat digolongkan masuk ke dalam periode yang ketiga, yakni Masa Pertengahan dan modern. Alasannya adalah karena musik yang dihasilkan, menurut pandangan saya, telah meluruhkan identitas objektif musik etnis yang diangkat. Pada tahap ini Bottlesmoker telah membuat identitas baru tentang musik etnis yang bersangkutan, karena bersinggungan dengan instrumen serta atribut lain dari Barat. Ia menciptakan bentuk lain dalam merefleksikan musik etnis sebagai isi-nya. Jika estetika Marxis melihat bahwa periode ketiga ini sinonim dengan era kapitalis, yang kontradiksi-kontradiksi internalnya telah menyebabkan hakikat realitas menjadi tidak esensial, saya justru tidak terlalu melihat itu dari apa yang dilakukan Bottlesmoker. Menurut pandangan saya, jika merujuk dari apa yang digagas Marx dalam Thesis on Feuerbach yang sebenarnya lebih menekankan aspek transformatif proses kreatif, Bottlesmoker cukup mengupayakan pembuatan karya yang esensial. Artinya bahwa justru yang transformatif itulah yang lebih menunjukkan aspek esensial. Ketika Bottlesmoker dalam pembuatannya bekerja sama dengan Aural Archipelago, maka ia juga menjadi bagian dari praktik pengarsipan musik etnis di Indonesia. Praktik inilah yang saya lihat sebagai aspek transformatif dari proses kreatif Bottlesmoker. Jika Palmer Keen melakukan dengan metode ilmiah, Bottlesmoker melakukannya dengan metode artistik. Lalu bicara soal akses distribusi, lagu-lagu di album Parakosmos ini dapat dikonsumsi oleh publik secara digital. Hal ini mungkin diputuskan karena pertimbangan moda komunikasi yang sedang berkembang saat ini. Mengapa praktik pengarsipan yang dilakukan Keen dan Bottlesmoker seolah menjadi sangat penting, sampai saya tempatkan sebagai hal transformatif? Karena saya pikir proyek yang mereka kerjakan dapat menjaga atau bahkan membangun memori identitas kolektif dari etnis hingga bangsa ini. Gagasan dari Appadurai mungkin dapat menjadi landasan kuat. Ia (2003: 17, 25) dalam Grossman (2006: 17) mengatakan bahwa arsip yang dilihat sebagai alat aktif dan interaktif untuk membangun identitas berkelanjutan adalah kendaraan penting untuk membangun kapasitas bercita-cita di antara kelompok-kelompok yang membutuhkannya … di antara memori dan keinginan ini mungkin juga merupakan jalan untuk menutup kesenjangan antara pemahaman kita terhadap memori neuro dan memori sosial. Dari deskripsi Appadurai tersebut saya ingin menyampaikan bahwa praktik pengarsipan musik etnis yang dilakukan oleh Bottlesmoker dan Palmer Keen, dapat dilihat sebagai alat aktif dan interaktif untuk membangun identitas berkelanjutan; identitas etnis dari beberapa daerah yang diangkat. Metode artistik menjadi cara lain untuk menghadirkan arsip sebagai bagian dari dunia imajiner yang akan menjadi modal sosial dan kultural masyarakat. Seeger dan Shubha (2004) bahkan menunjukan beberapa bukti empiris terkait peran arsip musik, bahwa rekaman audio dari arsip digunakan dalam kasus pengadilan di Australia dan Afrika Selatan untuk merebut kembali hak kepemilikian dan hak atas tanah. Bukan sekedar hiburan, rekaman audiovisual memungkinkan masyarakat untuk melindungi hak dan kehidupan mereka. Namun saya juga menyadari bahwa masih ada ketidakjelasan yang cukup mengusik ketika bicara soal publik yang mengakses lagu (atau arsip dari Keen) dan relasi kuasa yang beroperasi. Aspek transformatif dari proyek ini mungkin masih dalam tataran potensi, ketika tuntutan penjelasan bukti secara empiris diajukan. Karena saya pikir hal itu, mau tidak mau, akan bersinggungan dengan diskusi tentang relasi kuasa: siapa saja yang bisa menikmati dan memahami lagu di album Parakosmos itu; siapa yang berkuasa mengatur arsip tersebut. Pendekatan poststrukturalis mungkin dapat menjadi paradigma yang tepat untuk mengupas persoalan ini. Pada akhirnya saya ingin mengatakan bahwa apa yang telah dilakukan oleh Bottlesmoker bersama dengan Palmer Keen ini merupakan usaha interpretasi dialektis ketika bicara etnisitas dan intervensi teknologi musik yang muncul dari Barat. Bukan etnosentrisme, melainkan lebih kepada membuat karya yang esensial ketika aspek transformasi sosial dihadirkan melalui pengarsipan musik untuk publik. Referensi Arvon, Henri. 1970. Marxist Esthetics. Cornell University Press. Terjemahan Ikramullah. 2010. Estetika Marxis. Resist Book. Yogyakarta. Grossman, Ruth. 2006. Our Expectations About Archives-Archival Theory Through a Community Informatics Lens. CRACIN Working Paper No. 17. Universitas Toronto. Root-Bernstein M. 2009. Imaginary Worldplay as an Indicator of Creative Giftedness. Dalam Shavinina L.V. (Ed). International Handbook on Giftedness. Springer. Dordrecht. Seeger, Anthony dan Shubha Chaudhuri. 2004. Archives for the Future. Seagull Books. Calcutta. BOTTLESMOKER PARAKOSMOS PRESS. https://www.parakosmos.bottlesmoker.asia/. 7 Januari 2017. Yes No Wave Music. 2017. BOTTLESMOKER “Parakosmos”. http://yesnowave.com/yesno084/. 7 Januari 2017.
0
0
0
0
0
0
0
0
0