Roro Mendut : Kisah Perjuangan Dan Cinta Seorang Wanita

Roro Mendut : Kisah Perjuangan Dan Cinta Seorang Wanita

Liputan Budaya 14 April 2012

Djarum Apresiasi Budaya bekerjasama dengan Banyumili Production, sebuah kelompok sosialita ibukota yang sangat peduli pada eksistensi budaya Indonesia mempersembahkan sebuah pementasan dengan lakon “Roro Mendut”. Sebuah kisah yang terinspirasi dari manuskrip fiksi Jawa Kuno. Karya ini merupakan salah satu bentuk komitmen untuk terus melestarikan dan mempelajari kembali warisan luhur budaya bangsa.

Roro Mendut, seorang gadis cantik dan pintar yang diperankan dengan sangat apik oleh Happy Salma pada pagelaran Drama bertajuk “Roro Mendut, Kisah Kasih Tak Sampai” pada hari Sabtu 14 April 2012 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tak hanya Happy Salma, sederet nama-nama yang sudah tidak asing di dunia hiburan turut meramaikan pagelaran ini, antara lain; Ray Sahetapy, Tio Pakusadewo, Debby Sahertian, dan masih banyak lagi. Konsep artistik produksi ini diarahkan oleh Ida Soeseno, Direktur Artistik yang sudah lama mendalami kesenian tradisional Jawa dan terdaftar oleh MURI (Museum Rekor Indonesia) atas ide-ide inovatifnya yang mengoptimisasi presentasi pertunjukan seni tradisional.

Drama Teatrikal ini mengambil Kisah Roro Mendut yang terpaksa hidup dalam kurungan Tumenggung Wiroguno setelah tanah kelahirannya direbut oleh Kerajaan Mataram dalam sebuah peperangan yang juga merenggut nyawa Ayahnya, Adipati Pragolo. Dalam menghadapi hari-harinya di bawah kurungan Tumenggung Wiroguno, Roro Mendut tidak hanya diam dan pasrah dengan nasibnya namun justru sebaliknya, dengan cerdik ia berjuang untuk keluar dan bergaul dengan masyarakat.

Kecantikan Roro Mendut sangat tersohor sehingga banyak rakyat membicarakan dirinya, termasuk seorang lelaki muda asal daerah Pesantenan, Pronocitro yang menjadi sangat penasaran dan bertekad untuk bisa bertemu dengan Roro Mendut. Rasa penasarannya ini membawa Pronocitro untuk nekat melamar ke kerajaan Mataram sebagai seorang pengurus kuda dan akhirnya ia bisa bertemu dengan Roro Mendut. Jalinan kasih pun terbentuk antara Pronocitro dan Roro Mendut. Akhirnya mereka memutuskan untuk melarikan diri ke Pati.

Namun sayang, niat mereka diketahui oleh Tumenggung Wiroguno. Murka atas perbuatan Pronocitro dan Roro Mendut, Wiroguno mengirimkan pasukan untuk menangkap mereka berdua yang berakhir pada tewasnya Pronocitro di tangan Wiroguno. Sedih melihat kekasihnya mati di tangan Wiroguno, Roro Mendut pun akhirnya nekat melakukan bunuh diri dengan menusuk dirinya dengan keris. Tewasnya Pronocitro dan Roro Mendut menutup Drama pada malam itu dalam atmosfer sedih yang begitu kuat didukung dengan tata cahaya yang apik.

Drama kisah cinta Roro Mendut dan Pronocitro ini memberikan banyak pelajaran moral seperti kesetiaan, keteguhan hati, dan sikap pantang menyerah dari seorang wanita. Usaha Roro Mendut untuk berjuan mendapatkan cinta sejati menunjukkan betapa harta dan tahta bukan merupakan tujuan hidup utama seorang wanita. Terselenggaranya pagelaran ini diharapkan mampu meningkatkan kepedulian dan kecintaan terhadap budaya bangsa sendiri di tengah semakin kuatnya arus westernisasi pada era modern saat ini sehingga kita sebagai rakyat Indonesia tidak akan kehilangan identitas nya sebagai Bangsa Indonesia.

Dengan semakin maraknya kegiatan budaya tentunya dapat semakin meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap kekayaan dan keragaman budaya Indonesia. Mencintai budaya adalah wujud rasa bangga dan cinta kita terhadap Indonesia. Karena yang menyatukan bangsa adalah budaya. Cinta Budaya, Cinta Indonesia.