Drama Musikal Potret Guruku Karya M. Sinar Hadi

Drama Musikal Potret Guruku Karya M. Sinar Hadi

Liputan Budaya 17 Februari 2017
Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat

Neo KSPJ (Komunitas Seniman Pelajar Jakarta) menggelar Pertunjukan Drama Musikal Potret Guruku Karya M. Sinar Hadi, di sutradarai oleh Atien Kisam (seniman Betawi), pada Tanggal 17, 18 dan 19 Februari 2017 bertempat di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

“MENGHITUNG BINTANG, MELIHAT BULAN, MELIHAT MATAHARI, MELIHAT LANGIT BIRU, MELIHAT AWAN BERARAK, MELIHAT GUNUNG MENJULANG...”

Pertunjukan ini bercerita tentang kisah hidup seorang guru dalam potret dunia pendidikan di Indonesia. Lewat seorang guru dibagi kisah pahit getirnya hidup menjadi seorang pendidik. Perbedaan pendapat antar guru, serta mempertahankan idealisme dalam membangun karakter pendidikan di sebuah sekolah. Sosok Pak Umar sebagai seorang guru memberi segalanya kepada murid-muridnya. Waktu yang ia punya, perasaan bahkan segala kebahagiaan ia berikan. Namun, kesedihan demi kesedihan yang ia rasakan tak pernah sekalipun tergurat di senyumnya yang lapang.

Naskah yang terlahir dari tangan seorang pendidik juga sastrawan ini, berusaha memberi gambaran kepada khalayak tentang guru-guru dalam kesehariannya. Dalam penggarapannya naskah ini dibuat menjadi sebuah drama musikal dibalut koreografi dan musik atraktif, serta pemain yang terdiri anak anak sekolah juga para guru yang ikut tergabung di dalam produksi ini.    

M. Sinar Hadi selain sebagai penulis naskah drama, puisi juga media pembelajaran tingkat SMA, beliau memulai bekerja sebagai pendidik sejak tahun 1981. Beliau juga sebagai dosen Kajian Puisi dibeberapa Universitas dan sekolah tinggi. Dari keresahan yang telah ia rasakan selama ia bekerja di dunia pendidikan itu, ada upaya yang ingin ia tunjukan kepada dunia tentang pendidikan kita.

Berangkat dari keresahan-keresahan seorang guru, sekolah tempat Pak Umar mengajar, memperlihatkan bagaimana potret buram pendidikan. Bukan lagi isyarat yang ia berikan, namun, Pak Umar mulai membenahinya satu persatu. Dari upacara yang terkesan dilakukan main-main. Hingga perbedaan pandangan tentang kesejahteraan guru yang terus dituntut kawan-kawannya, sementara, pekerjaan sebagai guru tak mereka lakukan dengan baik. Lalu, kepemimpinan pejabat tinggi sekolah yang otoriter, dalam naskah ini diperankan oleh sosok kepala sekolah yang menyalah-gunakan jabatan. Pak Umar berusaha sebaik mungkin, mengemban sikap luhur guru, seperti slogan tentang pendidik dari tanah jawa, “Guru” digugu dan ditiru. Namun, seperti buah simalakama baginya, apa yang dilakukannya berbalik arah kepada dirinya. Istrinya begitu menuntut segalanya. Perhatian. Baik materil maupun non imateril. Tidak hanya itu, pertunjukan ini juga menyuguhkan tingkah laku murid-murid sekolah. Mulai dari keseharian mereka di sekolah, mulai mengenal kata cinta hingga terlibat dalam perkelahian antarpelajar.

Neo KSPJ kali ini, Disutradarai oleh Atien Kisam. Seorang seniman dari tanah Betawi. Di berbagai kesempatan ia dipilih menjadi sutradara serta koreografer dalam berbagai pementasan, antara lain; acara Memori 40 Tahun Ismail Marzuki (2000), sebagai sutradara di Gebyar Betawi Ngumpul (2004), Pendekar Kelana Merpati Putih (2010), Nyai Dasimah (2012), Si Pitung (2014), Ahmad Djakerta (2014) Hang Tuah (2015), beliau juga aktif di Teater Abang None dengan Pertunjukan Si Doel, Soekmadjaja, Sangkala dan Jawara. Selain itu Atien Kisam juga mengajar dibeberapa sekolah, diantaranya mengisi Muatan Lokal (Mulok) di sejumlah SMP dan SMU. Beliau juga seorang pendiri Budaya Indonesia Dance Company dan kini menjabat sebagai Ketua Seksi Tari di Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) serta aktif mengajar tari di Lab. Tari Balai Rakyat Condet.

Pertunjukan ini juga diramaikan oleh penampilan dari Maudy Koesnaedi yang memerankan tokoh Kepala Sekolah, yang cukup kontroversional dan berbeda dari karakter-karakter yang pernah ia mainkan di pertunjukan nya sebelumnya.